Balai Benih Ikan Depok siapkan strategi tangani masa kempes telur

Balai Benih Ikan Depok siapkan strategi tangani masa kempes telur

Kepala UPTD BBI Kota Depok, Nur Hidayat (keempat dari kiri) ketika memberikan bibit ikan konsumsi. (ANTARA/Foto: Feru Lantara)

Dalam setahun BBI menghasilkan sekitar 200 ribu bibit ikan konsumsi untuk disalurkan kepada masyarakat
Depok (ANTARA) - Unit Pelaksana Teknis Dinas (UPTD) Balai Benih Ikan (BBI) Kota Depok Jawa Barat memiliki beberapa langkah strategis untuk menangani masa kempes telur ikan yang biasanya terjadi setiap tahun.

"Biasanya dalam satu tahun, ada masa ikan tidak bisa menghasilkan benih atau sering disebut kempes telur, terutama pada ikan lele dan gurame. Masa ini sering terjadi di Juli hingga Agustus," kata Kepala UPTD BBI Kota Depok, Nur Hidayat di Depok, Rabu.

Ia mengatakan salah satu strategi kita, untuk menghadapi masa kempes telur yaitu dengan mengurangi jumlah benih yang masyarakat minta.

"Upaya lainnya yaitu kami akan memberikan pakan yang memiliki kandungan nutrisi tinggi. Sehingga, diharapkan dapat meningkatkan stamina indukan, untuk bertelur," ujarnya.

Dikatakannya, setiap bulan terdapat satu sampai dua kelompok. Dengan jumlah permintaan sebanyak 1.000 sampai 2.000 benih.

"Ilustrasinya, jika mereka minta 2000 benih, kami hanya bisa memenuhi setengahnya atau 1000 benih. Itu karena kami ingin menjaga populasi dan ketersediaan benih di BBI. Mudah-mudahan masyarakat paham adanya masa kempes telur ini," katanya.

Balai Benih Ikan Depok Jawa Barat selama ini menghasilkan 200 ribu benih ikan per tahun untuk disalurkan kepada masyarakat guna mendukung program ketahanan pangan.

"Dalam setahun BBI menghasilkan sekitar 200 ribu bibit ikan konsumsi untuk disalurkan kepada masyarakat," katanya.

"Selain masyarakat yang membutuhkan, pembagian benih ikan juga ke komunitas, kelompok pembudidaya ikan yang ingin berbudidaya ikan, karang taruna dan lainnya," kata.

Untuk fasilitas di BBI, Hidayat menyebutkan penyediaan kelengkapan didukung APBD yaitu seperti penyediaan Nila dari penangkaran di Sukabumi oleh kementerian perikanan, Nila dari Wanayasa Purwakarta, dan gurame lokal dari daerah Ciseeng Bogor.

"Untuk tempat kita memiliki luas area 2 Hektare dan terdapat 60 kolam yaitu terdiri dari tanah, semi permanen, dan permanen. Untuk kolam tanah buat indukan, dan semi permanen untuk pemisahan," tambahnya.


Baca juga: Balai Benih Ikan Kudus sulit produksi akibat kemarau panjang

Baca juga: Yogyakarta fokus hasilkan ikan hias berkualitas

Baca juga: Menteri KKP berencana bangun balai benih air tawar di Ambon

 

Pewarta: Feru Lantara
Editor: Subagyo
COPYRIGHT © ANTARA 2021

Kemenkes & Pemkot Depok terus pantau penyebaran hepatitis A

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar