Anggota DPR: Perlu perhatikan anak kehilangan orangtua akibat COVID-19

Anggota DPR: Perlu perhatikan anak kehilangan orangtua akibat COVID-19

Dokumentasi-Anggota Komisi I DPR RI Christina Aryani. ANTARA/HO-DPP Partai Golkar

Kita perlu memberi perhatian lebih agar perlindungan anak pada masa pandemi lebih ekstra
Jakarta (ANTARA) - Anak-anak yang kehilangan orangtua akibat COVID-19 perlu mendapat perhatian, karena mereka rentan menjadi korban eksploitasi, kata Anggota Komisi I DPR RI Christina Aryani pada acara diskusi, di Jakarta, Jumat.

Karena itu, ia mengusulkan pihak rumah sakit yang mendata kematian pasien COVID-19, agar turut memilah korban-korban orangtua yang meninggalkan anak mereka sehingga menjadi yatim piatu.

“Juga pihak RT/RW atau Pemerintah bisa membuka aduan khusus agar anak-anak ini mendapat perhatian. Baru-baru ini KPAI (Komisi Perlindungan Anak Indonesia, Red) juga mengingatkan ini, dan kami mendukung agar ada perhatian,” ujar Aryani, sebagaimana dikutip dari keterangan tertulisnya yang diterima, di Jakarta, Jumat.

Christina saat menjadi pembicara pada acara diskusi itu menyampaikan jumlah anak-anak yang menjadi korban eksploitasi naik 2,5 kali lipat selama pandemi COVID-19.

Catatan Simfoni PPA (Sistem Informasi Online Perlindungan Perempuan dan Anak) mencatat sebelum pandemi COVID-19 ada 2.851 kasus kekerasan anak, tetapi selama pandemi kasus itu naik jadi 7.190, kata Christina pula.

“Tentunya masih banyak yang luput dari pemantauan, sehingga diperkirakan angkanya jauh lebih tinggi. Situasinya tidak bisa dibilang biasa, kita perlu memberi perhatian lebih agar perlindungan anak pada masa pandemi lebih ekstra lagi kita lakukan,” kata dia menegaskan.

Anak-anak, menurut Christina, rentan menjadi korban eksploitasi ekonomi dan seksual. Eksploitasi ekonomi, salah satunya ditunjukkan dengan perdagangan anak, prostitusi anak, dan anak-anak yang dipaksa bekerja oleh orang dewasa.

“Bentuk-bentuk eksploitasi anak seperti ini sangat marak terjadi. Kondisi himpitan ekonomi pada ujungnya mengorbankan anak-anak. Ini sangat terbuka kita lihat di jalan-jalan, termasuk di media sosial banyak sekali anak dimanfaatkan untuk aktivitas seksual. Jadi, isu ini terjadi di sekitar kita, dekat dengan keseharian kira dan membutuhkan perhatian agar kasus-kasus kekerasan anak bisa kita tekan,” kata Christina Aryani menerangkan.

Dalam kesempatan itu, bertepatan dengan peringatan Hari Anak Nasional, Christina pun meminta agar seluruh pemangku kepentingan terkait agar lebih gencar mengedukasi warga soal pentingnya perlindungan terhadap anak.

“Situasi krisis banyak melahirkan krisis baru jika kita tidak waspada. Demikian halnya COVID-19 yang telah melahirkan banyak krisis baru yang salah satunya eksploitasi terhadap anak Indonesia,” ujar dia lagi.

Untuk itu, kementerian, lembaga pemerintah nonkementerian, DPR RI, dan media perlu bahu-membahu memastikan anak-anak di Indonesia aman dan terlindungi dari ancaman eksploitasi ekonomi maupun seksual, ujar Christina menegaskan.
Baca juga: Menko PMK prihatin banyak ibu hamil dan anak jadi korban COVID-19
Baca juga: KPPPA sebut pegiat PATBM salah satu garda depan penanganan COVID-19

Pewarta: Genta Tenri Mawangi
Editor: Budisantoso Budiman
COPYRIGHT © ANTARA 2021

Kunjungi Kantor Berita Antara, Christina Aryani diskusikan siaran digital

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar