Telaah

Jika atlet Olimpiade Tokyo dikarantina di tengah kompetisi

Oleh Jafar M Sidik

Jika atlet Olimpiade Tokyo dikarantina di tengah kompetisi

Seorang personel keamanan berjaga di pintu masuk Perkampungan Atlet Olimpiade dan Paralimpiade Tokyo 2020 di Tokyo pada 14 Juli 2021 menjelang pembukaan Olimpiade Tokyo 2020 pada 23 Juli. (ANTARA/AFP/BEHROUZ MEHRI)

Mereka tamu kami, jadi kami tak boleh mengatur prilaku mereka
Jakarta (ANTARA) - Pertengahan Maret lalu, Indonesia heboh gara-gara timnas bulu tangkis dipaksa mundur dari All England 2021 setelah penelusuran kontak menunjukkan tim Indonesia satu pesawat dengan seseorang yang terpapar COVID-19.

Karena adanya kontak tersebut, tim bulu tangkis Indonesia harus beberapa hari menjalani karantina yang praktis harus meninggalkan arena pertandingan.

Kecaman pun datang dari berbagai kalangan di Indonesia kepada BWF dan bahkan Inggris yang menjadi tuan rumah event. Kecaman itu bahkan menjadi irasional karena mengaitkan nasib timnas bulu tangkis tersebut dengan vaksin Astra-Zeneca yang saat itu tengah dalam proses evaluasi pemakaiannya di Indonesia.

Faktanya, hal itu terjadi karena aturan penelusuran kontak yang berlaku di Inggris dalam upaya membendung penyebaran COVID-19, mengharuskan siapa pun tanpa kecuali diisolasi beberapa hari karena dianggap dalam lingkup kontak dengan orang yang terpapar virus. Di Inggris, ketentuan ini tak bisa diintervensi siapa pun, termasuk pemerintahnya sendiri.

Kini dalam Olimpiade Tokyo, Indonesia dan juga kontingen-kontingen lainnya, harus bersiap menghadapi skenario serupa itu, apalagi tes COVID-19 akan dilakukan setiap hari.

Akan fatal akibatnya kepada atlet yang tengah memasuki fase menentukan dalam kompetisi yang terpaksa berhenti hanya karena penelusuran kontak menunjukkan si atlet mempunyai kontak dengan orang yang dinyatakan terpapar.

Risiko terbesar negara peserta Olimpiade Tokyo nanti, kata harian terkemuka Amerika Serikat Wall Street Journal pada 13 Juli, adalah begitu seseorang dinyatakan positif terpapar COVID-19 maka beberapa atau semua anggota tim bisa dipaksa mengakhiri kiprahnya dalam Olimpiade. Lebih menyedihkan lagi, tak ada satu pun negara peserta Olimpiade Tokyo yang bisa menjamin kemungkinan itu tak menimpa mereka.

Baca juga: KOI akan laporkan BWF ke IOC sebelum menggugat ke CAS
Baca juga: Menpora tak mau kasus All England terulang dalam turnamen lain
Baca juga: Pecatur Susanto harus hentikan pertandingan karena positif COVID-19



Selanjutnya: Olimpiade dalam sistem gelembung

Oleh Jafar M Sidik
COPYRIGHT © ANTARA 2021

KONI: PON XX Papua berkaca pada Olimpiade Tokyo 2021

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar