Golkar Sultra mulai bangun konsolidasi persiapan Pemilu 2024

Golkar Sultra mulai bangun konsolidasi persiapan Pemilu 2024

Suasana Rapat Kerja Pimpinan Daerah (Rapimda) DPD I Partai Golkar Provinsi Sultra di Kendari, Senin (14-6-2021). ANTARA/Harianto

Pada Pilpres 2019 ada parpol yang sebelumnya di kelas medioker, tiba-tiba masuk kedua besar karena punya capres sendiri.
Kendari (ANTARA) - Dewan Pimpinan Daerah Partai Golongan Karya (Golkar) Sulawesi Tenggara mulai membangun konsolidasi sebagai persiapan awal menghadapi pemilu serentak pada tahun 2024.

Wakil Ketua Umum Koordinator Divisi (Kordiv) Pemenangan Pemilu DPP Golkar Ahmad Doli Kurnia Tandjung mengatakan bahwa Pemilu 2024 merupakan agenda strategis nasional karena pada tahun yang sama akan ada pemilihan anggota legislatif (pileg), pemilihan presiden (pilpres), dan pemilihan kepala daerah (pilkada).

"Oleh karena itu, Golkar mulai melakukan program konsolidasi dan kaderisasi. Kami menetapkan tema sukses konsolidasi, menang pileg, pilpres, dan pilkada," katanya saat membuka Rapat Kerja Pimpinan Daerah (Rapimda) Partai Golkar Sultra di Kendari, Senin.

Ia menjelaskan bahwa pada Pilkada 2020 Golkar Sultra memenangkan empat dari tujuh calon kepala daerah, atau hampir memenuhi target Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Partai Golkar sebesar 60 persen.

Baca juga: Capres perseorangan masih sebatas mimpi


"Golkar pada Pilkada 2020 punya target 60 persen secara nasional, kami bisa mencapai 61,11 persen. Di Sultra pun begitu hampir mendekati 60 persen. Modal ini harus dikola dengan baik oleh kader," katanya.

Ia menargetkan Partai Golkar pada Pemilu 2024 di provinsi ini menang di 12 daerah dari 17 kabupaten/kota.

Ketua Komisi II DPR RI itu melanjutkan, agenda rakerda dan rapimda di DPD Golkar merupakan kelanjutan dari Rapat Kerja Nasional (Rakernas) DPP Partai Golkar pada bulan Maret lalu.

Selain merancang pemenangan pileg dan pilkada, pihaknya juga telah memutuskan untuk mendorong Ketua Umum (Ketum) Airlangga Hartanto menjadi calon presiden (capres) pada tahun 2024.

"Keputusan itu didasari dengan pertimbangan bahwa parpol yang memperoleh tambahan suara signifikan adalah parpol yang punya capres sendiri. Pada Pilpres 2019 ada parpol yang di pemilu sebelumnya di kelas medioker, tiba-tiba masuk kedua besar karena punya capres sendiri," kata Doli menambahkan.

Baca juga: Titi: Perlu amendemen UUD jika ingin buka peluang capres independen

Pewarta: Muhammad Harianto
Editor: D.Dj. Kliwantoro
COPYRIGHT © ANTARA 2021

Airlangga ajak kader Golkar dukung penanganan COVID-19

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar