BRIN: Pemanfaatan EBT solusi energi masa depan ekonomi dan lingkungan

BRIN: Pemanfaatan EBT solusi energi masa depan ekonomi dan lingkungan

Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Laksana Tri Handoko. (FOTO ANTARA/HO-Humas BRIN)

Untuk memenuhi kebutuhan energi Indonesia di masa depan, BRIN mendorong perkuat ekosistem riset dan inovasi energi baru terbarukan
Jakarta (ANTARA) - Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Laksana Tri Handoko mengatakan pemanfaatan energi baru terbarukan (EBT) dapat memberikan solusi energi di masa depan dan memberikan banyak manfaat, tidak hanya untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi nasional, namun juga manfaat bagi lingkungan.

"Kebutuhan energi di Indonesia diprediksi akan terus meningkat seiring penambahan populasi, perubahan gaya hidup serta pertumbuhan ekonomi. Oleh sebab itu untuk memenuhi kebutuhan energi Indonesia di masa depan, BRIN mendorong perkuat ekosistem riset dan inovasi energi baru terbarukan," kata Kepala BRIN dalam keterangan di Jakarta, Rabu.

Ia mengatakan BRIN selaku lembaga pemerintah yang bertugas menyelenggarakan penelitian, pengembangan, pengkajian, dan penerapan riset dan inovasi di Indonesia, telah menyiapkan riset prioritas energi baru terbarukan dalam Prioritas Riset Nasional 2020-2024.

Selain mengurangi emisi, kata dia, pemanfaatan EBT juga mendorong pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan, dan menciptakan lapangan kerja baru.

Kepala BRIN mengatakan untuk menyiasati ketergantungan Indonesia saat ini terhadap energi fosil, perlu rencana strategis untuk mewujudkan kemandirian energi nasional.

Setidaknya, kata Tri Handoko, ada lima kegiatan utama terkait energi baru terbarukan termasuk penggunaan bahan bakar nabati yang berasal dari kelapa sawit, pemanfaatan biogas untuk penyediaan listrik di tempat-tempat terpencil, pengembangan pembangkit listrik tenaga panas bumi (PLTP) dalam skala kecil, pengembangan baterai listrik dan baterai lithium dengan teknologi pengisian daya cepat (fast charging), serta menjaga pengembangan teknologi nuklir.

Sementara itu Kepala Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) Hammam Riza mengatakan pengembangan EBT tidak bisa berjalan sendiri-sendiri melainkan harus dilaksanakan secara bersama-sama dengan melibatkan pemangku kepentingan terkait, terutama yang terkait dengan pengelolaan energi yaitu Perusahaan Listrik Negara (PLN) dan Pertamina, dan didukung oleh lembaga penyelenggara ilmu pengetahuan dan teknologi nasional.

"Ekosistem teknologi di bidang energi akan menjadi kunci keberhasilan Indonesia mencapai target pemanfaatan EBT, terlebih biaya pendirian infrastrukturnya memiliki tren menurun setiap tahunnya. Oleh karena itu, peluang ini harus dimanfaatkan dan memiliki potensi yang sangat besar jika dikelola secara maksimal," katanya.

Deputi Kepala BPPT Bidang Teknologi Informasi, Energi dan Material Eniya Listiani Dewi mengatakan perlu adanya langkah strategis serta terobosan nyata dalam upaya mencapai target pemanfaatan energi baru dan terbarukan sebesar 23 persen pada tahun 2025, karena saat ini baru mencapai sebesar 13,3 persen.

Ia menambahkan beberapa upaya BPPT dalam dekarbonisasi sumber energi menuju net zero emission antara lain mengembangkan pembangkit listrik tenaga panas bumi skala kecil/ modular, sistem pengisian daya cepat kendaraan listrik, serta pembangkit listrik tenaga biogas .


Baca juga: BPPT: Perkuat ekosistem inovasi PLTP tingkatkan kontribusi EBT

Baca juga: Anggota DPR minta DEN sinergikan kepentingan ketahanan sektor energi

Baca juga: Teknologi digital dan EBT jadi pendorong transisi energi

Baca juga: Riset: Indonesia perlu 92 gigawatt capai 100 persen energi terbarukan

 

Pewarta: Martha Herlinawati Simanjuntak
Editor: Andi Jauhary
COPYRIGHT © ANTARA 2021

Percepatan energi baru terbarukan, strategi kurangi batu bara

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar