Artikel

Pentingnya melindungi kesehatan mental anak saat pandemi COVID-19

Oleh Ida Nurcahyani

Pentingnya melindungi kesehatan mental anak saat pandemi COVID-19

Ilustrasi work from home (Pexel)

Jakarta (ANTARA) - Indonesia tengah menghadapi lonjakan kasus serta hadirnya varian baru dari COVID-19 yang berdampak pada seluruh lapisan masyarakat.

Situasi yang masih tidak menentu, serta banyaknya hal berat yang harus dilalui tentu menjadi tantangan tersendiri bagi seluruh anggota keluarga.

Kesehatan mental jadi hal yang perlu diperhatikan, bukan hanya bagi orang tua, tapi juga anak-anak.

Sebuah penelitian yang dilakukan oleh Ikatan Psikolog Klinis (IPK) Indonesia bersama Kemendikbud di 12 provinsi terhadap siswa SD-SMA/K menunjukkan bahwa pendampingan termasuk saat belajar menjadi faktor sosial dengan pengaruh terbesar dalam menjaga kesehatan mental anak.

Sedangkan bagi orang tua, khususnya yang bekerja dari rumah, work from home (WFH) selama pandemi COVID-19 - mereka membutuhkan dukungan psikologis, agar dapat menemukan keseimbangan antara pekerjaan (kantor dan rumah) dan pendampingan anak.

Baca juga: Gangguan mental saat pandemi bisa dorong anak sakiti diri sendiri

Fakta ini menunjukkan bahwa orang tua perlu berbagi peran dan memaksimalkan dukungan lingkungan yang ada termasuk perangkat rumah tangga, untuk membantu menjaga keseimbangan antara menjaga kesehatan mental diri dan anak.

Psikolog anak, Vera Itabiliana Hadiwidjojo S,Psi beberapa waktu lalu mengatakan bahwa memang tidak mudah bagi orang tua untuk menenangkan diri menghadapi situasi penuh ketidakpastian seperti saat ini.

"Namun perlu diingat, kondisi mental anak, sangat bergantung pada orang tuanya. Untuk itu, orang tua perlu mengatur siasat untuk terus saling mendukung dalam menghadapi situasi penuh tantangan seperti saat ini," katanya.

Ditambahkan Vera, kecemasan yang dialami anak umumnya dipengaruhi oleh situasi di sekitarnya termasuk bagaimana orang tua menyikapi sesuatu.

"Jika orang tua cemas berlebihan akan situasi saat ini misalnya, anak akan ikut cemas. Anak bisa menjadi cemas ketika melihat orang tuanya bertengkar, sedih melihat orang tuanya sakit. Cemas karena dilarang bermain di luar, tidak bisa bertemu teman, juga terhadap tugas sekolah yang banyak," katanya.

Ketika mengalami kecemasan, anak akan sering terlihat murung, tidak bersemangat sehingga terkesan malas. Anak juga lebih emosional, sulit tidur atau bahkan tidur terus, pola makan terganggu, menarik diri, serta kehilangan minat atas aktivitas yang biasanya disenangi.

Kiat menjaga kesehatan mental

Untuk menjaga kesehatan mental baik pada orang tua maupun anak, Beko bersama Psikolog anak, Vera Itabiliana Hadiwidjojo dalam keterangannya dikutip Rabu membagikan empat kiat yang bisa dilakukan.

Pertama, berikanlah pemahaman tentang kondisi saat ini secara garis besar pada anak, dengan menggunakan buku cerita, video ataupun animasi yang menjelaskan kondisi saat ini dengan singkat.

Kecemasan anak dapat timbul ketika dia melihat banyak yang sakit. Jelaskan pada anak bahwa sudah ada tindakan-tindakan yang diambil untuk mengatasi situasi, juga adanya langkah-langkah pencegahan yang telah menjadi rekomendasi.

Kedua, libatkan anak dalam tindakan-tindakan untuk mengurangi penularan. Bahas bagaimana anak dapat turut ambil peran dalam menerapkan protokol kesehatan untuk menjaga dirinya dan juga orang lain sehingga dia dapat juga menjadi pahlawan bagi orang lain atau keluarganya.

Misalnya, ajak anak untuk membersihkan alat belajar, mainan, atau pesanan makanan dari luar, sebagai langkah pencegahan yang dapat dilakukan.

Ketiga, berikan anak sebuah rutinitas harian. Rutinitas yang terjadwal membantu menenangkan anak karena dia tahu apa yang akan terjadi dalam kesehariannya.

Sesuatu yang dapat diprediksi dan berjalan secara konsisten membuat anak merasa aman dan nyaman. Diskusikan dan berbagi peran dengan pasangan dalam pendampingan belajar, juga membuat kegiatan yang variatif seperti menggambar, membuat prakarya atau memasak bersama. Lakukan secara menyenangkan, karena anak akan terpengaruh oleh bagaimana reaksi orang tua dalam menyikapi sesuatu.

Membuat kreasi menu makanan tertentu bisa menjadi pencapaian tersendiri bagi anak. Dengan menggunakan Beko Less Oil Cooker, orang tua dan anak dapat mengkreasikan menu favorit seperti kentang goreng, nugget ayam serta aneka kue dengan lebih sehat dan mudah. Kegiatan ini juga dapat menjadi ritual rutin yang bisa membuat anak merasa dekat dan aman bersama orang tuanya.

Terakhir, orangtua bisa memanfaatkan teknologi untuk mendukung kegiatan dan aktivitas anak-anak selama berada di dalam rumah.

Bukan hanya untuk berkomunikasi dengan kerabat dan mendukung aktivitas belajar, teknologi juga dapat membantu memastikan kebersihan dan higienitas di area rumah, untuk memberikan rasa aman dan kenyamanan lebih bagi anak dan keluarga.

Orang tua dapat berbagi beban dengan teknologi yang mendukung kenyamanan rumah sekaligus memperlihatkan kepada anak bahwa pekerjaan rumah tangga adalah kegiatan yang mudah dilakukan.

Salah satunya adalah dengan melibatkan anak dalam kegiatan mencuci, tidak hanya mencuci pakaian tetapi bisa juga mencuci boneka kesayangan mereka.

Selain itu, anak-anak sebaiknya tetap diberikan waktu untuk bermain karena bermain merupakan sebuah kebutuhan utama bagi anak-anak. Bermain bisa memberikan banyak manfaat seperti menstimulasi perkembangan sosial, kognitif, bahasa, regulasi emosi dan mengelola stres, rasa bosan, dan mood.

Dengan keterbatasan selama pandemi COVID-19, bermain bisa dilakukan dengan memanfaatkan teknologi misalnya mengikuti sejumlah virtual playdate atau bisa mengikuti wisata secara virtual.

Pandemi COVID-19 yang sudah hampir dua tahun berlangsung tak hanya menguras energi dan finansial namun lebih penting lagi, pandemi sudah menguras banyak sekali emosi, oleh sebab itu menjaga kesehatan mental bagi orang dewasa dan anak-anak sangatlah penting demi menjaga kesehatan jiwa yang akhirnya akan berpengaruh kepada kesehatan jasmani.

Baca juga: Psikolog: "Breaktime" bantu kesehatan mental kala pandemi

Baca juga: Dukungan kesehatan mental untuk atlet korban rasisme

Baca juga: Orangtua boleh curhat, tapi jangan jadikan anak "tong sampah"

Oleh Ida Nurcahyani
Editor: Maria Rosari Dwi Putri
COPYRIGHT © ANTARA 2021

Tanya psikolog: Halau kejenuhan di tengah pembatasan (1)

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar