Spesialis Urologi: Partisipasi pria dalam program KB masih rendah

Spesialis Urologi: Partisipasi pria dalam program KB masih rendah

Tangkapan layar Dokter Spesialis Urologi, Widi Atmoko dalam webinar bertema "Suami Hebat untuk Keluarga Sehat" yang diselenggarakan Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) secara daring di Jakarta, Senin (21/6/2021). ANTARA/ Zubi Mahrofi

Jakarta (ANTARA) - Dokter Spesialis Urologi, Widi Atmoko menyampaikan bahwa partisipasi pria dalam program Keluarga Berencana (KB) masih rendah.

"Capaian pengguna kontrasepsi pria masih rendah, hanya sekitar 7,5 persen dibandingkan wanita," ujar Widi Atmoko dalam webinar bertema "Suami Hebat untuk Keluarga Sehat" yang diselenggarakan Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) secara daring di Jakarta, Senin.

Baca juga: BKKBN berupaya tekan angka putus pemakaian kontrasepsi

Baca juga: Hadiah rp1 juta untuk pasangan tunda kelahiran anak


Berdasarkan data BKKBN 2017 disebutkan bahwa 3,12 persen laki-laki Indonesia menggunakan alat kontrasepsi kondom dan hanya 0,2 persen yang melakukan vasektomi untuk program perencanaan keluarga.

Menurut dia, rendahnya pria yang melakukan vasektomi, salah satunya karena minimnya pengetahuan di masyarakat. "Metode vasektomi untuk KB pria paling rendah, penyebabnya mungkin karena pengetahuan yang kurang dan terbatas," ucapnya.

Ia menjelaskan bahwa vasektomi berbeda dengan kebiri. Secara definisi, vasektomi adalah memotong atau mengikat saluran sperma yang bertujuan menghalangi sperma bercampur dengan semen yang dikeluarkan saat pria melakukan hubungan seksual.

"Vasektomi masih bisa mengeluarkan cairan semen, tapi tanpa keluar sel sperma atau sel benih. Itu yang diharapkan pada tindakan vasektomi, sehingga tetap normal ereksi, ejakulasi, namun cairan semen tidak mengandung sperma," paparnya.

Sementara kebiri, lanjut dia, praktik untuk menekan hasrat seksual, sehingga orang tersebut tak lagi berminat pada hubungan seksual.

Baca juga: Peserta KB lelaki lebih suka pakai kondom

"Kebiri adalah tindakan yang menghilangkan fungsi organ reproduksi dengan mengangkat testis. Kebiri dapat juga dilakukan secara kimiawi dengan beberapa obat yang menekan kerja dari testis, sehingga secara fungsional testis tidak akan bekerja," katanya.

Dalam kesempatan itu, Widi juga menyampaikan bahwa saat ini tindakan vasektomi sudah dapat dilakukan tanpa pisau dengan durasi yang relatif singkat, yakni 10-20 menit.

Setelah tindakan vasektomi, lanjut dia, sel sperma masih berproduksi, namun akan rusak (degradasi) dan mati, serta direabsorbsi kembali oleh tubuh.

Pewarta: Zubi Mahrofi
Editor: Endang Sukarelawati
COPYRIGHT © ANTARA 2021

400 ibu hamil di Batam terima vaksin Sinovac

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar