Balita gizi buruk asal Agrabinta meninggal di RSUD Cianjur

Balita gizi buruk asal Agrabinta meninggal di RSUD Cianjur

Muhamad Bayu 20 bulan balita penderita gizi buruk warga Desa Tanjungsari, Kecamatan Arabinta, Cianjur, Jawa Barat, akhirnya meninggal dunia setelah sempat menjalani perawatan di RSUD Cianjur, Jumat (18/6/2021). (ANTARA/ist. Ahmad Fikri)

Cianjur (ANTARA) - Balita penderita gizi buruk Muhammad Bayu warga Kecamatan Agrabinta, Cianjur, Jawa Barat, yang menjalani perawatan sejak beberapa pekan terakhir di RSUD Cianjur, meninggal dunia setelah sempat mengalami kritis.

Kasubag Humas RSUD Cianjur Diana Wulandari di Cianjur Jumat, mengatakan Bayu meninggal dunia setelah sempat menjalani perawatan medis selama beberapa pekan, namun kondisinya terus menurun dan sempat kritis hingga meninggal dunia.

"Selang beberapa hari masuk ruang perawatan, balita tersebut harus masuk ruang HCU karena kondisinya terus menurun. Jumat pagi, kondisinya kritis hingga akhirnya meninggal," katanya.

Ia menjelaskan, pihaknya sesuai dengan perintah Bupati dan Wakil Bupati Cianjur, telah berupaya semaksimal mungkin memberikan pelayan kesehatan untuk Bayu, anak keempat pasangan Ahmidin (38) dan Alia (31) agar sembuh seperti balita lainnya.

Baca juga: Kondisi anak alamai gizi buruk di Surabaya membaik

Baca juga: Tekan stunting, Pemkot Jakpus ubah fokus PMTAS di Tanah Abang


"Namun, nasib berkata lain, upaya maksimal yang sudah kita lakukan, tidak membuahkan hasil karena kondisi Bayu terus menurun sejak masuk hingga meninggal dunia," katanya.

Ia menambahkan jenazah Bayu langsung dibawa pulang pihak keluarga untuk dimakamkan di kampung halamannya di Kecamatan Agrabinta.

Pemkab Cianjur menjamin seluruh pembiayaan balita penderita gizi buruk Muhamad Bayu warga Desa Tanjungsari, Kecamatan Arabinta, selama menjalani perawatan di rumah sakit, termasuk biaya untuk keluarga selama mendampinginya.

Wakil Bupati Cianjur, TB Mulyana di Cianjur, mengatakan banyak pasien gizi buruk yang selama ini, terlambat ditangani karena faktor ekonomi dan kurangnya edukasi dari orang tua, ditambah minimnya dana yang dimiliki saat sang anak menjalani perawatan.

"Sehingga banyak orang tua dari balita gizi buruk yang memilih pulang paksa dan memilih menjalani rawat jalan yang tidak maksimal. Untuk kasus Muhamad Bayu, kita akan tanggung seluruh biaya, termasuk uang saku untuk keluarga yang mendampingi selama perawatan," katanya.

Pihaknya mencatat sepanjang tahun 2021, tercatat ada 43 balita yang menderita gizi buruk dan tahun sebelumnya lebih dari 100 orang balita mengalami hal yang sama, sehingga kasus tersebut, menjadi perhatian serius pemerintah daerah.*

Baca juga: Puskesmas optimalkan penanganan gizi buruk balita Baduy

Baca juga: Balita alami gizi kurang di Mukomuko bertambah

Pewarta: Ahmad Fikri
Editor: Erafzon Saptiyulda AS
COPYRIGHT © ANTARA 2021

Menhub resmikan reaktivasi jalur KA Ciranjang-Cipatat

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar