Rintik Sedu ajak pendengar temukan arti cinta sempurna di siniar baru

Rintik Sedu ajak pendengar temukan arti cinta sempurna di siniar baru

Rintik Sedu alias Nadhifa Allya Tsana meluncurkan episode podcast berseri terbarunya berjudul "Kuas, Kanvas, dan Bulan Kesepian". (ANTARA/HO)

Jakarta (ANTARA) - Penulis dan podcaster Rintik Sedu alias Nadhifa Allya Tsana alias akan meluncurkan episode siniar berseri terbaru "Kuas, Kanvas, dan Bulan Kesepian" pada 14 Juli. Dia akan mengajak pendengar menemukan arti dari cinta sempurna dalam siniar berdurasi 180 menit yang terbagi menjadi lebih dari 10 episode.

Dikenal sebagai sosok penulis dan podcaster romantis, Rintik Sedu banyak dipuji penggemar dan pendukungnya sebagai ahlinya genre romansa. Sepanjang kariernya, dia banyak menarasikan kisah-kisah cinta melankolis bahkan menerbitkan "Geez and Ann", buku pertamanya yang kemudian menjadi buku terlaris, saat berusia 19 tahun. Buku itu telah diadaptasi menjadi sebuah film.

Dia telah aktif menulis sejak SMP dan terus menekuni kegemarannya tersebut. Dalam beberapa tahun terakhir, dia menuangkan kemampuan menciptakan suasana romantisnya ke dalam podcast, dengan hasrat untuk genre romansa yang lebih kuat lagi.

“Bagi saya, ‘cinta’ adalah salah satu perasaan terpenting yang harus kita alami dan lalui. Cinta mengambil porsi besar dari kehidupan kita sebagai manusia… dan itulah yang membuat saya menggebu-gebu. Ada hubungan yang kuat antara cerita romansa dan perasaan manusia. Saya melihat romansa bukan hanya soal jatuh cinta dengan orang lain - tetapi juga dalam mencintai diri sendiri dan menemukan jati diri,” kata Tsana dalam keterangannya, Selasa.

Baca juga: Sapardi Djoko Damono - Rintik Sedu ciptakan puisi lintas generasi

Baca juga: "GEEZ & ANN" akan dibuat film tahun depan


Dia pun mengibaratkan semua podcastnya sebagai “teman bagi para pendengar” yang mencari penghiburan dalam kisah-kisah cinta dan patah hati.

“Ketika saya mulai membuat podcast, tidak butuh waktu lama untuk akhirnya menyadari bahwa terdapat banyak kesamaan dalam proses kreatif menulis dan podcasting. Dengan narasi yang memikat dan tanpa aspek visual, buku dan podcast dapat menghidupkan sebuah cerita, dan membangkitkan pengalaman yang berbeda bagi setiap pendengarnya. Saya sangat menikmati pengalaman membawa pendengar saya ke dalam perjalanan seperti itu.”

Menyusul seri siniar cerita pendeknya, "Rintik Sedu" yang dirilis pada tahun 2019, podcast Original Spotify terbarunya yang berjudul “Kuas, Kanvas, dan Bulan Kesepian”, yang akan tersedia eksklusif di Spotify mulai 14 Juli, mengarungi perjalanan mencari cinta yang sempurna, dengan lika-liku yang tak sempurna.

Siniar ini bercerita tentang Karin, seorang wanita yang mendambakan kesempurnaan dalam hidupnya. Untuk Karin, tidak ada yang lebih sempurna daripada sebuah lukisan. Melalui serial ini, pendengar dapat mengikuti perjalanan Karin yang jatuh cinta kepada seseorang yang “tak berwarna”, tak sempurna, tetapi nampaknya adalah satu-satunya orang yang dicintainya. Di matanya, pria ini bagai rembulan. Agung tetapi diwarnai nuansa kesendirian.

Ketika ditanya mengapa pendengar harus mengikuti episode demi episode, Rintik Sedu memberikan bocoran bahwa hanya dengan demikian pendengar akan merasakan kebingungan yang dialami Karin. Seperti halnya Karin, mereka juga harus menunggu sampai episode selanjutnya untuk mendapatkan jawaban yang ia cari. Cerita ini membangun tegangnya antisipasi seputar bagaimana setiap individu mendefinisikan cinta sempurna.

“Konsep ‘kesempurnaan’ sudah beberapa lama berada dalam pikiran saya. Setelah secara singkat mengeksplorasi topik ini dalam cerita pendek di podcast awal saya Rintik Sedu, saya ingin menantang diri saya dan keluar dari zona nyaman saya untuk menggali topik ini lebih dalam,” ujar penulis yang pernah berkolaborasi dengan penyair Sapardi Djoko Damono dalam buku puisi "Masih Ingatkan Kau Jalan Pulang".

Melalui podcast terbarunya tersebut, podcaster romansa ini juga mencetak berbagai pencapaian untuk pertama kalinya. Dari menjelajahi format pertunjukan yang lebih panjang untuk pertama kalinya, hingga terlibat langsung dalam proses produksinya, termasuk dalam penulisan naskah, produksi, ilustrasi, editing, bahkan hingga ke proses pendistribusiannya.

“Karena ini adalah pertama kalinya saya membuat format podcast yang panjang, saya merasakan keseluruhan proses ini cukup menantang. Saya perlu mengetahui aturan, durasi, kecepatan, dan hal-hal penting lainnya untuk membuat semua episode dalam seri ini tetap menarik. Sebelum ini, saya tidak tahu bagaimana mengubah cerita pendek berdurasi 18 menit menjadi pertunjukan berdurasi 180 menit yang terbagi menjadi lebih dari 10 episode! Alhamdulillah, menulis selalu merupakan pengalaman yang menyenangkan bagi saya. Yang lebih penting lagi, yang membuat saya benar-benar termotivasi untuk menyelesaikan ceritanya adalah dukungan dari teman, saudara, para pembaca dan pendengar podcast saya,” ujarnya.

Bekerja dengan Spotify juga menjadi salah satu sebab mengapa ia menyukai format podcast.

“Sejujurnya, ada perubahan besar dalam karier saya sejak bekerja bersama Spotify. Baik itu visibilitas karya saya atau yang lebih penting lagi - bagaimana saya bisa terhubung dengan para pendengar saya. Seolah-olah, saya bertemu muka dengan mereka secara pribadi! Saya juga selalu ingin agar para pendengar saya memiliki akses yang paling mudah ke cerita-cerita saya. Dengan podcast yang selalu dapat di-stream, mereka dapat memutar, menjeda, mengulang episode - kapan saja dan di mana saja. Saya percaya saya telah menemukan sebuah sarana di mana saya benar-benar dapat mengekspresikan diri saya,” tutupnya.

Baca juga: Clubhouse ternyata punya fitur kirim pesan privat

Baca juga: Facebook luncurkan fitur audio mirip Clubhouse

Baca juga: Apple tunda rilis layanan berlangganan untuk podcast hingga Juni

Pewarta: Nanien Yuniar
Editor: Maria Rosari Dwi Putri
COPYRIGHT © ANTARA 2021

INDEF dukung pemerintah pungut PPN Google, Amazon, Netflix, dan Spotify

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar