BPPT: penurunan kasus dipengaruhi kepatuhan masyarakat terhadap prokes

BPPT: penurunan kasus dipengaruhi kepatuhan masyarakat terhadap prokes

Kepala Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) Hammam Riza berbicara dalam webinar Inovasi Teknologi Struktur Pelindung Pantai Mendukung Pembangunan Wilayah Pesisir Terpadu yang Berkelanjutan, Jakarta, Rabu (23/06/2021). (ANTARA/Martha Herlinawati Simanjuntak)

Jakarta (ANTARA) - Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) melakukan kajian dinamika kasus COVID-19 di Indonesia yang sedang menghadapi second wave atau gelombang kedua virus corona, dimana penurunan kasus COVID-19 dipengaruhi kepatuhan masyarakat terhadap protokol kesehatan (prokes).

"Dari simulasi yang dilakukan BPPT, perubahan tingkat penularan dipengaruhi oleh mobilitas dan probability (kemungkinan atau potensi tertular)," kata Kepala BPPT Hammam Riza dalam keterangannya di Jakarta, Sabtu.

Baca juga: TFRIC-19 manfaatkan AI temukan senyawa kandidat obat COVID-19

Menurut kajian Pusat Pengkajian Teknologi (PKT) BPPT, pada kasus penularan tak terkendali, akan terjadi satu puncak yang tinggi kemudian melandai dengan sendirinya. Itu akan mengakibatkan banyak kematian, sehingga diperlukan upaya melandaikan puncak kurva atau flattening the curve.

Namun, kondisi tersebut akan berdampak pada sektor ekonomi atau terjadi trade off antara upaya pengendalian dengan penurunan kinerja ekonomi.

Hammam menuturkan upaya melandaikan kurva kasus COVID-19 dilakukan dengan menurunkan tingkat penularan yang dipengaruhi oleh jumlah kontak orang terinfeksi (akibat mobilitas) dan kemungkinan atau probability tertular.

Pengendalian jumlah kontak dilakukan dengan melakukan penurunan tingkat mobilitas, itu memberikan dampak pada penurunan ekonomi. Sedangkan penurunan  "probability" dilakukan dengan penerapan protokol kesehatan dan vaksinasi.

Kepala BPPT menuturkan probability menurun akibat kepatuhan masyarakat terhadap protokol kesehatan menjadi sekitar 0,4 (tingkat kepatuhan sekitar 60 persen), namun sekitar awal Juni 2021 terjadi kenaikan probability yang diindikasikan terjadi karena faktor berkurangnya kepatuhan masyarakat menjalankan protokol kesehatan.

Selain faktor tersebut, munculnya varian delta yang memiliki tingkat penularan lebih tinggi turut berperan dalam kenaikan kasus COVID-19.

Di sisi lain, dinamika mobilitas masyarakat yang mengalami penurunan pada Januari 2021 usai melewati fase puncak kembali mengalami kenaikan, imbas kebutuhan ekonomi masyarakat.

Baca juga: BPPT: Penguatan sistem inovasi dukung Indonesia mandiri dan maju

Baca juga: TFRIC-19 fokus sejumlah aksi di 2021 bagi penanganan COVID-19


"Kondisi ini harus segera disikapi secara serius dengan kembali melakukan pengetatan protokol kesehatan dan mobilitas masyarakat, serta upaya mempercepat proses vaksinasi," ujar Hammam.

Hammam menuturkan beberapa skenario upaya pengendalian tingkat penularan terlihat dapat menurunkan kasus terkonfirmasi harian yang terjadi.

Namun demikian, berhasil atau tidaknya upaya pengendalian yang dilakukan juga sangat bergantung kepada seberapa patuh masyarakat melaksanakan protokol kesehatan yang telah ditetapkan oleh pemerintah.

Pewarta: Martha Herlinawati Simanjuntak
Editor: Endang Sukarelawati
COPYRIGHT © ANTARA 2021

BPPT berinovasi tiada henti dalam menanggulangi pandemi

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar