Fokuskan ekonomi digital, BRIN tingkatkan kerja sama riset global

Fokuskan ekonomi digital, BRIN tingkatkan kerja sama riset global

Pelaksana Tugas Deputi Bidang Penguatan Riset dan Pengembangan BRIN Ismunandar. (FOTO ANTARA/HO-https://www.brin.go.id)

Kolaborasi riset internasional esensinya adalah merupakan salah satu strategi penting untuk meningkatkan kuantitas dan kualitas output dan outcome dari penelitian
Jakarta (ANTARA) - Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) meningkatkan kerja sama riset global dan akan berfokus pada ekonomi digital, ekonomi hijau dan ekonomi biru.

"Kolaborasi riset internasional esensinya adalah merupakan salah satu strategi penting untuk meningkatkan kuantitas dan kualitas output dan outcome dari penelitian. Di samping itu kita tetap berpedoman pada garis politik luar negeri bebas aktif," kata Pelaksana Tugas Deputi Bidang Penguatan Riset dan Pengembangan BRIN Ismunandar dalam keterangan yang diterima di  Jakarta, Rabu.

Ia mengatakan salah satu dari tiga arahan penting dari target utama BRIN adalah bagaimana BRIN menjadi platform untuk kerja sama global yang inklusif dan kolaboratif.

Sedangkan yang kedua paling penting dari kegiatan riset dan inovasi ke depan yaitu akan difokuskan digital economy, green economy dan blue economy.

Oleh karena itu, BRIN membuka seluas-luasnya kesempatan tersebut kepada seluruh peneliti dari berbagai negara untuk berkolaborasi dengan peneliti Indonesia dengan berpedoman koridor Undang Undang (UU) Nomor 11 Tahun 2019 Tentang Sistem Nasional Ilmu Pengetahuan dan Teknologi.

Berbeda dengan tahun–tahun sebelumnya di mana peneliti asing bisa mendapatkan visa dan izin tinggal untuk melakukan kolaborasi penelitian di Indonesia, namun pada masa pandemi COVID-19 ini, kata dia, terdapat pembatasan mobilitas dari orang asing yang tertuang di Permenkumham Nomor 26 Tahun 2020 tentang visa dan izin tinggal di masa adaptasi baru.

Sementara itu, Analis Keimigrasian Pertama dari Subdit Visa Imigrasi Direktorat Jenderal Imigrasi Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia Wihadi Sutrisno mengatakan dalam Permenkumham Nomor 26 Tahun 2020 yang menyatakan bahwa pemberian visa kunjungan hanya dapat diberikan untuk enam kategori antara lain untuk keperluan darurat dan mendesak, pembicaraan bisnis, pembelian barang, uji coba keahlian bagi calon Tenaga Kerja Asing, tenaga bantuan medis dan pangan dan bergabung dengan alat angkut yang berada di wilayah Indonesia.

"Hanya ada dua kategori yang mendapat visa tinggal terbatas yaitu tenaga asing dalam rangka bekerja dan tidak dalam rangka bekerja yang di antaranya adalah investor, penyatuan keluarga dan wisatawan asing lanjut usia. Artinya untuk kategori lain seperti peneliti asing, mahasiswa asing, jurnalis asing tidak mendapatkan visa tinggal terbatas," katanya.

Demi terus menyelaraskan arah dari target utama BRIN yang ingin menjadi wadah untuk kerja sama global yang inklusif dan kolaboratif dalam masa adaptasi baru ini, menurut Ismunandar, maka dituntut pula penyesuaian metode lain dalam aktifitas kolaborasi riset, misalnya dalam pengambilan sampel yang biasa dilakukan di lapangan.

Namun peneliti asing dapat melakukan metode seperti penelitian jarak jauh (remote research) di mana pengambilan data primernya dilakukan oleh mitra lokal (local counterpart) yang berada di Indonesia sedangkan aktifitas analisis dara dan termasuk sampel dapat dilaksanakan bersama-sama setelah dilakukan pertukaran data (data exchange) sampai dengan tahapan penyusunan laporan hasil penelitian serta penulisan manuskrip publikasi ilmiah.

Beberapa bidang penelitian sangat memungkinkan dilakukan secara remote research, seperti penelitian orang utan, namun tidak bagi penelitian seperti antropologi dengan metode participant observation yang mengharuskan peneliti asing berbaur dengan responden dalam waktu yang relatif lama.

Sebelum melaksanakan itu semua, BRIN mengimbau untuk perlu perhatian lebih terhadap payung hukum yang menaungi kegiatan kolaborasi riset tersebut, agar kontribusi para pihak dan manfaat yang hendak dicapai tertuang di dalam kesepakatan tertulis. Selain itu dalam metode pengolahan sampel, analis data dan keperluan pengiriman sampel atau spesimen riset keluar negeri perlu juga perhatian terhadap dokumen Material Transfer Agreement. Di samping itu, pada prinsipnya perizinan penelitian tetap berpedoman pada UU Nomor 11 Tahun 2019.

Dalam melakukan persetujuan penelitian asing tentunya peran atase menjadi sangat penting karena menjadi ujung tombang yang paling mengetahui para pemohon dari negara masing-masing.

Oleh karenanya, perlu mengoptimasi untuk kemudian membawa dampak multiplier effect dari sektor perizinan peneliti asing untuk mendorong penelitian yang berkualitas membawa dampak yang besar bagi pembangunan Indonesia, demikian Ismunandar.

Baca juga: BRIN: Geodiversitas Karangsambung sebagai platform riset global

Baca juga: BRIN: Perbanyak platform global untuk kerja sama dengan luar negeri

Baca juga: BRIN didorong jadi motor pengungkit ekosistem riset berstandar global

Pewarta: Martha Herlinawati Simanjuntak
Editor: Andi Jauhary
COPYRIGHT © ANTARA 2021

BRIN kaji efektivitas vaksin hadapi varian Mu

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar