Menparekraf: Inovasi, adaptasi, kolaborasi kunci atasi perubahan besar

Menparekraf: Inovasi, adaptasi, kolaborasi kunci atasi perubahan besar

Perajin menyelesaikan kerajinan tas anyaman jali-jali bertema penerapan protokol kesehatan di Desa Sepat, Masaran, Sragen, Jawa Tengah, Selasa (23/3/2021). Ide membuat kerajinan tas anyaman jali-jali yang dijual dengan harga Rp50.000 hingga Rp150.000 tersebut selain bernilai ekonomis juga untuk mengkampanyekan penerapan protokol kesehatan. ANTARA FOTO/Mohammad Ayudha/rwa.

Jakarta (ANTARA) - Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Sandiaga Salahuddin Uno menyampaikan kunci dalam menghadapi megashift (perubahan besar) di sektor pariwisata dan ekonomi kreatif akibat pandemi COVID-19 adalah dengan mengimplementasikan tiga aspek: inovasi, adaptasi, dan kolaborasi. 

Aspek inovasi, memanfaatkan platform digital dalam memasarkan produk kreatif sehingga layanan yang diberikan lebih maksimal. Aspek adaptasi, yakni menerapkan protokol kesehatan yang berlaku di era kenormalan baru. Sedangkan aspek kolaborasi yang dimaksud adalah bekerja sama dengan seluruh unsur pentahelix, sehingga pemulihan dan kebangkitan di sektor pariwisata dan ekonomi kreatif dapat segera terwujud.

Hal ini dikarenakan dampak dari pandemi COVID-19 yang telah mempercepat karakteristik ekonomi pariwisata baru, yaitu berdasarkan hygiene, low mobility, less crowd, dan low touch atau yang biasa disebut Menparekraf dengan personalized, customized, localized, and smaller in size.

“Ini yang harus kita sadari sebagai realita baru, untuk mencetak peluang-peluang baru di tengah pandemi. Untuk itu, inovasi, adaptasi, dan kolaborasi adalah kunci utama kita dalam menghadapi dinamika yang terus terjadi,” kata Sandiaga dikutip dari keterangan resmi, Jumat.

Baca juga: Menparekraf: Maksimalkan platform digital kembangkan desa wisata

Menparekraf menjelaskan bahwa konsep 3A (attraction, amenity, access) juga mengalami perubahan karena terbentuknya ekonomi pariwisata baru. Atraksi pariwisata saat ini lebih mengedepankan budaya dan alam, karena atraksi yang menawarkan konsep eco, wellness, dan petualangan akan lebih diminati dan akan menjadi arus utama baru di industri pariwisata.

Selain itu, amenity berdasarkan aspek keramahtamahan menjadi hal penting yang harus dilakukan para pelaku usaha kepada konsumen. Pelayanan ini tentunya disempurnakan dengan karakteristik dari ekonomi pariwisata baru yang mengedepankan kebersihan, kontak yang diminimalkan dan tidak terlalu ramai orang.

“Karena, di era pandemi, wisatawan semakin peduli terhadap cleanliness, health, safety, and environmental sustainability,” ujarnya.

Kemudian, akses yang meliputi pariwisata mikro domestik karena di tengah pandemi pergerakan wisatawan antarnegara kian dibatasi.

“Sehingga domestic micro tourism akan menjadi pilar terpenting dari megashift yang terjadi di sektor pariwisata,” kata Sandiaga.

Dalam menghadapi perubahan yang terjadi, Menparekraf juga mendorong agar para pelaku usaha di sektor parekraf menyiapkan secara 360 derajat the side, the sound, the feel, the taste, the vibration, the resonance.

Sebab, begitu wisatawan menginjakkan kaki di suatu destinasi wisata, mulai dari musik, aroma, hingga kuliner khas harus dimunculkan.

“Ini yang harus kita hadirkan dengan baik dan semenarik mungkin sebagai produk unggulan di tiap destinasi,” ujarnya.

Baca juga: Anugerah Desa Wisata Indonesia ajang kembangkan potensi desa wisata

Baca juga: Desa Wisata cerminan harapan kebangkitan pariwisata & ekonomi kreatif

Baca juga: Digital UMKM dan vaksinasi untuk pulihkan ekonomi

Pewarta: Nanien Yuniar
Editor: Maria Rosari Dwi Putri
COPYRIGHT © ANTARA 2021

Kolaborasi Kemenparekraf dan PNM Mekaar tingkatkan ekonomi Cirebon

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar