counter

PPIH Pantau Ketat Kesehatan Jamaah Haji

PPIH Pantau Ketat Kesehatan Jamaah Haji

Sejumlah jemaah haji yang tergabung dalam kelompok terbang (kloter I) melakukan sujud syukur saat tiba di Bandara Polonia Medan, Sumut, Minggu (21/11). (ANTARA/Septianda Perdana)

Boyolali (ANTARA News) - Panitia Penyelenggara Ibadah Haji Debarkasi Surakarta, akan memantau secara ketat kondisi kesehatan jamaah haji asal Jawa Tengah, Daerah Istimewa Yogyakarta, dan Kalimantan Tengah, yang dijadwalkan tiba di Bandara Adi Soemarmo Surakarta, Senin (22/11).

Sekretaris PPIH Debarkasi Surakarta, H. Syarif Hidayat, di Boyolali, Minggu, mengatakan setibanya di Bandara Adi Soemarmo Surakarta, jamaah haji langsung dilakukan pengecekan suhu tubuh mereka menggunakan "thermoscan".

"Hal ini dilakukan sebagai antisipasi kemungkinan terdapat jamaah haji yang tertular penyakit khususnya meningitis, setelah mereka berinteraksi dengan jamaah haji asal negara endemik meningitis terutama dari Afrika," kata Syarif Hidayat.

Menurut dia, langkah tersebut perlu diambil, mengingat virus yang menyerang saraf otak hingga saat ini belum diketemukan obatnya.

Mengenai cara kerja peralatan tersebut, kata dia, setiap jamaah haji ketika memasuki gedung Muzdalifah di Asrama Haji Donohudan, Boyolali, akan melewati sensor dan langsung merekam suhu tubuh mereka.

Suhu seseorang dianggap punya pontensi terhadap serangan virus tersebut jika mencapai lebih dari 38 derajat. Hasil rekaman thermoscan ini diberikan kepada tim kesehatan haji dan selanjutnya akan dilakukan tindakan medis jika jamaah tersebut positif mengidap virus yang mematikan itu.

Berkaitan hal tersebut, kata dia, petugas daerah harus menyertakan ambulans setiap kali menjemput asal daerahnya.

"Ambulannya juga yang dilengkapi alat medis dan paramedisnya," kata Syarif Hidayat.

Sementara jamaah asal Debarkasi Surakarta hingga Minggu ini, yang wafat di Tanah Suci sebanyak 19 orang berasal dari Kabupaten Purworejo tiga orang, Banyumas dan DIY masing dua orang.

Jamaah lainnya dari Kabupaten Jepara, Kota Magelang, Magelang, Boyolali, Cilacap, Pekalongan, Pemalang, Kebumen, Rembang, Grobogan, Kota Semarang, Kota Salatiga masing-masing satu orang.

Namun, kata dia, jika dibanding tahun 2009 dalam kurun waktu yang sama, jumlah tersebut menurun 40 persen.

Dibayangi keterlambatan
Pada hari pertama, kedatangan jamaah haji di Bandara Adi Soemarmo Surakarta sebanyak tiga kelompok terbang, terdiri kloter pertama dari Jepara pukul 08.35 WIB, kloter dua Jepara pukul 12.35 WIB dan kloter tiga asal Surakarta pukul 16.35 WIB.

Namun, kata Syarif Hidayat, kedatangan jamaah haji kloter-kloter awal hingga sepuluh hari ke depan dibayang-bayangi keterlambatan.

Hal tersebut, lanjut dia, sebagaimana yang terjadi saat kedatangan kloter pertama di empat debarkasi pada Minggu (21/11), semuanya mengalami keterlambatan satu hingga enam jam, yaitu Debarkasi Aceh, Medan, Banjarmasin, dan Ujungpandang.

Keterlambatan seperti tersebut, kata dia, juga terjadi di Debarkasi Surakarta pada penyelenggaraan haji tahun-tahun sebelumnya yang disebabkan terjadi kepadatan penerbangan di Bandara King Abdul Aziz Jeddah.

"Penerbangan di Bandara King Abdul Aziz di Jeddah sangat padat, karena semua negara memulangkan jamaah hajinya," kata Syarif Hidayat.
(B018/M028)

Editor: Aditia Maruli Radja
COPYRIGHT © ANTARA 2010

PPIH Surabaya sita puluhan ‘handy talky’

Komentar