Teheran (ANTARA News/AFP) - Pasukan Garda Revolusi Iran membunuh 30 pelaku serangan bom mematikan pekan lalu terhadap parade militer di Iran barat, tampaknya dalam penyerbuan lintas batas ke Irak, kata media pemerintah, Senin.

Abdolrasoul Mahmoudabadi, komandan Garda Revolusi di provinsi tempat parade itu dibom, mengatakan, mereka yang tewas mencakup "tentara bayaran" yang bekerja untuk AS, yang disebutnya terlibat dalam pemboman itu, kata situs berita televisi pemerintah.

"Tigapuluh unsur utama serangan teroris di Mahabad tewas" dalam sebuah operasi pada Sabtu, kata Mahmoudabadi.

Serangan bom Rabu pada parade militer di Mahabad menewaskan 12 orang dan melukai sedikitnya 81 lain. Sebagian besar korban adalah wanita dan anak-anak.

"Para teroris ini terdiri dari aparat pemerintah lama Baath (Irak) dan tentara bayaran Amerika," kata Mahmoudabadi tanpa penjelasan lebih lanjut.

Ia menyatakan, pasukan Garda Revolusi dan milisi Basij mengambil bagian dalam operasi penumpasan itu.

"Senjata yang disita dari mereka menunjukkan bahwa badan intelijen AS dan Israel berada di balik (pemboman) itu," katanya.

Mohammad Pakpour, komandan pasukan darat Garda Revolusi, mengisyaratkan bahwa 30 orang tewas dalam penyerbuan lintas-batas di Irak.

"Segera setelah teroris-teroris itu dan kelompok lain kontra-revolusi berkumpul di sebuah daerah di sisi perbatasan (Irak), pasukan Garda melakukan operasi," kata Pakpour.

Mahmoudabadi juga mengatakan, dua dari agen-agen yang terlibat dalam pemboman itu datang ke Iran dari Irak, "maka penting bagi para pejabat kedua negara untuk menyelidiki kasus itu".

Pemboman itu terjadi ketika republik Islam itu sedang memamerkan persenjataannya pada peringatan meletusnya perang Iran-Irak 30 tahun lalu.

Menteri Luar Negeri AS Hillary Clinton mengutuk serangan itu dengan mengatakan, pemboman tersebut "menggarisbawahi pentingnya masyarakat internasional bekerja bersama-sama untuk memerangi terorisme".

Namun, Pakpour menyatakan, Iran meyakini bahwa AS dan Israel berada di balik pemboman tersebut.

Iran barat, yang memiliki penduduk Kurdi dalam jumlah besar, dilanda bentrokan-bentrokan mematikan antara pasukan Iran dan kelompok-kelompok gerilya Kurdi, khususnya Partai Hidup Bebas Kurdistan (PJAK) yang beroperasi dari sejumlah pangkalan di negara tetangga, Irak.

Pemboman itu terjadi ketika Iran sedang memamerkan kekuatan militernya pada parade peringatan perang 1980-1988 dengan Irak yang menewaskan sekitar sejuta orang di kedua pihak.

Rudal-rudal jarak jauh Sejil, Shahab-3 dan Ghadr-1 merupakan bintang perhatian pada parade utama di Teheran, yang disaksikan oleh kepala staf militer Mayor Jendral Hassan Firouzabadi.

Dengan jangkauan 1.800 hingga 2.000 kilometer, rudal-rudal itu secara teoritis mampu mencapai negara musuh sengit Iran, Israel.

Juga ditampilkan pada parade itu adalah lima pesawat pembom tak berawak Iran, Karar (Penyerang), yang diungkapkan keberadaannya pada Agustus dan memiliki daya jangkau 1.000 kilometer.

AS dan Israel menuduh Iran mengupayakan senjata nuklir dan tidak pernah mengesampingkan serangan militer untuk mencegah Teheran memperoleh senjata tersebut. Iran membantah memiliki ambisi semacam itu.

Iran menjadi sorotan dunia karena program nuklirnya yang kontroversial. Negara itu sudah dikenai tiga paket sanksi PBB karena penolakannya untuk menghentikan pengayaan uranium, salah satu dari sejumlah langkah penting untuk membuat energi nuklir bagi kepentingan-kepentingan sipil ataupun militer.

Ketegangan menyangkut program nuklir Iran memuncak setelah mereka menolak perjanjian nuklir yang ditengahi badan atom PBB itu dan juga mengumumkan rencana untuk membangun pabrik pengayaan uranium baru.

AS, Israel dan sejumlah negara Barat menuduh Iran menggunakan program nuklirnya sebagai selubung untuk membuat senjata atom, namun Teheran bersikeras bahwa program nuklirnya hanya untuk kepentingan sipil damai. (M014/K004)

Editor: Kunto Wibisono
Copyright © ANTARA 2010