KPAI: Pandemi COVID-19 muncul sebabkan krisis atas hak anak

KPAI: Pandemi COVID-19 muncul sebabkan krisis atas hak anak

Tangkapan layar Anggota Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) Retno Listyarti dalam webinar di Jakarta, Rabu (7/7). (ANTARA/Indriani)

Jakarta (ANTARA) - Komisi Perlindungan Anak Indonesia menyebut pandemi COVID-19 muncul sebagai krisis tak hanya di bidang kesehatan, namun juga atas hak anak perihal pengasuhan.

Komisioner KPAI Retno Listyarti mengatakan pandemi COVID-19 ini tidak hanya dilihat dari sisi angka-angka statistik saja, namun sisi manusiawi lain yang juga harus dapat perhatian yaitu dampak langsung pada yang sakit dan keluarga, khususnya anak-anak.

“Pandemi COVID-19 telah muncul sebagai krisis atas hak anak. Anak-anak kehilangan orang tua dan pengasuhnya, karena virus COVID-19, membuat mereka sangat rentan dan tanpa pengasuhan orang tua”, ujar Retno dalam keterangannya di Jakarta, Rabu.

Baca juga: KPAI: Tunda PTM terbatas pada tahun ajaran baru

Retno mengatakan selama dua tahun ini perayaan Hari Anak Nasional (HAN) harus dilakukan dalam kondisi pandemi COVID-19 tentu saja penuh keprihatinan. Apalagi pada Juli 2021 ini, ketika kasus COVID-19 di Indonesia angkanya terus melonjak.

Dia mengungkapkan terdapat 34.000 kasus COVID-19 pada Senin (19/7) dan 38.000 pada Selasa (20/7). Sebelumnya, per Sabtu (17/7), penambahan kasus baru tembus 51.000 dan per Minggu (18/7), kasus baru bertambah 44.721.

Seiring peningkatan kasus COVID-19, angka kematian akibat COVID-19 juga mengalami peningkatan. Total kumulatif kasus COVID-19 yang ditemukan di Indonesia sejak Maret 2020 hingga Selasa (20/7) berjumlah 2.950.058 kasus. Dari jumlah tersebut, pasien COVID-19 di Indonesia yang meninggal dunia sebanyak 76.200 orang.

“Jumlah itu menggambarkan bahwa tidak sedikit anak-anak Indonesia yang kehilangan Ayah atau Ibunya, bahkan kehilangan keduanya karena meninggal akibat sakit COVID-19," ujar Retno.

Jika merujuk pada kasus COVID-19 di India pada 5 Juni 2021 usai kasus COVID-19 melonjak, sebanyak 3.632 anak menjadi yatim piatu karena kedua orang tuannya meninggal akibat COVID-19.

Kemudian 26.176 anak yang kehilangan salah satu orang tuanya karena COVID-19. Data serupa, menurut Retno, bisa saja menimpa anak-anak Indonesia pascalonjakan kasus COVID-19 di Indonesia dua bulan terakhir.

Retno mengatakan di India, kebanyakan dari orang tua anak-anak meninggal saat peningkatan kasus dan kematian pada April hingga Mei 2021. Saat ini, dikabarkan pemerintah India menyediakan anggaran amat besar untuk kehidupan anak-anak ini, dan mengumumkan langkah-langkah untuk membantu anak-anak tersebut.

“Salah satunya adalah, bantuan uang senilai 1 juta rupee (setara dengan Rp195 juta), yang akan diberikan kepada setiap anak sebagi tunjangan, dari usia 18 hingga 23 tahun. Dana tersebut diberikan melalui skema PM-CARES,” kata Retno.

Selain dari pemerintah pusat, pemerintah negara bagian di India juga telah mengumumkan berbagai inisiatif untuk membantu anak-anak yang kehilangan orang tuanya akibat pandemi COVID-19.

“COVID-19 ini bukan hanya masalah kesehatan masyarakat, dan bukan hanya tentang dampak sosial ekonomi, tetapi ini adalah masalah mendasar kemanusiaan. Jadi perlu penanganan yang manusiawi, berdasarkan nilai-nilai kemanusiaan dan kepentingan terbaik bagi anak," ujar Retno.

Baca juga: KPAI sebut belum ada penolakan vaksinasi untuk anak
Baca juga: KPAI minta kasus kekerasan seksual anak Jakarta Utara diusut tuntas
Baca juga: KPAI apresiasi gerak cepat pemerintah penuhi hak vaksin pada anak

Pewarta: Devi Nindy Sari Ramadhan
Editor: Triono Subagyo
COPYRIGHT © ANTARA 2021

KPAI Temanggung edukasi perilaku anti perundungan pada siswa

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar