Laporan dari China

Varian Delta tak butuh karantina lama, harus lebih sering tes

Varian Delta tak butuh karantina lama, harus lebih sering tes

Ilustrasi - Dokter memegang tabung tes darah berlabel Covid-19 Varian DELTA, dengan sampel darah positif untuk varian baru yang terdeteksi dari jenis virus corona yang disebut DELTA. ANTARA/Shutterstock/pri.

Justru yang efektif adalah meningkatkan frekuensi tesnya
Beijing (ANTARA) - Masa inkubasi COVID-19 varian Delta tidak sepanjang varian-varian sebelumnya sehingga bentuk pencegahannya tidak memerlukan karantina dalam waktu yang lebih lama, namun harus lebih sering tes, demikian pernyataan pakar epidemiologi terkemuka di China Prof Zhong Nanshan.

Dalam opininya yang dimuat sejumlah media di China, Senin (28/6), Zhong juga mengatakan bahwa ada perbedaan definisi "kontak dekat" antara COVID-19 varian sebelumnya dengan varian Delta.

Jika varian sebelumnya, "kontak dekat" merujuk pada orang yang tinggal bersama dalam kantor yang sama, keluarga, ruang pertemuan atau makan bersama dalam jarak 1 meter.

Baca juga: 17 Kasus baru COVID-19 muncul di China
Baca juga: Pakar China: penyelidikan asal-usul COVID-19 harus beralih ke AS


"Namun 'kontak dekat' dalam definisi baru (varian Delta) adalah merujuk pada orang yang tinggal di satu ruang/perusahaan/gedung, juga bersama orang yang terinfeksi empat hari sebelum mengalami gejala penyakit," ujar profesor yang pertama kali berpendapat masa inkubasi COVID-19 selama 14 hari itu.

Menjawab pertanyaan mengenai masa karantina bagi para pengguna penerbangan internasional yang memasuki wilayah daratan China, Zhong menjawab tidak memerlukan waktu lebih lama seperti varian sebelumnya.

"Oleh karena secara umum masa inkubasinya tidak lebih panjang, maka masa karantina juga tidak perlu lama. Justru yang efektif adalah meningkatkan frekuensi tesnya," ujar Direktur Pusat Penelitian Klinik Medis Penyakit Pernapasan Menular Nasional China itu.

Pendapat Zhong tersebut berdasarkan penelitian atas ditemukannya beberapa kasus varian Delta di Provinsi Guangdong, wilayah selatan China yang menerima kedatangan 90 persen pengguna penerbangan internasional. 

Baca juga: Antibodi dari vaksin COVID China kurang efektif melawan varian Delta
Baca juga: Studi: Kasus COVID-19 pertama bisa saja muncul di China Oktober 2019

Pewarta: M. Irfan Ilmie
Editor: Mulyo Sunyoto
COPYRIGHT © ANTARA 2021

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar