47 kasus varian baru COVID-19 berasal dari luar negeri

47 kasus varian baru COVID-19 berasal dari luar negeri

Kementerian Kesehatan memublikasikan temuan 145 varian baru COVID-19 di Indonesia. ANTARA/HO-Kemenkes.

Kalau pola ini juga akan terjadi di negara kita maka tentu bebannya akan berat jadinya
Jakarta (ANTARA) - Juru Bicara Vaksinasi COVID-19 Kementerian Kesehatan Siti Nadia Tarmizi mengemukakan 47 dari total 145 kasus varian baru SARS-CoV-2 penyebab COVID-19 yang ditemukan di Indonesia berasal dari luar negeri.

"47 kasus impor dan 98 kasus lokal," katanya melalui pesan singkat kepada ANTARA di Jakarta, Rabu.

Ia mengatakan hingga Minggu (13/6), dari total 1.989 sekuens yang diperiksa, telah dideteksi 145 sekuens Vatiant of Concern (VoC) yang diyakini lebih ganas serta menular lebih cepat hingga memperparah pasien saat jatuh sakit.

Sebanyak 36 kasus terdeteksi di Indonesia sebagai B117 (Alfa), lima kasus B1351 (Beta), dan 104 kasus B1617.2 (Delta).

Saat ini, kasus tersebut menyebar di sejumlah daerah di Indonesia. Jumlah kasus terbanyak berada di Brebes, Cilacap, dan Kudus, Provinsi Jawa Tengah yang terdiri atas 75 kasus varian Delta dan satu kasus varian Alfa.

Selain di Jawa Tengah, kata Siti Nadia, DKI Jakarta juga mendominasi jumlah kasus, masing-masing varian Alfa 24 kasus, Beta empat kasus, dan Delta 20 kasus.

Baca juga: Pemerintah telusuri asal mula kemunculan varian Delta di Indonesia

Secara terpisah, Direktur Penyakit Menular WHO Asia Tenggara periode 2018-2020, Tjandra Yoga Aditama, mengatakan varian Delta memiliki karakteristik penularan yang cepat.

"Di Inggris sudah ada 42.323 kasus varian Delta, naik 70 persen dari pekan sebelumnya, atau naik 29.892 kasus hanya dalam waktu satu pekan saja. Peningkatan yang amat besar," katanya.

Guru Besar Paru Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia itu, mengatakan data terakhir Inggris menunjukkan bahwa lebih dari 90 persen kasus baru COVID-19 di negara tersebut saat ini adalah varian Delta yang menggantikan varian Alfa yang semua dominan di Inggris.

"Kalau pola ini juga akan terjadi di negara kita maka tentu bebannya akan berat jadinya," katanya.

Ia mengatakan varian Delta di Inggris ternyata 60 persen lebih mudah menular daripada Alfa.

"Waktu penggandaannya berkisar antara 4,5 sampai 11,5 hari. Akan baik kalau juga ada data tentang berapa besar penggandaan dari varian Delta yang kini ada di negara kita, termasuk tentunya laporan terakhir dari Kudus ini," katanya.

Baca juga: Kemenkes: 145 kasus varian ganas COVID-19 menyebar di Indonesia
Baca juga: Kemenkes intensifkan vaksinasi di tengah temuan varian baru COVID-19

Pewarta: Andi Firdaus
Editor: M. Hari Atmoko
COPYRIGHT © ANTARA 2021

Wiku: Penularan rendah, COVID-19 sukar bermutasi

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar