Orangtua boleh curhat, tapi jangan jadikan anak "tong sampah"

Orangtua boleh curhat, tapi jangan jadikan anak "tong sampah"

(foto ilustrasi) (foto ilustrasi/)

Jakarta (ANTARA) - Mengasuh anak bukan hal mudah, apalagi di tengah pandemi COVID-19 yang menantang kesehatan mental orang-orang di dunia. Namun pengasuhan anak yang tepat bisa membantu orangtua membantu keluarga melewati situasi yang serba tidak pasti seperti sekarang.

Dokter spesialis kedokteran jiwa konsultan psikiatri anak dan remaja RS Pondok Indah – Bintaro Jaya, Anggia Hapsari, menegaskan hal pertama yang harus dilakukan orangtua adalah menjaga agar dirinya bisa melewati masa-masa berat ini sebelum membantu buah hati menjalani pandemi.

Emosi orangtua harus stabil terlebih dahulu sebelum bisa mengasuh anak dengan baik. Prinsip pertama adalah menjaga suasana hati orangtua. Tentunya ada keluh kesah yang dirasakan, orangtua juga boleh membicarakannya kepada anak, tapi jangan kebablasan.

"Jangan jadikan anak 'tong sampah' orang dewasa," katanya dalam webinar kesehatan, Selasa.

Baca juga: Bangun pagi baik untuk kesehatan mental

Pahami bahwa anak juga punya batasan dan jangan sampai curahan hati orang tua justru membebani dan membuat kesehatan mental mereka jadi terganggu.

Hal lain yang bisa dilakukan orangtua selama masa anak belajar di rumah adalah memanfaatkan kesempatan untuk mendekatkan diri dengan anak. Jika dulu orangtua baru bisa bertemu selepas kerja, atau berinteraksi secara intensif hanya pada akhir pekan, jadikan momen di rumah saja sebagai ajang mengenal lebih dekat dan menjalin keakraban.

Manfaatkan waktu luang secara kreatif dan eksplorasi terus kecerdasan anak meski tak pergi ke luar rumah. Coba bantu anak membuat manajemen waktu dan rencana kegiatan agar tetap punya rutinitas, hal yang penting untuk dijaga di tengah situasi serba tak pasti. Anda juga tak harus melakukannya sendirian. Bangun komunikasi dengan orangtua lain dan guru, seperti membuat pertemuan virtual agar anak bisa bersosialisasi dengan teman-temannya secara aman.

"Ciptakanlah kebiasaan seperti sebelum COVID-19," jelas dia.

Hal yang tak terelakkan saat pandemi adalah pemakaian gawai yang meningkat, sebab aktivitas seperti sekolah dan bekerja kini dilakukan secara daring. Tapi jangan biarkan hal itu membuat aturan soal gawai jadi buyar di rumah Anda.

"Kalau dulu ada jadwal untuk main gawai, buatlah kebiasaan yang sama supaya anak tidak terbuai dengan konten-konten negatif," katanya.

Dunia maya tak sepenuhnya negatif, sebab bila digunakan secara positif, justru teknologi bisa mengasah kreativitas anak. Jadikan pandemi sebagai masa menempa kreativitas dan kecakapan anak, seperti mengajarkan dia cara membuat vlog yang kini semakin marak.

Baca juga: Gangguan mental saat pandemi bisa dorong anak sakiti diri sendiri

Baca juga: Waspadai gejala gangguan kesehatan mental pada anak akibat pandemi

Baca juga: Hoaks dan pengaruhnya terhadap psikologis

Pewarta: Nanien Yuniar
Editor: Maria Rosari Dwi Putri
COPYRIGHT © ANTARA 2021

Psikolog: Bersosialisasi kunci utama jaga mental

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar