Riset Danareksa: Investasi jadi alternatif pemasukan di tengah pandemi

Riset Danareksa: Investasi jadi alternatif pemasukan di tengah pandemi

Ilustrasi - Investor memantau perdagangan saham melalui gawainya di Jakarta. ANTARA FOTO/Akbar Nugroho Gumay/wsj.

Sebanyak 33,33 persen responden beralasan memulai investasi ketika pandemi karena berharap itu menjadi alternatif pemasukan
Jakarta (ANTARA) - Danareksa Research Intitute mencatat bahwa investasi menjadi alternatif pemasukan dana bagi masyarakat selama adanya pandemi COVID-19.

“Sebanyak 33,33 persen responden beralasan memulai investasi ketika pandemi karena berharap itu menjadi alternatif pemasukan,” demikian kutipan hasil riset Danareksa Research Intitute yang diterima di Jakarta, Sabtu.

Investasi menjadi alternatif pemasukan, kelebihan dana dan berharap imbal hasil besar. Tiga alasan tersebut menempati posisi teratas yang mendasari masyarakat memulai investasi saat pandemi dengan masing-masing 33,33 persen responden, 33,33 persen responden dan 30,56 persen.

Alasan lainnya adalah akses terhadap investasi lebih mudah, harga relatif rendah, hanya coba-coba, ikut teman dan mengisi waktu luang dengan masing-masing 25 persen responden, 25 persen responden, 22,22 persen responden, 16,67 persen responden dan 13,89 persen responden.

Riset ini juga menemukan bahwa emas menjadi instrumen investasi yang paling diminati masyarakat kemudian disusul oleh deposito, properti atau tanah, saham, reksadana, surat berharga, crypto, live stocks, valuta asing (valas), ETF dan DIRE.

Untuk saham, reksadana, dan cryptocurrency menjadi instrumen investasi dengan kepemilikan yang meningkat selama pandemi sedangkan kepemilikan surat berharga sebagian besar adalah surat berharga negara yakni sebanyak 74,88 persen.

Di sisi lain, riset mencatat frekuensi investasi cenderung menurun selama pandemi yakni terlihat dari hanya 6,41 persen responden menambah investasinya beberapa kali dalam sebulan dan 26,92 persen responden menambah investasi satu sampai tiga bulan sekali.

Kemudian 11,54 persen responden menambah investasi tiga sampai enam bulan sekali, 6,41 persen responden menambah investasi satu kali dalam setahun dan 48,72 persen responden menambah investasi jika ada kelebihan uang.

Sementara berdasarkan porsi investasi dari pendapatan bulanan selama pandemi tercatat 60,9 persen responden menginvestasikan 10 persen dari penghasilannya dan 23,72 persen responden menginvestasikan 10 sampai 25 persen pendapatan bulanannya.

Kemudian 7,05 persen responden menginvestasikan 25 sampai 35 persen penghasilannya, 6,41 persen responden menginvestasikan 35 sampai 50 persen pendapatan bulanan sedangkan 1,92 persen responden menginvestasikan lebih dari 50 persen pendapatannya.

Tak hanya itu, masyarakat juga menjual sebagian kecil investasi untuk menjadi dana darurat selama pandemi terutama dilakukan oleh masyarakat dengan pendapatannya yang menurun.

Selain menjual investasi menjadi dana darurat, hal itu turut dilakukan sebagai langkah untuk memenuhi kebutuhan, dialokasikan untuk produk investasi lainnya, dialokasikan ke tabungan, modal untuk usaha, membayar cicilan, maupun keperluan lainnya.

Riset pun menemukan bahwa masyarakat sangat khawatir dengan adanya potensi resesi ekonomi, perkembangan kasus COVID-19, dan stabilitas sektor keuangan yang akan mempengaruhi nilai investasi mereka.

Baca juga: Bukalapak dorong masyarakat investasi di tengah tren penguatan ekonomi
Baca juga: Masyarakat awam diingatkan soal risiko investasi di mata uang kripto
Baca juga: OJK utamakan literasi agar masyarakat paham investasi di pasar modal

Pewarta: Astrid Faidlatul Habibah
Editor: Faisal Yunianto
COPYRIGHT © ANTARA 2021

Kementerian Investasi kejar target investasi Rp1.200 triliun

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar