Tim pengembang tegaskan izin edar GeNose C19 masih berlaku

Tim pengembang tegaskan izin edar GeNose C19 masih berlaku

Ilustrasi - Calon penumpang kereta api menghembuskan nafasnya ke dalam kantong untuk dites COVID-19 dengan GeNose C19 di Stasiun Pasar Senen, Jakarta, Kamis (4/2/2021). (ANTARA FOTO/Muhammad Adimaja/aww)

GeNose C19 ini ibarat hidung sekaligus otak elektronik. Jika keduanya dilatih terus secara serempak, kita akan memiliki teknologi inovatif yang praktis, simpel, dan tepat
Yogyakarta (ANTARA) - Tim peneliti dan pengembangan GeNose C19 dari Universitas Gadjah Mada (UGM) menegaskan bahwa izin edar GeNose C19 masih berlaku sehingga sampai saat ini masih digunakan di fasilitas publik pada berbagai sektor di masyarakat.

Juru Bicara Tim GeNose M. Saifudin Hakim melalui keterangan tertulis di Yogyakarta, Rabu, menyampaikan bahwa informasi yang menyebut GeNose C19 resmi dilarang digunakan sebagai syarat perjalanan transportasi bahkan ditarik izin edarnya tidak benar.

"Banyak berita negatif dan bahkan cenderung tidak benar soal GeNose yang harus diluruskan kepada publik," kata dia.

Ia menilai informasi tidak benar yang beredar beberapa waktu terakhir ini merupakan kesimpulan sepihak atas kebijakan PPKM Darurat yang tidak memasukkan GeNose sebagai syarat melakukan perjalanan.

Dia menjelaskan kesempatan libur penggunaan GeNose C19 di sektor transportasi digunakan oleh Tim Peneliti dan Pengembang GeNose untuk menambah data varian baru virus COVID-19 ke kecerdasannya.

Uji Validasi Eksternal masih dijalani oleh GeNose C19 sehingga membantu "hidung elektronik" mengendus terduga COVID-19 dengan lebih akurat pada situasi penggunaan riil di lapangan.

"Akurasi GeNose sampai saat ini masih di angka 93-94 persen dan akan terus kita tingkatkan," katanya.

Baca juga: KAI: Layanan GeNose dihentikan selama PPKM darurat

Menurut Hakim, penambahan data varian baru COVID-19 akan semakin memperkuat Artificial Intelligence (AI) dan akurasi GeNose C19. GeNose C19 justru harus semakin terus digunakan pada situasi riil agar semakin cerdas.

"GeNose C19 ini ibarat hidung sekaligus otak elektronik. Jika keduanya dilatih terus secara serempak, kita akan memiliki teknologi inovatif yang praktis, simpel, dan tepat," katanya.

Saat ini, kata dia, GeNose C19 juga masih tetap dipergunakan sebagai alat skrining di berbagai sektor dan kegiatan, antara lain perkantoran, kampus, pondok pesantren, dan korporasi.

"Operator GeNose C19 ini tidak akan rugi memiliki GeNose C19. Ke depannya, GeNose C19 bisa kita kembangkan untuk mendeteksi penyakit-penyakit terkait pernapasan lainnya, tidak hanya COVID-19. Hanya dengan mengganti 'otaknya' itu tadi," katanya.

Hakim juga menepis keraguan masyarakat terhadap kemampuan GeNose C19 dalam mendeteksi kemungkinan COVID-19 pada pengguna.

"Data kami menunjukkan bahwa GeNose C19 mampu mendeteksi terduga pengguna positif COVID-19 pada koridor perjalanan," tuturnya.

Ia mengatakan data itu mencerminkan tingkat persentase positif sembilan persen (positivity rate) pada populasi calon pejalan yang tanpa gejala atau merasa sehat. Angka tersebut mendekati rata-rata tingkat positif nasional setinggi 14 persen.

Baca juga: Tes GeNose tidak berlaku bagi pelaku perjalanan dalam negeri
Baca juga: Anggota DPR tolak tarik GeNose dari peredaran
Baca juga: Fasilitas tes GeNose C19 sudah tersedia di 18 bandara AP II


 

Pewarta: Luqman Hakim
Editor: M. Hari Atmoko
COPYRIGHT © ANTARA 2021

Indonesia Bergerak - Melawan pandemi dengan karya anak negeri - bagian 3

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar