BRIN: Tingkatkan riset baterai dan kendaraan listrik untuk kemandirian

BRIN: Tingkatkan riset baterai dan kendaraan listrik untuk kemandirian

Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Laksana Tri Handoko berbicara dalam Webinar Sistem Inovasi Daerah (SIDa), Cikal Bakal Brida?, Jakarta, Kamis (17/06/2021). (ANTARA/Martha Herlinawati Simanjuntak)

Jakarta (ANTARA) - Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mendukung peningkatan riset pengembangan baterai, kendaraan listrik dan model bisnis kendaraan listrik untuk kemandirian Indonesia.

"Indonesia telah mengembangkan kendaraan listrik sejak lama. Kami memutuskan sekarang lebih fokus pada pengembangan kendaraan khusus dan pasar massal sekaligus model bisnis baru," kata Kepala BRIN Laksana Tri Handoko dalam "International Conference on Battery for Renewable Energy and Electric Vehicle 2021" (ICB-REV 2021) di Jakarta, Selasa.

Baca juga: NBRI: kejar penguasaan teknologi baterai untuk kendaraan listrik

Baca juga: Pemerintah ajak Tesla berinvestasi di Indonesia


Handoko menuturkan para peneliti Indonesia mengembangkan baterai untuk peralatan kecil, kemudian berlanjut pada pengembangan untuk kendaraan listrik.

"Teknologi baterai merupakan salah satu teknologi paling canggih yang membutuhkan penelitian rumit dalam jangka waktu yang lama dengan persaingan global yang sangat ketat," ujar Handoko.

Selain pentingnya pembuatan baterai untuk kendaraan listrik, Handoko berharap para peneliti ke depan juga mengembangkan bahan baku alternatif baterai dengan spesifikasi yang unik sebagai penyimpanan energi, misalnya untuk keperluan khusus seperti untuk Base Transceiver Station (BTS).

Kebutuhan itu perlu mendapat perhatian karena banyak BTS yang dibangun di wilayah Indonesia yang membutuhkan daya kecil dengan listrik stabil. "Kami juga mempersiapkan diri untuk menyambut kendaraan listrik berbasis transportasi umum," ujarnya.

Pada acara yang sama, Pendiri National Battery Research Institute (NBRI) sekaligus Presiden Perkumpulan Masyarakat Riset Material-Indonesia (President of Materials Research Society-Indonesia), Evvy Kartini mengatakan kendaraan listrik harus didukung dengan kesiapan infrastruktur, seperti ketersediaan stasiun pengisian daya kendaraan listrik.

"Setelah anda memiliki kendaraan listrik, anda harus memikirkan stasiun pengisian daya. Tetapi, jika pemerintah tidak menyediakan stasiun pengisian di setiap area, agak sulit untuk memiliki kendaraan listrik," ujarnya.

Baca juga: Pemerintah serius dan istimewakan kendaraan listrik

Baca juga: RI siap jadi produsen kendaraan listrik dan industri baterai lithium


Stasiun pengisian daya kendaraan listrik juga menjadi prioritas yang dilakukan pemerintah, sehingga pada saat kendaraan listrik digunakan lebih luas, komponen dan infrastruktur pendukungnya juga siap, termasuk baterai dan stasiun pengisian daya.

Evvy mengatakan baterai kendaraan listrik menjadi komponen dan memegang peranan penting, dan porsinya sekitar 45 persen dari mobil listrik, sehingga harga kendaraan listrik juga akan dipengaruhi oleh baterainya.

"Oleh karena itu, masalah teknologi baterai, kendaraan listrik atau energi terbarukan harus diselesaikan bersama oleh semua institusi," ujar Evvy.

Pewarta: Martha Herlinawati Simanjuntak
Editor: Endang Sukarelawati
COPYRIGHT © ANTARA 2021

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar