Jakarta (ANTARA News) - Selain soal pemondokan dan terlambatnya maskapai, Tim Pengawas Haji DPR RI gelombang kedua menemukan adanya kelemahan kontrol kesehatan terhadap jamaah haji. Lemahnya pengawasan ini disinyalir sebagai penyebab stressnya 78 jemaah haji Indonesia yang sudah tiba di Makkah.

"Harusnya dokter-dokter di Puskesmas atau Rumah Sakit rujukan haji sudah mempunyai catatan medis calon jemaah haji, sehingga bila terjadi indikasi kesehatan jiwa maka bisa dibatalkan keberangkatannya," kata Wakil Ketua Komisi VIII Ahmad Zainuddin melalui emailnya kepada pers di Jakarta, Senin.

Ahmad Zainuddin bersama sejumlah anggota Komisi VIII DPR lainnya yang tergabung dalam tim pengawas haji DPR menyempatkan meninjau Balai Pengobatan Haji Indonesia di Makkah. Dari pengamatan langsung di Balai Pengobatan Haji itu ditemukan sebanyak 78 jamaah haji yang sebagian besar wanita mengalami gejala stress dan gangguan kejiwaan.

Hal itu terlihat, misalnya, ada pasien wanita yang tersenyum sendiri. Bahkan ada pasien yang berdiri di kasur dengan baju pendek. Menurut dokter yang merawat, gejala kejiwaan yang dialami calon jamaah haji tersebut sudah ada terindikasi sebelum diberangkatkan di tanah suci.

"Jika calon jemaah haji mengalami gangguan jiwa, maka secara hukum agama Islam kewajiban menunaikan haji menjadi gugur," tambah Ahmad Zainuddin.

Ada juga calon jamaah haji Indonesia, lanjut Zainuddin, yang menjadi pasien dan ditempatkan di ruang isolasi khusus karena masih berontak dan menyerang orang lain. Saat ini, Balai Pengobatan Haji Indonesia di Makkah hanya memiliki tiga orang Psikiater untuk menangani calon jemaah haji yang mengalami gangguan jiwa.

"Perlu ada perhatian khusus soal kesehatan calon haji pada tahun yang akan datang. DPR akan mengevaluasi kejadian ini," kata Zainuddin sebelum berangkat wukuf di `Arafah.
(ANT/B010)

Editor: Bambang
Copyright © ANTARA 2010