Saham Hong Kong jatuh di tengah kekhawatiran tentang pertumbuhan China

Saham Hong Kong jatuh di tengah kekhawatiran tentang pertumbuhan China

Dokumentasi - Logo Hong Kong Exchanges & Clearing Ltd. (HKEX) terlihat di distrik Pusat keuangan di Hong Kong, Cina, Senin (14/9/2020). ANTARA/REUTERS/Tyrone Siu/am.

Jakarta (ANTARA) - Saham Hong Kong jatuh pada hari Rabu, karena kekhawatiran terhadap perlambatan pertumbuhan China muncul kembali, sementara meningkatnya ketegangan China-AS turut menekan sentimen.

Suasana kelam menyelimuti pasar di Asia menyusul lonjakan inflasi AS terbesar dalam 13 tahun yang memicu kekhawatiran penerapan kebijakan moneter AS untuk mengurangi pembelian obligasi lebih awal dari perkiraan.

Indeks Hang Seng turun 0,6 persen menjadi 27.787.46, sedangkan Indeks China Enterprises turun 0,5 persen menjadi 10.065,07.

Baca juga: Bursa Hong Kong ditutup naik setelah penguatan saham teknologi

Awal pekan ini, suasana hati investor terangkat oleh pemotongan mengejutkan dari Bank Sentral China (People's Bank of China) dalam rasio cadangan wajib bank (RRR), yang akan membebaskan 1 triliun yuan (154,52 miliar dolar AS) dari likuiditas jangka panjang untuk mendukung pertumbuhan.

Pemotongan RRR 50 basis poin dan dukungan fiskal, "tidak mungkin cukup untuk membalikkan tren turun pertumbuhan, karena hambatan dari sektor properti yang melambat terlalu kuat untuk diimbangi sepenuhnya," tulis Ting Lu, kepala ekonom China Nomura.

Juga membatasi selera risiko, pemerintah AS pada hari Selasa memperkuat peringatannya kepada bisnis tentang meningkatnya risiko memiliki rantai pasokan dan hubungan investasi ke wilayah Xinjiang China, mengutip kerja paksa dan pelanggaran hak asasi manusia di daerah itu.

Baca juga: Saham Hong Kong catat terendah 6 bulan karena saham teknologi jatuh

Investor juga mengamati kesaksian setengah tahunan Ketua Federal Reserve Jerome Powell kepada Kongres pada hari Rabu dan Kamis untuk petunjuk lebih lanjut tentang apakah Fed akan mengambil langkah yang lebih agresif untuk menghentikan kenaikan inflasi.

Kebijakan Fed yang akan mengurangi pembelian obligasi berdampak negatif terhadap pasar negara berkembang karena dolar yang lebih kuat akan menyedot likuiditas luar negeri, kata Lynda Zhou, manajer dana Fidelity International yang berbasis di Shanghai.

Saham keuangan dan properti turun, begitu pula industri dan bahan baku.

Indeks Hang Seng Tech telah bangkit (rebound) minggu ini, tetapi kata Lorraine Tan, Direktur Riset Ekuitas Morningstar di Asia, memperkirakan sektor ini berada di bawah tekanan terus-menerus dari peraturan China yang lebih ketat, dan seruan Beijing untuk perusahaan Internet untuk memainkan peran yang lebih besar dalam menciptakan nilai sosial. (1dolar AS = 6,4716 yuan renminbi Tiongkok)
 

Penerjemah: Biqwanto Situmorang
Editor: Budi Suyanto
COPYRIGHT © ANTARA 2021

Waskita Karya jual saham tol di Sumut ke investor Hong Kong Rp824 miliar

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar