Artikel

Deteksi dini ciri-ciri kanker dengan pemeriksaan mandiri

Oleh Livia Kristianti

Deteksi dini ciri-ciri kanker dengan pemeriksaan mandiri

Dokter Andhika Rachman spesialis penyakit dalam dari Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo dalam webinar "“Cegah Kanker, Deteksi Dini Sekarang Juga!”, Sabtu (31/7/2021) (ANTARA/Livia Kristianti)

Jakarta (ANTARA) - Dokter spesialis penyakit dalam Dr.dr Andhika Rachman SpPD-KHOM dari Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) membagikan beberapa cara untuk mendeteksi kanker dengan pemeriksaan mandiri yang bisa dilakukan masyarakat di rumah tanpa perlu berkonsultasi terlebih dahulu, beberapa cara yang dibagikan meliputi gejala umum hingga cara mendeteksi kanker berdasarkan lokasinya.

Deteksi dini ini ada baiknya dilakukan pada masyarakat yang memiliki hubungan darah dengan penderita kanker karena sering kali faktor kanker semakin besar pada orang- orang dengan anggota keluarga yang sebelumnya pernah mengalami kanker sejenis.

Baca juga: Gaya hidup dan pola makan tak sehat jadi pemicu utama kanker

“Kalau secara umum sebenarnya tubuh sudah memberikan tanda- tanda terjadi suatu kanker, misalnya seperti demam. Demam yang muncul itu bukan karena terjadi suatu infeksi jadi suhu normal manusia itu 36,7 Celcius sampai 37,2 Celcius sedangkan untuk demam penderita kanker itu biasanya di atas 37,2 Celcius tapi di bawah 38 Celcius. Keluhan demam itu biasanya disertai ciri khas kedinginan biasanya di sore hari sampai dini hari. Lalu ada juga benjolan di bagian tubuh,lalu ada rasa nyeri yang tidak tertahan dan dirasakan terus menerus,” kata dokter Andhika dalam webinar “Cegah Kanker, Deteksi Dini Sekarang Juga!”, Sabtu.

Selain tanda- tanda yang disebutkan di atas, dr Andhika juga membagikan beberapa ciri khusus dari kanker- kanker yang sering dialami secara global dan juga di Indonesia sehingga anda bisa melakukan deteksi dini penyakit kanker secepat mungkin.

Untuk kanker paru atau kelenjar getah bening, sebagai kanker yang paling umum ditemui baik di dunia maupun di Indonesia penderita kanker paru dan kelenjar getah bening umumnya merasakan nyeri di dada, disertai batuk kering yang terus menerus.

Selain itu gejala lainnya yang dialami oleh penderita kanker paru adalah mengalami nafas yang pendek, saat tidur mengeluarkan bunyi, dan sering kali mengeluarkan dahak yang kuning terus menerus.

Baca juga: Dokter: Kanker paru jadi penyebab kematian tertinggi di Indonesia

Batuk terus menerus dan nyeri di dada terjadi pada penderita kanker paru karena adanya sumbatan pada bagian paru yaitu trakea dan bronkus atau bronkeolus.

“Paru merupakan organ pernafasan yang terdiri dari trakea, bronkus, dan bronkeolus. Batuk- batuk dan nyeri yang dialami karena adanya benda asing di bronkus dan bronkeolus, seperti massa tumor yang membesar, atau munculnya kelenjar getah bening di area trakea yang pelan- pelan mengurangi proses pertukaran oksigen karena adanya sumbatan itu,” kata dokter yang juga aktif di Yayasan Kanker Indonesia (YKI) itu.

Selanjutnya, ia turut membagikan gejala khusus yang dialami penderita kanker payudara. Kanker payudara biasa dialami oleh perempuan dan bisa dideteksi sejak dini mulai dari remaja melalui gerakan SADARI (Periksa Payudara Sendiri) atau anda bisa mencari video pemeriksaan dini kanker payudara pada perempuan lewat kata kunci Breast Self Examination (BSE).

Dengan meraba sendiri searah jarum jam atau berlawanan jarum jam, perempuan bisa mendeteksi dirinya memiliki potensi kanker payudara atau tidak. Deteksi BSE atau SADARI baiknya dilakukan satu minggu setelah menjalani menstruasi.

Ada pun gejala umumnya adalah adanya benjolan di sekitar payudara, adanya kemerahan dan keluhan nyeri pada saat payudara diraba atau disentuh, selain itu juga adanya benjolan mencurigakan di dekat ketiak seperti kelenjar getah bening.

Baca juga: Saran dokter untuk pasien kanker paru di tengah pandemi

Selanjutnya adalah cara mendeteksi dini kanker usus, kanker usus bisa dideteksi secara mudah dan sering dialami oleh orang yang jarang mengonsumsi makanan bergizi dan memiliki pola makan yang tidak sehat.

Ada pun gejala umum yang dialami di antaranya penurunan berat badan yang signifikan misalnya dalam satu bulan orang tersebut mengalami turun berat badan sebanyak 10 kilogram, lalu mengalami gangguan buang air besar (BAB), hasil ekskresi atau tinja tidak memiliki bentuk yang konsisten, tidak hanya itu bau dari tinja juga perlu diperhatikan untuk memastikan anda mengalami kanker usus atau tidak.

Terakhir, dokter Andhika pun membagikan gejala khusus untuk mendeteksi kanker serviks atau kanker mulut rahim yang menjadi salah satu dari kanker yang paling sering dialami oleh wanita di Indonesia.

Ada pun gejala yang umum dialami oleh penderita kanker mulut rahim di antaranya sering mengalami pegal di bagian pinggang, nyeri pada saat buang air kecil, pendarahan di luar masa menstruasi, pendarahan saat melakukan hubungan seks, dan siklus menstruasi yang lebih panjang dari periode yang seharusnya.

“Untuk kanker serviks, bisa juga dilakukan papsmear. Baiknya dilakukan setelah proses menstruasi berakhir sehingga kita bisa melihat gambaran kondisi mulut rahim,” kata dokter Andhika.

Jika gejala-gejala itu sering kali anda alami, maka sebisa mungkin dan sebaiknya anda segera berkonsultasi ke dokter untuk mendapatkan penanganan lebih lanjut.

Hal itu berkaca dari temuan kasus di Indonesia, 70 persen penderita kanker baru mengetahui penyakitnya di tahap kronis karena sebelumnya setelah merasakan gejala- gejala yang disebutkan di atas justru malah merasa masih baik- baik saja.

Sehingga ia menyarankan jika anda memiliki riwayat keluarga yang pernah menderita kanker dan juga mengalami gejala yang sudah disebutkan maka sebaiknya segera melakukan pemeriksaan ke tenaga medis di fasilitas- fasilitas kesehatan terdekat termasuk yang termudah menggunakan layanan telemedisin untuk kondisi pandemi seperti saat ini.

Baca juga: YKPI: Kerja sama pengendalian kanker payudara harus ditingkatkan

Pencegahan Tambahan
Deteksi dini untuk orang- orang yang memiliki anggota keluarga dengan silsilah yang dekat penting dilakukan agar generasi selanjutnya tidak perlu mengalami hal serupa dan menambah angka kasus kanker di Indonesia.

Selain memiliki angka fatal yang berbahaya jika sudah di stadium akhir, penderita kanker dipastikan tidak bisa tertolong jika sudah berada di tahap terlambat tertangani.

“Pada akhirnya meski sudah banyak pengobatan- pengobatan mutakhir untuk menyembuhkan kanker, tetap yang terbaik adalah melakukan deteksi dini dan hidup dengan pola hidup sehat sehingga bisa mencegah. Memang kanker sangat berisiko untuk diturunkan dari garis keturunan, tapi untuk faktor yang bisa diubah tentunya kita bisa mencegah,” kata dokter Andhika.

Ia pun menyampaikan sebagian besar pola hidup yang tidak sehat yang harus dihindari seperti merokok, minum- minuman beralkohol, dan membiarkan stres berkelanjutan.

Di samping itu ia berharap masyarakat bisa melakukan diet sehat dengan gizi seimbang, berolahraga atau beraktivitas fisik secara teratur, dan bisa menjaga berat tubuh yang ideal sesuai dengan tinggi badan.

“Kita berharap yang terbaik untuk kita semua, tidak hanya para survivor kanker tapi juga semua masyarakat. Terus pastikan agar pola makan teratur, tidur yang cukup, serta asupan vitamin tercukupi dan tidak berlebihan,” tutup Andhika.


Baca juga: Ahli ajak perempuan lebih peduli dengan kanker serviks

Baca juga: Kenali gejala kanker payudara dan penanganannya


Oleh Livia Kristianti
Editor: Ida Nurcahyani
COPYRIGHT © ANTARA 2021

Mi jerami nangka muda pencegah kanker usus besar

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar