Produk ecoprint buatan Banyumas tembus pasar luar negeri

Produk ecoprint buatan Banyumas tembus pasar luar negeri

Perajin ecoprint, Riene Zee menunjukkan salah satu kain ecoprint buatannya yang dipajang di Rumah Niaga Banyumas/Galeri Dinperindag, Kantor Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Banyumas, Selasa (22/6/2021). ANTARA/Sumarwoto

Sampai hari ini, alhamdulillah saya sudah ekspor ke Sao Paolo, Brasil. Kemudian ekspor ke Prancis.
Purwokerto (ANTARA) - Produk kain dan kerajinan ecoprint yang diproduksi perajin asal Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, Riene Zee berhasil menembus pasar luar negeri khususnya Brasil dan Prancis.

"Sampai hari ini, alhamdulillah saya sudah ekspor ke Sao Paolo, Brasil. Kemudian ekspor ke Prancis," kata Riene Zee saat ditemui wartawan di sela peresmian Rumah Niaga Banyumas/Galeri Dinperindag, Kantor Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Banyumas, Purwokerto, Banyumas, Selasa.

Ia mengakui orang-orang yang menyukai kerajinan ecoprint buatannya secara kebetulan memiliki dasar pengetahuan seni, bukan sekadar konsumen.

Baca juga: Batik ecoprint akan dikembangkan di Kota Probolinggo

Menurut dia, hal itu disebabkan produk ecoprint buatannya berbeda dengan produk-produk ecoprint yang dibuat perajin lainnya.

"Saya membuat pola, memberikan cita rasa, memberikan seni lebih tajam daripada sekadar jual kain. Jadi kalau orang beli, pasti galau, apakah dibuat baju atau dibegitukan saja, karena semua dibuat penuh konsentrasi, dengan perasaan, layaknya seniman," kata dia yang memiliki latar belakang sebagai perias dan fesyen.

Terkait dengan harga produk kain ecoprint buatannya, Riene mengaku harganya tidak murah karena untuk kualitas ekspor yang terbuat dari sutra ukuran 3x1 meter harga jual paling murah Rp2,5 juta.

Sementara untuk kain ecoprint berbahan katun berkisar Rp450 ribu hingga Rp700 ribu yang tergantung pada jenis katunnya.

"Kebetulan konsumen saya (konsumen dalam negeri, red.) kebanyakan anggota DPR RI. Saya jarang jual di Banyumas karena banyak teman-teman yang lain dan mungkin pangsa pasar yang saya tembak agak berbeda," katanya.

Baca juga: Lima karya seni ISI Yogyakarta dipajang di pameran Shanghai

Dia yang telah menekuni ecoprint selama 1,5 tahun itu mengaku banyak bereksperimen dalam membuat kerajinan tersebut agar berbeda dengan produk yang dibuat perajin lain.

Menurut dia, produk ecoprint tersebut dibuat dengan santai atau tidak terburu-buru serta melibatkan sejumlah anak asuh/binaan.

"Omzet rata-rata dalam satu bulan bisa lebih dari Rp25 juta. Tapi kalau untuk ekspor bisa lebih," katanya.

Riene mengaku sempat berencana untuk mengikuti pameran di Brasil namun akhirnya mengundurkan diri karena terjadi pandemi COVID-19.

"Saya agak seram karena saya komorbid, jadi saya mengundurkan diri. Eh, malah dari Atase Perdagangan di Brasil kontak saya dan mengaku telah melihat produk serta company profile, sehingga mengambil produk saya untuk ditaruh di galeri di sana," katanya.

Rumah Niaga Banyumas/Galeri Dinperindag yang berlokasi di Kantor Dinperindag Kabupaten Banyumas diresmikan oleh Bupati Banyumas Achmad Husein pada Selasa (22/6).

Saat ditemui wartawan, Bupati Husein mengharapkan dengan hadirnya Rumah Niaga Banyumas/Galeri Dinperindag, produk lokal Banyumas bisa menembus pasar nasional maupun internasional.

"Ini (Rumah Niaga Banyumas/Galeri Dinperindag, red.) kan dalam rangka untuk mengembangkan pemasaran produk-produk lokal supaya go nasional dan go internasional," katanya.

Oleh karena itu, kata dia, Pemerintah Kabupaten Banyumas melalui Dinperindag setempat menggandeng MarkPlus dan pedagang besar daring salah satunya Blibli.com agar produk-produk lokal Banyumas benar-benar bisa dikenal di kancah nasional dan internasional.

Pewarta: Sumarwoto
Editor: Nusarina Yuliastuti
COPYRIGHT © ANTARA 2021

Saat injak-injak daun hasilkan kain 'ecoprint' bernilai jual tinggi

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar