Proses berobat dan konsistensi pasien jadi tantangan pengobatan TB

Proses berobat dan konsistensi pasien jadi tantangan pengobatan TB

Ilustrasi tuberculosis (ANTARA/Shutterstock)

Jakarta (ANTARA) - Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Langsung (P2PML) Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, dr Siti Nadia Tarmizi menyebut salah satu tantangan pengobatan Tuberculosis (TB) adalah proses penyembuhan yang memakan waktu lama sehingga memerlukan konsistensi dari pasien.

"Yang menjadi tantangan, pengobatan daripada TB yang membutuhkan waktu 6-9 bulan kemudian meninggalkan kebosanan dan sering putus berobat dan kemudian tidak berobat adalah tantangan yang kita hadapi," kata Nadia dalam webinar Tubercolosis pada Senin.

Kendati demikian, Nadia menjelaskan bahwa TB merupakan penyakit yang bisa disembuhkan, dan proses penyembuhan bisa menjadi lebih mudah jika pasien melakukan terapi obat pencegahan pencegahan selama dua bulan.

Baca juga: Batan dapat izin edar TB SCAN untuk diagnostik penyakit tuberculosis

Baca juga: Haru biru menghadapi tuberkulosis

"Upaya pencegahan ini pun sudah ditemukan metodenya yaitu dengan memberikan terapi obat pencegahan TB selama dua bulan. Orang yang sakit TB jelas memiliki gejala batuk dan kondisi kesehatan yang dirasakan sehingga untuk memulai pengobatan akan lebih mudah," kata Nadia.

Di sisi lain, pemberian terapi TB sebagai upaya pencegahan pada semua kelompok umur baik pada anak atau dewasa dianggap sebagai metode yang sangat tepat. Selain itu, upaya preventif juga diperlukan untuk menjaga seseorang agar tidak menjadi sakit.

"Ini juga merupakan tantangan karena kita akan memberikan obat terapi pencegahan di mana orang tersebut merasa dirinya tidak sakit dan pengobatan ini cukup lama selama dua bulan dan harus meminum obat setiap hari," kata Nadia.

Nadia melanjutkan, "Ini tantangan - tantangan yang menjadi PR kita untuk mencapai cita-cita kita yaitu untuk mencapai ending TB yaitu pada 2030."

Ia kemudian mengatakan, masyarakat harus mewaspadai TB karena Indonesia merupakan negara kedua terbesar dengan kasus TB setelah India. Diperkiraan terdalat 845 ribu untuk kasus TB biasa dan 24 ribu untuk kasus TB resisten yang ada di Indonesia.

"Secara jumlah absolut angka China kurang lebih sama. Tapi yang kita khawatirkan adalah angka kejadian kasus baru. Jadi kalau kita melihat, angka kejadian kasus baru kita saat ini adalah 312 per 100 ribu. Sementara kalau kita melihat China, itu sudah pada angka hampir 70 per 100 ribu penduduk," kata Nadia.

Pemerintah berkomitmen mengeliminasi TB pada 2030 melalui berbagai strategi, seperti penguatan komitmen dan kepemimpinan baik pada pemerintah pusat dan daerah, peningkatan akses layanan TB yang bermutu dan berpihak pada pasien, optimalisasi promosi dan pencegahan, memanfaatkan hasil teknologi, peningkatan peran komunitas, mitra dan multisektor serta peningkatan tata kelola program dalam kaitannya peningkatan sistem kesehatan.

Baca juga: Stigma dan diskriminasi kepada pasien hambat Indonesia bebas TB 2030

Baca juga: Kemenkes: Hanya 24 persen penderita tuberkulosis akses fasyankes

Pewarta: Maria Cicilia
Editor: Alviansyah Pasaribu
COPYRIGHT © ANTARA 2021

Menko PMK ajak waspadai fenomena gunung es penyakit TBC

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar