Pakar: Transmisi berulang memungkinkan terjadinya mutasi varian baru

Pakar: Transmisi berulang memungkinkan terjadinya mutasi varian baru

Ilustrasi - Dokter memegang tabung tes darah berlabel Covid-19 Varian DELTA, dengan sampel darah positif untuk varian baru yang terdeteksi dari jenis virus corona yang disebut DELTA. ANTARA/Shutterstock/pri.

Diduga yang menjadi salah satu penyebab munculnya varian-varian baru adalah proses transmisi atau penularan virus yang terus berlangsung
Jakarta (ANTARA) - Peneliti Mikrobiologi dari Pusat Penelitian Biologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Sugiyono Saputra mengatakan proses transmisi virus SARS-CoV-2 penyebab COVID-19 yang berlangsung terus-menerus memungkinkan terjadinya mutasi yang dapat membentuk varian baru.

"Diduga yang menjadi salah satu penyebab munculnya varian-varian baru adalah proses transmisi atau penularan virus yang terus berlangsung, yang memungkinkan terjadinya mutasi-mutasi yang dapat membentuk varian baru," kata Sugiyono yang juga Ketua Tim Pengurutan Genom Menyeluruh (Whole Genom Sequencing/WGS) SARS-CoV-2 LIPI saat dihubungi ANTARA di Jakarta, Rabu.

Sugiyono menuturkan transmisi yang terus berlangsung bisa dipengaruhi oleh kemampuan virus itu sendiri atau tingkat kekebalan dari individu atau kelompok.

Baca juga: Epidemiolog: Varian lokal Indonesia sudah ada sejak Desember 2020

Dalam perspektif evolusi, ia menjelaskan virus melakukan mutasi karena berupaya untuk beradaptasi pada lingkungan dan inang yang dalam hal ini adalah manusia, sehingga dimungkinkan terbentuknya varian baru yang bisa bertahan dan menginfeksi kembali inang yang rentan.

Menurut Sugiyono, ketika masih banyak kelompok rentan ataupun kelompok masyarakat yang belum divaksinasi, sehingga kekebalan kelompok belum terbentuk, atau ketika banyak yang tidak memproteksi diri dengan protokol kesehatan, maka itu akan memperbesar kemungkinan transmisi yang lebih meluas sehingga bisa menjadi sumber kemunculan mutasi atau varian baru.

"Mutasi atau varian baru terbentuk ketika virus ini bereplikasi dan 'berpindah' dari satu orang ke orang lain dan salah satu cara untuk menghindarinya adalah dengan memperlambat atau menghentikan proses transmisi ini," ujar dia.

Baca juga: LIPI: Lonjakan kasus COVID-19 di Indonesia didominasi varian delta

Sementara itu, Dosen dan peneliti Mikrobiologi Medis, Biologi Molekuler dan Imunologi di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia Budiman Bela mengatakan perkembangbiakan virus yang tinggi berpotensi menimbulkan varian baru karena laju mutasi akan meningkat jika tingkat kembang biak virus meningkat.

Itu memungkinkan timbulnya varian lokal yang bisa jadi relatif lebih kebal terhadap kekebalan yang sudah timbul sebelumnya, lebih ganas atau lebih mudah berkembang biak dibandingkan varian yang sudah lebih dulu bersirkulasi.

Budiman menuturkan keberadaan varian lokal bisa teridentifikasi melalui kecurigaan akibat adanya hal-hal yang sudah didefinisikan oleh Badan Kesehatan Dunia (WHO) yakni terkait kesulitan deteksi, kekebalan terhadap terapi seperti plasma konvalesen, dan antibodi monoklonal, serta tingkat penularan yang tinggi.

Dia menuturkan kepastian adanya varian lokal dapat diketahui melalui pengurutan genom atau whole genom sequencing.

Baca juga: WHO minta masyarakat Indonesia tetap di rumah untuk tekan laju COVID
 

Pewarta: Martha Herlinawati Simanjuntak
Editor: Virna P Setyorini
COPYRIGHT © ANTARA 2021

Kemenkes perketat prosedur perjalanan luar negeri

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar