Banjir Bangladesh, "mimpi buruk" ribuan pengungsi Rohingya

Banjir Bangladesh, "mimpi buruk" ribuan pengungsi Rohingya

Pengungsi Rohingya menggendong anaknya pasca kebakaran yang terjadi dua hari lalu di Cox's Bazar, Bangladesh, Rabu (24/3/2021). ANTARA FOTO/REUTERS/Mohammad Ponir Hossain/rwa.

Ini seperti mimpi buruk
Jakarta (ANTARA) - Hujan muson deras memicu longsor dan banjir bandang di kamp pengungsi di tenggara Bangladesh sehingga ribuan etnis Rohingya dipindahkan dari sana pekan ini, kata pejabat dari PBB dan institusi lain.

Sedikitnya enam pengungsi etnis Rohingya, termasuk tiga anak-anak, meninggal dalam kejadian tersebut.

Sementara itu, 15 warga Bangladesh tewas dan lebih dari 200.000 orang terlantar akibat banjir di Cox's Bazar, kata Mamunur Rashid, seorang petugas distrik.

Hampir satu juta pengungsi Rohingya tinggal di kamp-kamp yang sesak di distrik perbatasan Cox's Bazar, permukiman pengungsi terbesar di dunia, setelah melarikan diri dari kekerasan militer di negara tetangga Myanmar pada 2017.

Baca juga: Warga Rohingya keluhkan kondisi di pulau terpencil Bangladesh


Para pengungsi umumnya tinggal di gubuk-gubuk bambu beratap lembaran plastik yang menempel pada bukit-bukit curam dan gundul.

Tayangan TV memperlihatkan rumah-rumah yang tergenang dan air lumpur yang mengalir turun dari undakan dan lereng bukit. Anak-anak bermain dalam genangan air setinggi dada mereka.

"Ini seperti mimpi buruk," kata pengungsi Rohingya Rokeya Begum.

"Saya belum pernah melihat banjir seperti itu di kamp selama empat tahun. Ketika air datang, tak satu pun keluarga saya ada di rumah untuk membantu. Saya sendirian tapi saya bisa membawa barang-barang ke tempat aman. Sekarang saya tinggal bersama keluarga lain."

Baca juga: Rohingya di Bangladesh bangun kembali gubuk mereka setelah kebakaran


Badan pengungsi PBB UNHCR mengatakan lebih dari 21.000 pengungsi telah "terdampak" oleh banjir dan hampir 4.000 tempat pengungsi telah rusak atau hancur.

Mereka mengatakan lebih dari 13.000 orang terpaksa pindah dari kamp tersebut, sementara ribuan fasilitas rusak, termasuk klinik kesehatan dan toilet. Akses telah tertutup akibat rusaknya banyak jalan, jalan setapak, dan jembatan.

Para pengungsi --banyak dari mereka masih belum pulih dari kebakaran hebat yang meludeskan kamp-kamp pada Maret-- mengatakan longsor dan banjir membuat rumah mereka "tertutup lumpur semua".

"Entah bagaimana keluarga saya bisa mengungsi," kata Abu Siddique, yang tinggal di kamp pengungsi Balukhali. "Lumpur datang dari arah bukit dan masuk ke rumah saya... Semua barang milik kami tertutup lumpur."

Sumber: Reuters

Baca juga: Israel siksa tahanan perempuan Palestina

Baca juga: Rumah-rumah sakit kewalahan tangani lonjakan kasus COVID di Thailand

Penerjemah: Anton Santoso
Editor: Fardah Assegaf
COPYRIGHT © ANTARA 2021

52 orang tewas dalam kebakaran pabrik di Bangladesh

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar