Jakarta (ANTARA News) - "Apa sih rahasia sukses Mark?" adalah pertanyaan yang paling umum dilontarkan para pembaca tulisan sosok CEO Facebook, Mark Zuckerberg, yang dibuat kolumnis The New Yorker, Jose Antonio Vargas.

Setelah itu mereka mengajukan pertanyaan berikut lewat email, Tweeter, pesan Facebook dan chating, "Apa yang akan Mark lalukan dengan semua kekayaannya itu?"

Tampaknya, Mark bakal membuka banyak rahasia hidupnya. Rabu malam pekan lalu, New York Times menurunkan warta bahwa pendiri Facebook itu menyumbangkan 100 juta dolar AS kekayaaannya untuk sekolah-sekolah negeri di Newark, New Jersey.

Jumlah ini setara dengan seperdelapan biaya operasional tahunan perusahaannya, dan itu adalah langkah amalnya yang pertama untuk masyarakat umum.

Masalahnya, pemberian sumbangan itu terasa menarik karena dua alasan berikut.

Pertama, kabar itu tersiar bersamaan dengan publikasi majalah Forbes yang mengumumkan orang-orang terkaya dunia, dan si Mark yang ditaksir memiliki kekayaan 6,1 miliar dolar AS, berada di peringkat 35, di atas raja media Rupert Murdoch dan bos Apple, Steve Jobs.

Alasan kedua, sumbangan itu diumumkan hanya beberapa waktu setelah penayangan perdana film "The Social Network" pada Festival Film New York.

Film dokumenter garapan David Fincher itu adalah biografi tidak resmi, fifktif, dan menghebohkan mengenai hidup Mark Zuckerberg dan tahun-tahun pertama Facebook.

Beberapa jam sebelum penayangan perdana film itu, Zuckerberg yang sering malu menghadapi pers itu tadinya akan tampil pada acara bincang-bincang "The Oprah Winfrey Show" bersama Cory Booker, Walikota Newark yang mengakrabi teknologi dan publisitas.

Zuckerberg mungkin mahir di banyak bidang, tetapi urusan hubungan sosial (humas) nanti dulu.

Andai Zuckerberg dan tim eksekutifnya lebih cermat, "The Social Network" mungkin tidak sampai dibuat.

Seorang tangan kanan Zuckerberg berkata kepada Jose Antonio Vargas bahwa para eksekutif Facebook keliru karena tak mencoba menghentikan proyek (pembuatan film) itu sebelum film tersebut dibuat.

Dalam wawancara Jose Antonio Vargas dengan Zuckerberg untuk majalah New Yorker, Mark kentara terlihat tidak nyaman manakala Jose mengajukan pertanyaan yang menyinggung-nyinggung film itu. Pandangannya seketika tertuju ke bawah, sementara duduknya berubah gelisah.

Jose Antonio mengajukan pertanyaan berikut; "Bagaimana sih perasaan kamu sebagai pemuda berusia 26 tahun melihat satu film yang dibuat oleh orang-orang yang tidak pernah bertemu atau berbicara denganmu, menggambarkan kamu sebagai anak ajaib bin ganjil yang secara sosial gelisah dan tak berperasaan?"

Tapi ada atau tidak "The Social Network", Zuckerberg tetaplah Zuckerberg.

Pada 2008, ketika majalah Forbes pertama kali menyatakan pemuda itu sebagai milyuner termuda di dunia, dia jsutru menyewa apartemen berkamar satu dan tidur di atas matras yang dia gelar di lantai, demikian pengakuan kakak perempuan tertuanya, Randi Zuckerberg.

Randi sendiri bekerja untuk Facebook, dan saat itu tinggal di seberang apartemen di mana Mark tinggal.

"Bukan membela adikku atau sok tahu mengenai apa yang akan dia belanjakan dengan uangnya, aku kira dia akan memberikan bagian terbesar kekayaannya untuk amal," kata sang kakak.

Faktanya kemudian, awal tahun ini, salah seorang karib Zuckerberg berkata kepada Jose Antonio bahwa CEO Facebook itu memintanya mendirikan satu yayasan dan mulai menyumbangkan sebagian kekayaannya atau menunggu setelah beberapa waktu seperti dilakukan Bill Gates.

Sumbangan 100 juta dolar AS kepada (kota) Newark sepertinya adalah langkah awal untuk sebuah yayasan pendidikan yang akan didirikan Zuckerberg.

Pendidikan di Amerika adalah salah satu fokus dari aktivitas yayasan Bill & Melinda Gates Foundation, dan teknologi mengantarkan revolusi pada dunia pendidikan, yaitu tentang bagaimana murid belajar, guru mengajar, dan memaknai konsep kewarganegaraan dalam dunia yang terkoneksi secara global.

Bagi Mark sendiri, sebagai anak kandung dari generasi digital --dia masih duduk di bangku sekolah menengah manakala Google diluncurkan-- jika saja dia mau, maka dia bisa memainkan satu peran besar dalam mereformasi pendidikan di abad 21. (*)

Jose Antonio Vargas/The New Yorker/Jafar Sidik

Penerjemah: Jafar M Sidik
Editor: Jafar M Sidik
Copyright © ANTARA 2010

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.