Artikel

Skateboard dan kisah dua anak sekolahan menggebrak Tokyo 2020

Oleh Jafar M Sidik

Saya senang sekali menjadi (atlet Jepang peraih medali emas) termuda, dalam Olimpiade pertama saya

Bukan sekadar olah raga

Tapi masuknya skateboarding ke Olimpiade sebenarnya tidak pernah mudah karena ditentang para penggemar olah raga ini yang bersikukuh skateboarding bukan untuk dikompetisikan, apalagi diasosiasikan dengan mencari keuntungan dari sponsor, iklan atau hak siar.

"Memang ada sisi atletiknya, tetapi ini juga gaya hidup," kata Charlotte Hym, anggota tim skateboard Prancis kepada FRANCE 24. "Banyak video, grup musik, seni, yang terhubung kuat dengan skateboarding."

"Seharusnya ini tak boleh dianggap cabang olah raga dalam makna yang kaku," timpal rekannya, Vincent Milou. "Ini lebih merupakan keadaan pikiran."

Tapi di banyak tempat, skateboarding dianggap kegiatan yang melanggar hukum, sampai-sampai dilarang di tempat umum dan bahkan sering berurusan dengan polisi.

Saat bersamaan, skateboarding pelan-pelan menjadi kegiatan arus utama, berkat kompetisi-kompetisi skateboard seperti X Games yang sudah diadakan sejak medio 1990-an dan juga karena video game seperti Pro Skater yang dirilis pada 1999.

Skateboarding juga menjadi bagian budaya pop yang merentang dari musik sampai film, bahkan sepanjang 2018 ada tiga film besar berlatarkan skateboard.

Baca juga: Dua atlet skateboard Indonesia ikuti kualifikasi Olimpiade ke AS

Kini penerimaan arus utama kepada skateboarding mencapai level baru setelah cabang olah raga ini melakukan debut dalam Olimpiade Tokyo, dengan melombakan dua disiplin; park dan street, putra dan putri.

Aurelien Giraud, juga anggota kontingen skateboard Prancis untuk Tokyo 2020 dan berlomba pada nomor street putra, mengkritik mereka yang menentang skateboard masuk Olimpiade.

"Mereka yang anti Olimpiade adalah yang anti kompetisi. Bagi mereka, tempat skateboarding itu di jalanan," kata dia. "Saya harap Olimpiade ini membuat orang kian ingin mendalami olah raga ini, tapi orang semestinya jangan menggeluti skateboarding hanya karena ingin ke Olimpiade."

Kelvin Hoefler dari Brazil dan Jagger Eaton dari Amerika Serikat yang memperoleh medali perak dan perunggu nomor street putra Tokyo 2020 yang dijuarai atlet Jepang Yuto Horigome, sependapat dengan sejawat-sejawatnya dari Prancis itu.

"Skateboarding itu jauh lebih besar dari sekadar cabang olah raga, ini bentuk seni," kata Eaton setelah menyelesaikan final street putra itu kemarin.

"Ini gerai kreatif. Hanya saja banyak orang yang belum melihatnya dalam cara seperti itu," sambung dia seperti dikutip Reuters.

Hoefler sependapat dengan Eaton. Dia juga berharap Olimpiade Tokyo membuat semakin banyak orang yang mendalami skateboard.

Baca juga: Uji coba skateboard untuk Olimpiade Tokyo ditunda Mei
 
Skateboarder Jepang Yuto Horigome dalam street final putra Olimpiade Tokyo 2020 di Ariake Ariake Sports Park Skateboarding di Tokyo pada 25 Juli 2021.
(AFP/JEFF PACHOUD)

Oleh Jafar M Sidik
Editor: Fitri Supratiwi
COPYRIGHT © ANTARA 2021

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar