Facebook membela diri soal tuduhan "membunuh dengan hoaks"

Facebook membela diri soal tuduhan "membunuh dengan hoaks"

Ilustrasi - Logo Facebook di layar komputer terlihat melalui kaca pembesar. ANTARA/REUTERS/Thomas Hodel/am.

Jakarta (ANTARA) - Facebook membela diri terkait pernyataan Presiden Amerika Serikat Joe Biden bahwa media sosial membunuh orang karena mengizinkan penyebaran misinformasi soal vaksin COVID-19.

"Data menunjukkan 85 persen pengguna Facebook di AS sudah atau mau divaksinasi COVID-19," kata wakil direktur di Facebook, Guy Rosen, dikutip dari Reuters, Minggu.

Baca juga: Facebook akan berinvestasi 1 miliar dollar AS untuk konten kreator

"Target Presiden Biden adalah 70 persen warga Amerika divaksinasi pada 4 Juli. Facebook bukan alasan tujuan tersebut tidak tercapai," kata Rosen.

Hoaks tentang COVID-19 menyebar di media sosial, termasuk Facebook, Twitter dan YouTube.

Presiden Biden sebelumnya menyatakan media sosial membunuh orang karena penyebaran hoaks.

"Mereka membunuh orang-orang... Lihat lah, satu-satunya pandemi yang kita hadapi adalah di antara orang-orang yang tidak divaksin. Mereka membunuh orang-orang," kata Biden.

Facebook sudah memperkenalkan aturan soal klaim yang salah tentang COVID-19 dan vaksin dan memberikan informasi terpercaya untuk topik tersebut.

Baca juga: Biden sebut medsos "membunuh" orang dengan hoaks COVID-19

Baca juga: Festival AMAN 2021 momen lindungi anak dari kejahatan internet

Baca juga: Facebook gandeng Inggris tangani kasus rasisme online

Pewarta: Natisha Andarningtyas
Editor: Alviansyah Pasaribu
COPYRIGHT © ANTARA 2021

Cerita dari selatan - Awas, terorisme incar generasi milenial (bagian 2 dari 3)

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar