KLHK: Penumbuhan kesadaran masih jadi tantangan pengelolaan sampah

KLHK: Penumbuhan kesadaran masih jadi tantangan pengelolaan sampah

Tangkapan layar dari Kepala Sub Direktorat Barang dan Kemasan KLHK Ujang Solihin Sidik (kanan) dalam diskusi virtual Forum Ekonomi Sirkular Indonesia, Jakarta, Jumat (23/7/2021). ANTARA/Prisca Triferna

ini masih akan menjadi PR besar
Jakarta (ANTARA) - Kepala Sub Direktorat Barang dan Kemasan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) Ujang Solihin Sidik mengatakan menumbuhkan kesadaran publik masih menjadi tantangan terbesar terkait isu pengelolaan sampah di tanah air.

Dalam diskusi virtual Forum Ekonomi Sirkular Indonesia kr-4 yang dipantau dari Jakarta, Jumat, Ujang mengutip data Indeks Perilaku Ketidakpedulian Lingkungan Hidup oleh Badan Pusat Statistik pada 2018 yang menemukan 72 persen masyarakat masih tidak peduli dengan pengelolaan sampah.

"Kalau ini tidak ditumbuhkan ini masih akan menjadi PR besar kita sampai generasi berikutnya. Ini tantangan yang harus kita hadapi, salah satu PR terbesar kita adalah membangun kesadaran publik," kata Ujang.

Terkait proses peningkatan kesadaran publik akan pentingnya proses pengolahan sampah, Ujang menegaskan edukasi memiliki peran besar dan memerlukan waktu dan konsistensi.

Baca juga: Indonesia tekankan pentingnya ekonomi sirkular di tengah pandemi
Baca juga: CSO surati 8 CEO e-commerce minta tidak gunakan plastik sekali pakai


Di KLHK sendiri, menurut Ujang, memiliki rancangan terkait komunikasi informasi edukasi pengelolaan sampah yang bertujuan untuk mencapai pengurangan dan penanganan sampah.

Pesan terkait manfaat yang bisa didapatkan dari pengurangan dan penanganan sampah juga harus disampaikan kepada publik agar dapat mendorong perubahan perilaku.

"Pesan-pesan ini penting yang sedang menjadi grand design kami di KLHK ketika berbicara soal komunikasi informasi dan edukasi ini," jelasnya.

Dia juga menjelaskan terdapat beberapa tantangan untuk melakukan edukasi yaitu anggaran yang terbatas dan sering kali tidak menjadi prioritas, produksi yang tidak murah dan sulit dilakukan di beberapa jaringan serta dampak edukasi yang tidak bisa terlihat secara instan.

Baca juga: KLHK: Peta jalan pengurangan sampah penting untuk ekonomi sirkular
Baca juga: Ubah sampah jadi pupuk, Star-up Sampangan meraih SEED Awards 2021
Baca juga: KLHK: Ekonomi sirkular dapat jadi solusi konkret persoalan sampah

Pewarta: Prisca Triferna Violleta
Editor: Budhi Santoso
COPYRIGHT © ANTARA 2021

Perlunya pengolahan sampah sebelum berangkat ke TPA

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar