DLH Jakarta tangani 497 kg limbah medis pada Januari hingga Mei 2021

DLH Jakarta tangani 497 kg limbah medis pada Januari hingga Mei 2021

Tangkapan layar saat Kepala Seksi Pengelolaan Sampah Dinas Lingkungan Hidup Provinsi DKI Jakarta Rita Ningsih (kiri atas) dan Head of Business Development Waste4Change Banyu Putro (tengah bawah) berfoto bersama dalam acara webinar, Selasa (22/6/2021) (ANTARA/HO-Waste4Change)

Jakarta (ANTARA) - Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta melaporkan bahwa pihaknya menangani 497 kg limbah medis rumah tangga selama periode Januari hingga awal Mei 2021.

"Pada tahun 2021 selama masa Januari sampai dengan awal Mei itu ada sekitar 497 kg limbah medis yang ditangani oleh Dinas Lingkungan Hidup kepada pihak ketiga yang berizin," ujar Kepala Seksi Pengelolaan Sampah Dinas Lingkungan Hidup Provinsi DKI Jakarta, Rita Ningsih, dalam webinar bersama Waste4Change, Selasa.

Sementara pada periode April hingga Desember 2020, kata dia, limbah medis rumah tangga yang ditangani sebanyak 1.538 kg, terdiri dari limbah masker dan sarung tangan.

Rita mengatakan limbah medis tersebut dikelola secara khusus lantaran termasuk dalam kategori B3 (bahan berbahaya dan beracun). Pemprov DKI Jakarta telah menyediakan 42 unit gerobak motor dan lima unit truk boks untuk mengangkut limbah B3 di lima wilayah kota.

Baca juga: Seniman Brazil sulap kantong "kresek" jadi lukisan

Selain itu terdapat 51 TPS (tempat pembuangan sampah) atau depo pengumpulan limbah medis di enam wilayah kota dan kabupaten.

"Kemudian Dinas lingkungan hidup bekerjasama dengan pihak ketiga berizin dalam pemusnahan limbah B3 medis dan pastinya SOP (prosedur operasi standar) sudah dibuat," kata Rita.

Lebih lanjut Rita menjelaskan mengenai alur penanganan pengelolaan limbah B3 oleh Dinas Lingkungan Hidup. Awalnya, limbah B3 yang telah dipilah oleh warga diangkut oleh petugas gerobak menuju TPS limbah B3 skala kecamatan, lalu dikirim ke TPS limbah B3 skala kota.

"Selanjutnya dikirim ke pihak ketiga yang nanti akan mengambil atau pihak ketiga yang berizin yang didapatkan dari pemerintah pusat, karena penanganan B3 itu adalah khusus jadi tidak bisa dilakukan oleh masyarakat sendiri," ucap Rita.

Baca juga: Gaya hidup minim sampah dimulai dari memilah sampah

Dalam kesempatan itu, Rita juga menyampaikan bahwa DLH DKI Jakarta juga melayani penjemputan limbah elektronik dari masyarakat di lima wilayah kota.

Selain itu, untuk memudahkan warga, DLH juga menempatkan drop box E-Waste di 27 titik lokasi. Untuk pengelolaan sampah kawasan, DKI Jakarta juga mendorong kolaborasi antara pelaku usaha dengan penyedia jasa pengelolaan sampah yang terdaftar resmi.

Sementara itu, Head of Business Development Waste4Change Banyu Putro menyampaikan apresiasi terhadap inisiatif pengelolaan sampah di DKI Jakarta.

“Ini sejalan dengan strategi Waste4Change yang ingin mendorong perubahan ekosistem pengelolaan sampah yang bertanggung jawab dengan berlandaskan kolaborasi dan teknologi menuju penerapan circular economy dan untuk mewujudkan Indonesia Bebas Sampah,” kata Banyu.

Banyu menilai dalam pengelolaan sampah perkotaan, diperlukan kerja sama yang kuat antara pemerintah dan swasta untuk menciptakan inovasi pengelolaan sampah.

“Waste4Change terbuka untuk berkolaborasi dengan para pelaku usaha untuk membangun dan mengembangkan fasilitas persampahan," ucap Banyu.

"Kami juga terus mendorong pengembangan Bank Sampah dan TPS 3R melalui program pelatihan untuk meningkatkan kapasitas pengelola sampah, didukung oleh tenaga ahli waste management terbaik,” tambah dia.

Baca juga: KLHK larang pembuangan limbah medis di TPA sampah rumah tangga

Baca juga: Peneliti peringatkan sampah APD dapat berdampak pada lingkungan

Pewarta: Fathur Rochman
Editor: Suryanto
COPYRIGHT © ANTARA 2021

Pakar sebut sosialisasi kewajiban uji emisi perlu diperpanjang

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar