Pemerintah bentuk Satgas Oksigen data kebutuhan oksigen RS di Jawa

Pemerintah bentuk Satgas Oksigen data kebutuhan oksigen RS di Jawa

Wali Kota Bogor Bima Arya mengawasi pendistribusian bantuan gas oksigen ke rumah sakit di Kota Bogor yang kekurangan gas oksigen. ANTARA/HO/Pemkot Bogor.

Jakarta (ANTARA) - Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menyampaikan pemerintah akan membentuk Satuan Tugas Oksigen untuk mendata kebutuhan oksigen di setiap rumah sakit di Pulau Jawa.

"Sudah diputuskan, di Jawa setiap provinsi akan membentuk satgas oksigen. Dimana Satgas Oksigen itu akan mendata seluruh kebutuhan oksigen di masing-masing RS di provinsi bersangkutan," ujar Menkes dalam konferensi pers via daring dipantau di Jakarta, Jumat.

Ia menyampaikan bahwa Satgas Oksigen akan berhubungan dengan Satgas di kantor pusat yang akan menghubungkan antara kebutuhan oksigen di masing-masing RS di provinsi terhadap produsen-produsen yang ada.

"Bahkan kalau memerlukan kita akan melakukan impor oksigen," ucapnya.

Baca juga: Pemerintah genjot produksi oksigen medis dan jamin ketersediaan obat

Menkes mengemukakan bahwa kebutuhan oksigen RS sebelum lonjakan kedua sebesar 400 ton per hari. Kebutuhan oksigen terus naik hingga ke 800 - 1.000 ton per hari.

"Berdasarkan perhitungan kita mungkin memerlukan sampai 2.400 ton per hari, kita sudah mempersiapkan bagaimana mensuplai kebutuhan oksigen sebanyak itu yang ada di Jawa dan Bali. Dan kami akan replikasikan sistemnya di luar pulau Jawa," katanya.

Secara terpisah, Juru Bicara Vaksinasi COVID-19 Kemenkes dr Siti Nadia Tarmizi mengatakan, kebutuhan oksigen medis melonjak seiring naiknya kasus COVID-19.

Meski begitu, ia menilai kelangkaan stok oksigen di beberapa daerah lebih disebabkan rantai distribusi yang belum optimal.

Ia mengatakan, strategi pemerintah mengatasi hal itu adalah menambah pasokan oksigen serta mengupayakan agar penyaluran ke daerah-daerah yang kasusnya tinggi lebih dipercepat.

Kapasitas produksi oksigen di Indonesia mencapai 866.000 ton per tahun dengan utilisasi produksi per tahunnya 638.900 ribu, dimana 75 persen digunakan untuk industri dan hanya 25 persen yang dipakai medis.

"Kami telah mendapatkan komitmen dari Kementerian Perindustrian agar konversi gas industri ke oksigen medis diberikan sampai dengan 90 persen," ujarnya.

Melalui konversi ini, Nadia menyebut, maka jumlah oksigen yang bisa didapatkan untuk memenuhi kebutuhan nasional mencapai 575.000 ton.

Untuk saat ini, kapasitas oksigen yang ada, akan dimaksimalkan di tujuh provinsi di Jawa-Bali karena meningkatnya kasus COVID-19 sebanyak 6-8 kali lipat.

Baca juga: Pemprov Jabar pasok 1.000 tabung oksigen untuk pasien di Garut
Baca juga: Pemenuhan oksigen dimaksimalkan ke tujuh provinsi Jawa dan Bali
Baca juga: Ikatan Alumni ITB distribusikan tabung oksigen bagi pasien COVID-19

Pewarta: Zubi Mahrofi
Editor: Triono Subagyo
COPYRIGHT © ANTARA 2021

Terima oksigen konsentrator, Menko PMK salurkan ke kalangan prioritas

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar