Saya kira dia kemungkinan besar bakal memenangi paling sedikit empat atau lima (gelar Grand Slam) lagi
Jakarta (ANTARA) - Akhir pekan lalu tiga pencapaian fenomenal tercipta di panggung olahraga global.

Pertama, Lionel Messi akhirnya merebut gelar turnamen besar sepak bola bersama negaranya, Argentina. Kedua, Novak Djokovic merebut gelar Grand Slam ke-20 untuk menyamai pencapaian Roger Federer dan Rafael Nadal.

Ketiga, Italia menjuarai Euro 2020 yang walau bukan yang pertama namun sukses itu menguakkan heroisme dan reformasi dalam cara Italia memainkan sepak bola serta kaitannya dengan spirit nasional lebih dari setahun setelah pandemi memporakporandakkan negeri itu.

Baca juga: Saya percaya saya yang terbaik, kata Djokovic

Pencapaian fenomenal keempat bisa saja terjadi pekan ini atau pekan depan jika Phoenix Suns menjuarai NBA, kecuali Milwaukee Bucks melakukan hal seperti dilakukan Italia terhadap Inggris dalam Euro 2020.

Tapi yang kita bicarakan di sini adalah Novak Djokovic yang suksesnya mengalahkan petenis Italia Matteo Berrettini 6-7(4), 6-4, 6-4, 6-3 dalam final Wimbledon yang membuat dia mengumpulkan 20 gelar Grand Slam, telah membuka lagi diskursus mengenai siapa yang terbesar sepanjang masa atau GOAT (Greatest Of All Time) dalam cabang olahraga tenis.

Sukses Djokovic sama dengan sukses Messi dalam mengantarkan Argentina memenuhi dahaga gelar turnamen besar selama 28 tahun, dalam soal membuka perdebatan mengenai GOAT.

Walaupun dia baru menyamai pencapaian Nadal dan Federer, namun Djokovic dianggap lebih berpeluang memecahkan rekor gelar Grand Slam terbanyak sepanjang masa yang saat ini dipegang oleh Margaret Court dengan 24 gelar juara Grand Slam.

Bukan hanya karena lebih muda satu tahun dibandingkan dengan Nadal dan enam tahun ketimbang Federer, Djokovic juga lebih konsisten dibandingkan dengan kedua petenis itu. Djokovic berusia 34 tahun, Nadal 35 tahun, dan Federer 39 tahun.

Selama 2021, catatan menang-kalah Djokovic adalah 34-3 (34 menang, 3 kali kalah) dalam semua kompetisi tenis. Tapi yang paling mengesankan adalah performanya selama bertanding dalam turnamen Grand Slam yang bercatatan 21-0, sehingga meraih 4 gelar yang tiga di antaranya Grand Slam.

Sedangkan Nadal bercatatan 23-4 dalam semua turnamen dan 9-2 dalam Grand Slam dengan meraih 2 gelar. Federer agak lebih buruk lagi, dengan 9-4 dalam semua turnamen dan 7-1 dalam Grand Slam tanpa satu pun meraih gelar selama 2021 ini.

Salah seorang yang yakin Djokovic bakal menjadi GOAT adalah legenda tenis Amerika Serikat John McEnroe.

Baca juga: Djokovic juarai Wimbledon 2021, catatkan gelar Grand Slam ke-20


Masih terlalu kuat untuk petenis muda

"Saya kira dia kemungkinan besar bakal memenangi paling sedikit empat atau lima (gelar Grand Slam) lagi," kata McEnroe seperti dikutip Reuters. "Dia menempatkan diri begitu jauh mendahului semua orang dalam hal kemampuan menciptakan sejarah."

Namun pelatih Djokovic sendiri yang juga mantan juara Wimbledon, Goran Ivanisevic, menilai perdebatan GOAT selesai jika Djokovid menjuarai US Open tahun ini untuk menyapu semua gelar Grand Slam dalam satu musim.

US Open tahun ini akan digelar dari 30 Agustus sampai 12 September. "Jika dia menjuarai US Open, maka (perdebatan GOAT) berakhir," kata Ivanisevic.

Bisakah Djokovic melakukan yang disebut Ivanisevic itu? Jika melihat statistik Djokovic belakangan ini dan rekor pertemuan dengan lawan-lawannya, maka jawabnya bisa.

Dia sendiri sudah menjadi orang kedua dalam sejarah yang menjuarai tiga Grand Slam dalam satu kalender kompetisi tenis setelah Nadal.

Nadal menjuarai French Open, Wimbledon dan US Open pada 2010, sedangkan Djokovic menjuarai Australia Open, French Open dan Wimbledon pada 2021.

Baca juga: Berrettini yakin suatu saat ia angkat trofi juara Wimbledon

Kemungkinan yang bisa menghambat Djokovic menyapu empat gelar Grand Slam dalam satu musim seperti dilakukan Rod Laver pada 1969 adalah Nadal dan Federer sendiri, tapi yang terakhir ini terus diserang cedera.

Lima petenis muda yang berusaha mendobrak dominasi tiga besar tenis (Federer, Nadal dan Djokovic) saat ini belum bisa menandingi dan menghentikan Djokovic dalam turnamen Grand Slam. Salah satu di antaranya, Andrey Rublev yang berusia 23 tahun belum pernah bertanding melawan Djokovic.

Sampai saat ini, rekor pertemuan Djokovic dengan keempat petenis muda di luar Rublev dalam turnamen Grand Slam adalah 8-0.

Keempat petenis muda itu adalah Stefanos Tsitsipas yang berusia 22 tahun, Alexander Zverev 24 tahun, dan Matteo Berrettini serta Daniil Medvedev yang keduanya berusia 25 tahun.

Djokovic sudah 8 kali menghadapi Tsitsipas dengan hasil 6 kali dia menangi, sedangkan dua lagi dimenangi Tsitsipas. Tetapi mereka baru dua kali bertemu dalam Grand Slam yang keduanya French Open, masing-masing 2020 dan 2021. Keduanya juga dimenangi Djokovic lewat pertarungan lima set.

Baca juga: Djokovic ragu ikut Olimpiade Tokyo


Bakal jadi pusat perhatian tenis

Pun demikian dengan Zverev, Djokovic sudah 8 kali menghadapinya dengan catatan sama dengan melawan Tsitsipas, menang 6 kali, kalah 2 kali.

Mereka juga sudah dua kali bertemu dalam Grand Slam, yakni pada French Open 2019 dan Australian Open 2021, yang keduanya dimenangkan Djokovic yang hanya kehilangan satu dari total tujuh set selama melawan Zverev dalam dua Grand Slam itu.

Djokovic juga masih terlalu kuat untuk Matteo Berrettini yang kalah pada semua tiga pertemuan di antara mereka, termasuk final Wimbledon 2021 dan perempat final French Open 2021.

Daniil Medvedev menjadi petenis muda yang tergolong paling mampu mengimbangi Djokovic karena dari delapan pertemuan, tiga di antaranya dia menangi. Tetapi petenis Rusia ini pun tak bisa mengalahkan Djokovic pada dua pertemuannya dalam Grand Slam yang semuanya Australian Open, masing-masing edisi 2019 dan 2021.

Jika catatan di atas menjadi ukuran, Djokovic akan bisa melewati hadangan empat pemain muda itu. Namun bisa saja Rublev yang belum pernah dia hadapi, menciptakan kejutan dalam US Open bulan depan itu. Sedangkan Federer yang sudah dimakan usia dan terus-terusan cedera mungkin tak lagi menjadi penghambat Djokovic.

Oleh karena itu, Djokovic kemungkinan bisa memenuhi ekspektasi pelatihnya Goran Ivanisevic, yakni memenangi empat gelar Grand Slam dalam satu kalender kompetisi tenis.

Baca juga: Jinakkan Shapovalov, Djokovic bertemu Berrettini di final Wimbledon

Namun kemungkinan besar itu malah makin mengencangkan lagi debat GOAT. Sebaliknya kemampuan dia dalam merebut lagi empat atau lima gelar Grand Slam seperti disebut John McEnroe malah menjadi topik hangat setelah US Open nanti.

Jika usia Federer terakhir kali menjuarai Grand Slam dalam Australia Open 2018 menjadi patokan, maka kemungkinan besar Djokovic bisa memecahkan rekor 24 gelar Grand Slam milik Margaret Court untuk menjadi GOAT.

Federer terakhir kali merebut gelar Grand Slam saat berusia 37 tahun. Sedangkan saat ini Djokovic baru berusia 34 tahun. Ini artinya dia memiliki waktu tiga tahun lagi untuk terus bersinar, dan ini artinya dia memiliki 12 kali kesempatan untuk menambah lagi gelar Grand Slam.

Dan petenis Serbia ini hanya perlu memenangkan sepertiga dari ke-12 turnamen Grand Slam itu untuk disebut GOAT.

Oleh karena itu, mulai US Open bulan depan dan satu sampai dua tahun ke depan, Djokovic kemungkinan bakal menjadi pusat perhatian dunia tenis.

Baca juga: Djokovic jadi petenis pertama yang lolos Final ATP 2021

Copyright © ANTARA 2021