Himawan Soetanto, Jago Perang yang Cinta Damai

Himawan Soetanto, Jago Perang yang Cinta Damai

Jakarta (ANTARA News) - “Saja tahu dharmabhakti Siliwangi tidak sedikit. Tanpa adanja kekuatan militer jang riel di bidang keamanan dan pertahanan, maka kita tidak akan dapat berdikari di bidang ekonomi, bebas di bidang politik dan berkepribadian di bidang budaya”.

Itulah cuplikan sambutan Presiden Soekarno/Panglima tertinggi ABRI pada tanggal 20 Mei 1965, dalam rangka memperingati HUT Komando Daerah Militeri (Kodam) VI Siliwangi di Lapangan Tegalega, Bandung.

Relatif jarang memang Presiden RI membuat pidato khusus untuk upacara HUT sebuah Kodam, dan mengucapkan apresiasi terhadap pasukan Kodam tersebut.

Namun pada awal tahun 1960-an, memang peran pasukan Siliwangi sangat besar dalam menjaga persatuan dan kesatuan Indonesia. Pasukan Siliwangi-lah yang akhirnya menembak mati Kahar Muzakar, pemimpin pemberontakan PRRI, pada tanggal 3 Februari 1965 di tepian Sungai Lasolo, Sulawesi Tenggara.

Sebelumnya pasukan Siliwangi juga-lah yang berhasil menangkap Kartosuwiryo, pimpinan pemberontakan DI/TII, pada tanggal 4 Juni 1962, di Gunung Rokutok, Jawa Barat.

Salah seorang tokoh pasukan Siliwangi, yang turut menghancurkan pemberontakan PRRI adalah Mayor Himawan Soetanto. Dengan pasukan Batalyon 330, ia memimpin serangan balasan terhadap pasukan Letnan Kolonel Andi Sele, anak buah Kahar Muzakar di Polewali, Sulawesi Selatan.

Andi Sele sebelumnya adalah perwira TNI yang kemudian membelot menjadi pemberontak, dengan membawa seluruh persenjataan TNI dan juga sebagian besar dari anak buahnya. Andi Sele kemudian mengatur siasat pertemuan untuk menjebak dan membunuh Kolonel M Yusuf, Panglima Kodam Hasanudin.

Yusuf berhasil lolos dari pembunuhan tersebut. Namun pasukan Kodam Hasanudin sempat terpukul akibat penyergapan yang sangat mendadak.

Bintang Jasa Nararya
Di tengah kekalutan, Mayor Himawan justru mengambil inisiatif untuk memimpin pasukan Batalyon 330/Kujang-1, menyerbu ke sarang para pemberontak PRRI pada tanggal 6 April 1964.

Pasukan Batalyon 330, yang sebenarnya hanya seper-lima dari seluruh kekuatan pasukan PRRI di Polewali, akhirnya berhasil membunuh Andi Sele dan menghancurkan salah satu kekuatan utama pemberontakan Kahar Muzakar di Sulawesi Selatan.

Karena keberaniannya, Panglima TNI Angkatan Darat (PANGAD), Letjen Ahmad Yani memberikan kenaikan pangkat khusus kepada Himawan Soetanto menjadi Letnan Kolonel dan juga Bintang Jasa Nararya pada HUT Kodam Siliwangi ke-19 di Lapangan Tegalega, 20 Mei 1965.

Pada hari itu para tokoh-tokoh Siliwangi yang tergabung dalam Operasi yang bernama "Operasi Kilat", dan telah berhasil menumpas pemberontakan Kahar Muzakar juga mendapatkan penghargaan dari PANGAD.

Tokoh-tokoh tersebut antara lain Kol Solichin GP, Mayor Jogi S Memet, Letkol Djajadi, Letda Umar Sumarna, dan yang cukup terkenal namanya adalah Koptu Sadeli, sang penembak Kahar Muzakar.

Hari ini Rabu 20 Oktober 2010 jam 09:51 di Rumah Sakit RSPAD, Gatot Subroto, Letnan Jendral (Purn) Himawan Soetanto telah berpulang ke pangkuan Allah SWT pada umur 80 tahun.

Meninggalnya Himawan menandai mulai hilangnya satu-per-satu tokoh- tokoh TNI yang relatif jago tempur, dan terus menerus berperang sejak mereka masih berusia remaja.

Tokoh-tokoh ini setelah dewasa, kemudian berperang melawan agresi militer Belanda, dan kemudian menumpas berbagai pemberontakan di tanah air pada kurun waktu tahun 1949 s/d 1965.

Pada era Orde Baru, para tokoh-tokoh TNI, yang sebagian besar telah menjadi Perwira Tinggi, kemudian turut menjaga kestabilan politik Indonesia, di bawah kepemimpinan Presiden Soeharto.

Himawan adalah anak seorang pejuang, Jendral Mohamad Mangoendiprodjo, pimpinan TKR di Jawa Timur dan tokoh peristiwa 10 November 1945.

Sejak umur 16 tahun, Ia sudah bergabung dalam pasukan Sawunggaling untuk bertempur bersama ayahnya di Palagan Surabaya. Ia mulai menembakkan senjata untuk pertama kalinya, saat melawan tentara Inggris pada 28 Oktober 1945 di Wonokromo.

Himawan kemudian menjadi kadet militer akademi di Jogjakarta dan turut bergabung dengan pasukan Siliwangi saat ber-long march kembali ke Jawa Barat.

Berhadapan dengan Mahasiswa ITB
Mengaku sebagai tentara tempur yang tidak suka berpolitik, Himawan mendapatkan ujian politiknya yang pertama saat menjabat sebagai Panglima Kodam Siliwangi.

Pasukan Siliwangi adalah pasukan yang paling ia cintai, dan tempat ia menghabiskan hampir seluruh dari karier militernya.

Pada akhir tahun 1977, suhu politik di Indonesia meningkat menjelang pelaksanaan Sidang Umum MPR pada Maret 1978. Pada 14 Januari 1978, para Mahasiswa ITB menyatakan sikap dengan menolak Soeharto untuk dicalonkan kembali menjadi Presiden RI pada sidang MPR tersebut.

Mahasiswa ITB melakukan berbagai demonstrasi, orasi dan juga mogok kuliah di Kampus ITB untuk menyatakan pendapatnya. Sehingga pada 18 Januari 2010, Pangkopkamtib Laksamana Sudomo menginstruksikan untuk dilaksanakannya "Operasi Kilat".

Operasi ini pada intinya berupa shock treatment kepada para oposan pemerintah Soeharto. Tujuan utama operasi antara lain menangkap dengan serentak para pimpinan Dewan Mahasiswa dan Senat Mahasiswa, melarang terbitnya berbagai koran dan mass media, serta menindak tegas perwira tinggi ABRI yang memberikan "angin" kepada gerakan mahasiswa (dari buku "Menjadi TNI"– Himawan Soetanto).

Walaupun sebagai orang yang jago bertempur, Himawan ternyata lebih memilih pendekatan damai, atau yang ia sebut sebagai indirect approach, untuk membubarkan gerakan demonstrasi mahasiswa di kampus ITB.

Sehingga pada 21 Januari 1978, ia memerintahkan Pasukan Siliwangi untuk menyerbu masuk dan menduduki Kampus ITB, dengan cara-cara damai.

Di dalam kampus ITB, Pasukan Siliwangi terlihat akrab dengan para mahasiswa, seperti menyanyikan lagu-lagu kebangsaan secara bersama-sama di lapangan basket dan juga di lorong-lorong student center.

Himawan sangat yakin dengan pendekatan secara damai ini, karena ia telah berkeliling ke daerah-daerah dan yakin bahwa gerakan mahasiswa tidak didukung oleh rakyat secara luas.

Istilah dalam bukunya, ”tidak ada pengikatan pada mass base”. Menurut Himawan, dengan cara-cara pendekatan damai, gerakan mahasiswa dapat dinetralisasi menjelang Sidang Umum MPR.

Sebaliknya menurut Himawan, jika dilakukan tindakan kekerasan, maka menurutnya akan justru menghasilkan martir dan perlawanan yang lebih hebat lagi kemudian hari.

Tapi pendekatan yang ia lakukan rupa-rupanya tidak membuat atasannya berkenan, yakni Panglima Kopkamtib di Jakarta. Himawan malahan lebih didorong ke arah untuk "berperang" dengan mahasiswa atau mengambil tindakan kekerasan secara militer.

Himawan saat itu dinilai ragu-ragu sebagai seorang militer, pimpinan Kopkamtib menganggap Himawan membiarkan gelombang gerakan mahasiswa berlanjut di wilayahnya.

"Heng, suasana foto ini sebenarnya sangat tegang. Waktu itu saya mencoba menjelaskan approach saya kepada Presiden. Tetapi Presiden menjadi sangat marah," itu penjelasan Himawan kepada saya ketika menceritakan sebuah foto ia sedang berbincang-bindang dengan Presiden Soeharto.

Kedatangan Panglima Kowilhan II/Jawa, Widjojo Soejono, selaku pelaksana khusus Panglima Kopkamtib, untuk berpangkalan di Bandung, bisa dilihat sebagai pengambilalihan komando Himawan Soetanto secara de facto.

Pengambil-alihan ini, menghasilkan peristiwa yang untuk pertama kali terjadi dalam sejarah Indonesia, dan Insya Allah terakhir kalinya di Kampus ITB.

Pada tanggal 9 Februari 1978, Kampus ITB diserbu oleh pasukan TNI dari berbagai penjuru dan diduduki dengan menggunakan tindakan kekerasan militer.

Puluhan mahasiswa luka-luka. Tujuh mahasiswa terpaksa harus dirawat di rumah sakit dan 62 orang mahasiswa ditahan tanpa proses. Para tokoh-tokoh mahasiswa seperti Rizal Ramli, Al Hilal, Indro Tjahjono, Heri Akhmadi dll akhirnya diadili di Pengadilan Negeri Bandung dan kemudian dihukum.

Mereka juga-lah yang nantinya, 20 tahun kemudian, ikut berperan memulai gerakan reformasi, mengakhiri Pemerintahan Soeharto.

Kehidupan hari tua
Dalam bukunya yang ia tulis bersama Daud Sinyal dan Atmadji Sumarkidjo, Himawan menuliskan kata-kata yang cukup penting bagi penerus bangsa ini, “Kekuatan TNI bukanlah untuk politik kekuasaan, apalagi berdiri di atas kekuasaan. Kekuatan TNI senantiasa harus berpijak pada kemauan rakyat dan dukungan rakyat”.

Pada hari tuanya, Himawan lebih banyak menghabiskan masa senggangnya dengan menulis buku-buku sejarah. Buku-buku karyanya antara lain "Rebut Kembali Madiun", "Yogyakarta 19 Desember 1948", "Long March Siliwangi" dan "Serangan Jepang ke Hindia Belanda – Perebutan Wilayah Nanjo".

Sampai akhir hayatnya ia masih sibuk menyelesaikan thesis doktornya untuk bidang ilmu sejarah di UI dan juga di negeri Belanda.

Dalam sebuah suasana santai, ia sempat berkata, "Heng, saya sudah banyak sekali berperang dan membunuh tentara Belanda, tentara Inggris maupun para pemberontak, yang berusaha memecah belah kesatuan dan persatuan Republik ini. Tetapi Alhamdulilah tidak ada satu pun mahasiswa yang meninggal akibat kekerasan militer, saat saya berjaga dan bertugas”.

Saya lihat wajahnya terkesan bangga dan sekaligus puas menyampaikan kalimat ini.

Selamat jalan pamanku, sang jago perang. Terima kasih telah mengajarkan kepada saya, perbedaan nilai-nilai "berjuang untuk rakyat dan berjuang untuk kekuasaan". Semoga Allah SWT mengampuni seluruh dosa-dosamu dan menerimamu di sisiNya yang paling indah. Amien. (***)

*) Penulis adalah Komisaris Pertamina dan juga keponakan dari Himawan Soetanto

Oleh B010
Editor: Bambang
COPYRIGHT © ANTARA 2010

Komentar