Dolar sedikit menguat ketika perdebatan Fed tentang inflasi berlanjut

Dolar sedikit menguat ketika perdebatan Fed tentang inflasi berlanjut

Mata uang dolar AS. ANTARA/HO-perdagangan kurs valuta asing

New York (ANTARA) - Dolar sedikit lebih tinggi pada akhir perdagangan Rabu (Kamis pagi WIB), karena dua pejabat Federal Reserve mengatakan bahwa periode inflasi tinggi di Amerika Serikat dapat bertahan lebih lama dari yang diperkirakan, sehari setelah Ketua Fed Jerome Powell mengesampingkan tekanan harga yang meningkat.

Presiden Fed Atlanta, Raphael Bostic mengatakan dengan pertumbuhan melonjak menjadi sekitar 7,0 persen tahun ini dan inflasi jauh di atas target Fed 2,0 persen, dia sekarang memperkirakan suku bunga perlu naik pada akhir 2022.

Baik Bostic maupun Gubernur Fed Michelle Bowman pada Rabu (23/6/2021) mengatakan bahwa sementara mereka sebagian besar setuju bahwa kenaikan harga baru-baru ini akan terbukti sementara, mereka juga merasa mungkin perlu waktu lebih lama dari yang diperkirakan untuk memudar.

Dolar melonjak setelah The Fed mengejutkan pasar pada 16 Juni dengan mengatakan bahwa pembuat kebijakan memperkirakan dua kenaikan suku bunga pada 2023.

Tetapi Powell pada Selasa (22/6/2021) mengatakan bahwa harga naik karena "badai sempurna" dari meningkatnya permintaan barang dan jasa dan hambatan dalam memasoknya ketika ekonomi dibuka kembali dari pandemi dan bahwa tekanan harga itu akan mereda dengan sendirinya.

“Keuntungan dolar telah memudar setelah Powell mengesampingkan inflasi yang lebih tinggi yang berlangsung sangat lama,” kata Joe Manimbo, analis pasar senior, di Western Union Business Solutions di Washington.

"Jika kita melihat tanda-tanda inflasi terdorong lebih tinggi lagi, saya pikir itu bisa menimbulkan kegelisahan inflasi lagi dan menempatkan fokus pada kebijakan Fed," kata Manimbo.

Indeks dolar yang mengukur greenback terhadap enam mata uang utama lainnya naik 0,06 persen menjadi 91,798, tetapi bertahan di bawah tertinggi dua bulan di 92,408 yang dicapai pada Jumat (18/6/2021).

Dolar melemah pada awal perdagangan Rabu (23/6/2021) dan mencapai sesi terendah setelah data menunjukkan bahwa penjualan rumah keluarga tunggal baru di AS turun ke level terendah satu tahun pada Mei, karena harga rata-rata rumah yang baru dibangun melonjak di tengah bahan baku yang mahal, termasuk kayu rangka.

Data lain menunjukkan bahwa ukuran aktivitas pabrik AS naik ke rekor tertinggi pada Juni.

Data inflasi harga produsen pada Jumat (25/6/2021) adalah fokus ekonomi AS minggu ini, dengan rilis lainnya termasuk klaim pengangguran pada Kamis (24/6/2021) dan belanja konsumen pada Jumat (25/6/2021).

Baca juga: Saham China ditutup naik, ditopang kebijakan Fed soal suku bunga
Baca juga: Wall Street menguat, indeks Nasdaq berakhir di rekor tertinggi


Euro turun 0,11 menjadi 1,1929 dolar AS.

Data pada Rabu (23/6/2021) menunjukkan bahwa pertumbuhan bisnis zona euro berakselerasi pada laju tercepat dalam 15 tahun pada Juni setelah pelonggaran lebih banyak tindakan penguncian.

Yen Jepang juga jatuh setelah data menunjukkan aktivitas pabrik berkembang pada laju paling lambat dalam empat bulan pada Juni.

Dolar naik 0,29 persen menjadi 110,66 yen, setelah sebelumnya mencapai 111,10 yen, tertinggi sejak Maret 2020.

Mata uang yang berkorelasi dengan siklus ekonomi global, termasuk dolar Kiwi dan krona Norwegia, berkinerja lebih baik pada Rabu (23/6/2021).

Sementara itu, Bitcoin naik sekitar 2,78 persen pada Rabu (23/6/2021) di 33.467 dolar AS, setelah turun ke level 28.600 dolar AS sehari sebelumnya - terendah sejak Januari.

Baca juga: Yuan kian terpuruk, turun lagi 8 basis poin jadi 6,4621 per dolar AS
Baca juga: Dolar melemah ketika Powell tidak naikkan suku bunga terlalu cepat

Pewarta: Apep Suhendar
Editor: Budhi Santoso
COPYRIGHT © ANTARA 2021

Menguatnya kurs dolar tak pengaruhi daya beli masyarakat

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar