IMF turunkan proyeksi RI, Kemenkeu: Pemerintah jalankan 5 strategi

IMF turunkan proyeksi RI, Kemenkeu: Pemerintah jalankan 5 strategi

Kepala Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Kementerian Keuangan, Febrio Nathan Kacaribu. ANTARA/Sella Panduarsa Gareta/am.

Proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia dari IMF untuk 2021 yakni 3,9 persen masih dalam rentang proyeksi pemerintah pada 3,7 sampai 4,5 persen
Jakarta (ANTARA) - Kementerian Keuangan menegaskan pemerintah terus fokus menjalankan lima strategi seiring pengumuman International Monetary Fund (IMF) yang menurunkan proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia 2021 sebesar 0,4 persen yaitu dari 4,3 persen menjadi 3,9 persen.

“Proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia dari IMF untuk 2021 yakni 3,9 persen masih dalam rentang proyeksi pemerintah pada 3,7 sampai 4,5 persen,” kata Kepala Badan Kebijakan Fiskal Kemenkeu Febrio Kacaribu di Jakarta, Rabu.

Febrio menyebutkan lima strategi Indonesia ke depan akan terus fokus pada upaya pengendalian pandemi, melindungi kesejahteraan masyarakat, mendorong pemulihan ekonomi nasional, serta meningkatkan daya saing.

Ia mengatakan Indonesia akan terus mengambil manfaat dari prospek ekonomi global yang masih kondusif sembari mewaspadai risiko-risiko yang ada yaitu kehadiran varian Delta serta percepatan dan akselerasi vaksinasi.

Selain itu, risiko yang diwaspadai juga meliputi potensi percepatan normalisasi kebijakan moneter AS sebagai implikasi dari percepatan pemulihan ekonomi yang berpotensi mendorong pembalikan arus modal menuju negara tersebut.

Tak hanya itu, permintaan produk ekspor yang diperkirakan masih baik seiring solidnya outlook pertumbuhan global juga menjadi peluang untuk terus mendorong kinerja manufaktur Indonesia pada 2021.

Volume perdagangan global sepanjang 2021 diprediksi mencatatkan kinerja yang solid yaitu mengalami pertumbuhan sebesar 9,7 persen atau naik 1,3 persen.

Pertumbuhan yang kuat pada aktivitas perdagangan menunjukkan bahwa sektor eksternal juga menjadi faktor utama yang mendorong tumbuhnya ekonomi global.

Ferbrio menjelaskan adanya ancaman varian Delta membuat Indonesia terus memperkuat kebijakan di bidang kesehatan dan perlindungan sosial dengan terus menambah alokasi anggaran untuk program PEN dalam APBN.

“APBN hadir memberi perluasan perlindungan sosial dan dukungan bagi UMKM yang diiringi upaya percepatan penyalurannya,” ujarnya.

Ia menegaskan Indonesia harus dapat belajar dari pengalaman berbagai negara dalam kurun waktu 1,5 tahun terjadinya pandemi yaitu pemulihan akan terjadi jika diiringi dengan penanganan kesehatan yang tepat.

Indonesia saat ini menargetkan untuk mendorong vaksinasi harian di tingkat 1,5 juta dosis dan akan terus ditingkatkan secara gradual. Per 27 Juli 2021, total kumulatif vaksin yang telah diberikan pada masyarakat mencapai 63,94 juta dosis. Pemerintah juga memastikan jumlah vaksin terus tersedia agar percepatan vaksinasi dapat dilaksanakan sesuai target yang ditetapkan.

“Vaksinasi memang merupakan salah satu kebijakan kunci bagi setiap negara untuk mengendalikan pandemi COVID-19,” ujarnya.

Baca juga: Sri Mulyani: Revisi proyeksi IMF dan OECD tunjukkan ada pemulihan
Baca juga: Faisal Basri kritik proyeksi IMF terkait pertumbuhan ekonomi 2021
Baca juga: Gubernur BI: Indonesia lebih optimis dibanding proyeksi IMF

 

Pewarta: Astrid Faidlatul Habibah
Editor: Faisal Yunianto
COPYRIGHT © ANTARA 2021

BI tegaskan dana alokasi SDR dari IMF bukan utang

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar