Artikel

Euforia Inggris dan peluang juara Three Lions

Oleh Jafar M Sidik

Euforia Inggris dan peluang juara Three Lions

Kapten timnas Inggris Harry Kane (tengah) bersama striker Raheem Sterling (kiri) dan gelandang Jack Grealish setelah pertandingan 16 Besar EURO 2020 melawan Jerman di Stadion Wembley, London, 29 Juni 2021. Ketiga pemain ini menjadi faktor paling instrumental dalam kemenangan 2-0 melawan Jerman itu. ANTARA/AFP/Andy Rain/aa.

Statistik pertemuan Inggris dengan ketiga tim itu juga mengunggulkan Inggris. Jadi tak berlebihan kalau Mourinho mengatakan pemenang Inggris vs Jerman akan melangkah ke final.
Jakarta (ANTARA) - Media massa dan masyarakat Inggris terus membahas kemenangan bersejarah timnas mereka atas Jerman dalam 16 besar Piala Eropa 2020.

"Saya teringat luka 1996 saat masih berusia 12 tahun dan harus pergi ke sekolah keesokan harinya,” kata Terence Michael Anthony, akuntan di London yang kini berusia 37 tahun. "Saya berdoa kami bisa membalasnya, tapi baru 25 tahun kemudian terwujud."

Adalah peristiwa Rabu 26 Juni 1996 yang dimaksudkan Anthony. Itu saat Inggris bertarung melawan Jerman di bumi sendiri, di stadion kebanggaan sendiri di Wembley, dalam semifinal Euro 96.

Alan Shearer membawa Inggris unggul 1-0 pada menit ketiga, tetapi 13 menit kemudian Stefan Kuntz menyamakan kedudukan. Posisi 1-1 tak berubah meskipun bola sudah disepak selama 120 menit.

Masuklah adu penalti. Lima penendang pertama Inggris dan Jerman sukses memasukkan bola, pun dengan Andreas Moller si penendang keenam Jerman. Tetapi giliran penendang keenam Inggris, Gareth Southgate, yang kini melatih Three Lions, kiper Andreas Kopke menepis tendangannya.

Inggris pun meraung dalam sedih dan nestapa. Impian mencapai final pertama Euro yang bisa menjadi jalan untuk trofi Euro pun sirna seketika. Lebih mengenaskan lagi, semua itu terjadi di tempat keramat di Stadion Wembley.

Sakit tiada terperi itu membekas lama, bukan hanya dalam diri Southagate, tetapi juga seluruh Inggris, termasuk Terence Michael Anthony itu.

Namun, manakala Raheem Sterling menjebol gawang Jerman pada menit ke-75 dalam 16 besar Euro 2020 yang juga digelar di Wembley, Selasa 29 Juni, emosi bahagia tumpah ke seisi stadion. Puas dan lega luar biasa itu kian menghebat tatkala Harry Kane menggandakan kedudukan pada menit ke-86.

"Rasanya emosi yang terpendam selama seperempat abad tumpah ruah di tribun ini," sambung si akuntan Terence Michael Anthony kepada Assosiated Press.

Ya, mengalahkan Jerman, apalagi dengan menjaga gawang sendiri tak kebobolan, bagaikan terbebas dari kutukan. Jerman yang tak saja seteru sejati Inggris di lapangan hijau tapi juga di pelataran politik, budaya dan ekonomi dari zaman ke zaman itu, sudah sering menghambat Inggris baik dalam Piala Eropa maupun Piala Dunia.

Kejayaan terbesar yang masih diingat Inggris hingga kini adalah menaklukkan Jerman 4-2 pada final Piala Dunia 1966. Tapi empat tahun kemudian Jerman membalas 3-1 dalam Piala Dunia 1970. Dua puluh tahun kemudian mereka bertemu lagi dalam semifinal Piala Dunia 1990, dan Inggris kalah adu penalti 4-3.

Luka kian menganga manakala Southgate gagal membalaskan kalah adu tendangan 12 pas itu, dalam semifinal Euro 1996. Dan meskipun dalam Euro 2000 Inggris menghindari kekalahan dari Jerman pada fase grup, dendam kesumat tak pernah surut.

Baca juga: Southgate bilang atmosfer Wembley suntik energi Inggris atasi Jerman
Baca juga: Toni Kroos akui gol Sterling ubah jalannya laga Inggris vs Jerman


Selanjutnya: gerbang optimisme menjadi juara
 

Oleh Jafar M Sidik
Editor: Dadan Ramdani
COPYRIGHT © ANTARA 2021

Cegah COVID-19, nobar Piala Eropa dilarang

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar