HIMKI: Industri mebel dan kerajinan tetap tumbuh, ekspor naik

HIMKI: Industri mebel dan kerajinan tetap tumbuh, ekspor naik

Ketua Presidium Himpunan Industri Mebel dan Kerajinan Indonesia (HIMKI) Abdul Sobur. ANTARA/HO-HIMKI

Sepanjang Januari-April 2021, ekspor mebel RI ke dunia meningkat 39,5 persen menjadi 853,9 juta dolar AS dibandingkan periode sama tahun sebelumnya
Jakarta (ANTARA) - Himpunan Industri Mebel dan Kerajinan Indonesia (HIMKI) menyebutkan industri mebel dan kerajinan tetap mengalami pertumbuhan di tengah pandemi COVID-19 yang masih melanda negara di dunia.

"Kami yang tergabung dalam HIMKI merasa bersyukur bahwa di tengah situasi pandemi COVID-19, industri mebel dan kerajinan lebih beruntung dari kebanyakan industri sejenis yang memproduksi barang kebutuhan sekunder lainnya. Industri ini mengalami pertumbuhan di masa pandemi ini," kata Ketua Presidium HIMKI Abdul Sobur lewat keterangannya di Jakarta, Senin.

Berdasarkan "The Business Research Company", pasar mebel global diperkirakan akan tumbuh 18 persen menjadi 671,7 miliar dolar AS pada 2021 dibandingkan 564,7 miliar dolar AS pada 2020.

Selain itu, pasar dari industri tersebut juga diperkirakan akan mencapai 850,8 miliar dolar AS pada 2025 dengan tingkat pertumbuhan tahunan majemuk atau compound annual growth rate (CAGR) sebesar 6 persen.

"Pertumbuhan yang terjadi di pasar global tidak terlepas dari permintaan Amerika Serikat yang cukup besar," ujar Sobur.

Baca juga: Industri mebel dan kerajinan disebut hasilkan devisa di saat pandemi

Ia menyampaikan, yang menyebabkan penjualan di pasar Amerika Serikat sangat besar adalah program bekerja dari rumah atau work from home (WFH), yang aturan itu sangat ditaati dan didukung oleh infrastruktur yang mumpuni sehingga WFH dilakukan dengan baik.

Selain itu, lanjut Sobur, ada dua faktor penting yang menjadikan pasar AS kembali pulih dengan cepat, antara lain disebabkan oleh pasokan dari Tiongkok berkurang akibat perang dagang, di mana hal itu pengaruh besar.

Sebagai gambaran, pada 2019, ekspor Tiongkok ke Amerika Serikat tercatat 38 miliar dolar AS dan pada 2020 hanya 9,5 miliar dolar AS, yang artinya terdapat 24 miliar dolar AS pasar yang ditinggalkan Tiongkok akibat perang dagang.

"Situasi ini dimanfaatkan dengan baik oleh Vietnam dan itu yang menyebabkan ekspor Vietnam ke Amerika Serikat tumbuh pesat," tukas Sobur.

Namun, Sobur menambahkan bahwa sehebat apapun Vietnam, pasti juga ada keterbatasan, yang terbukti bahwa untuk pengiriman barang ke AS saat ini, Vietnam membutuhkan waktu (lead time/delivery time) hingga 150 hari.

Menurut Sobur, Vietnam saat ini bisa dibilang sudah sudah dalam kapasitas penuh, sehingga situasi tersebut dapat dimanfaatkan oleh Indonesia.

Sepanjang Januari-April 2021, ekspor mebel RI ke dunia meningkat 39,5 persen menjadi 853,9 juta dolar AS dibandingkan periode sama tahun sebelumnya.

"Sehingga, apabila pertumbuhan tersebut dapat dipertahankan dan bahkan ditingkatkan, maka diharapkan pada 2021, ekspor RI bisa mencapai 2,75 miliar dolar AS hingga 3 miliar dolar AS," pungkas Sobur.

Baca juga: Industri mebel dan kerajinan keluhkan kelangkaan bahan baku rotan
Baca juga: Asosiasi: Impor barang pengadaan proyek pemerintah harus diawasi ketat

 

Pewarta: Sella Panduarsa Gareta
Editor: Kelik Dewanto
COPYRIGHT © ANTARA 2021

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar