Artikel

Mereka yang ceria kemudian berduka

Oleh Sri Muryono

Mereka yang ceria kemudian berduka

Tangkapan layar seejumlah siswa foto bersama kepala sekolah dan guru SMK Tunas Jakasampurna, Kota Bekasi, Jawa Barat, usai wisuda pada Selasa (22/6/2021). ANTARA/Sri Muryono

Virus corona (COVID-19) telah merengut kehidupannya
Jakarta (ANTARA) - "You're still the one
First time our eyes met
Same feeling I get
Only feels much stronger
I want to love you longer"


Senandung "Please Forgive Me" yang dilantun Bryan Adams itu mengiringi langkah demi langkah sebuah akhir dari proses tiga tahun yang telah dilalui. Langkah yang perlahan dari mereka seolah menyiratkan beratnya menerima perpisahan.

Hari itu, 22 Juni 2021, sebuah prosesi pelepasan siswa yang telah dinyatakan lulus berlangsung sederhana, namun khidmat.

Di sebuah aula terbuka SMK Tunas Jakasampurna, Kota Bekasi, Jawa Barat, seluruh rangkaian kegiatan tuntas dalam tempo sekitar dua jam.

Acara bertajuk "graduation" itu diikuti siswa yang telah dinyatakan lulus. Tentu saja orang tua atau wali murid/siswa juga hadir.

Wabah virus corona yang sedang tinggi kasusnya, disadari menjadi persoalan tersendiri dan terberat bagi dunia pendidikan.Tetapi dengan protokol kesehatan (prokes) semua kendala bisa dilalui dengan segala kekurangan dan kelebihannya.

Dimulai dari pemeriksaan suhu di pintu masuk sekolah hingga fasilitas cuci tangan disiapkan di sekitar lokasi acara. Tentu saja semua pakai masker.

Baca juga: Kemendikbudristek: SMK Pusat Keunggulan bisa dikembangkan di daerah 3T

Yang juga diterapkan adalah tidak ada makan dan minum di lokasi acara. Setiap siswa dan orang tua/wali murid mendapatkan makanan dan minuman, tetapi tidak boleh makan atau minum di tempat.

Bukan hanya tempat duduknya yang berjarak, bahkan ada larangan untuk "ngobrol" satu sama lain. Sejak awal sebelum dimulai, suasana serius mewarnai acara itu tetapi lantunan Micheal Learn To Rock menjadikan keseriusan berubah sedikit lebih santai.

Sertifikat
Dalam suasana seperti itu, acara demi acara dilangsungkan. Kepala sekolah kejuruan ini, Bela Ayu Sukendari, mewisuda siswa yang telah dinyatakan lulus.

Saat itu diserahkan pula tanda kelulusan untuk siswa dua jurusan, yakni Teknik Komputer Jaringan (TKJ) dan Multimedia (MM).

Dia bersyukur kegiatan bisa berlangsung lancar meski dalam suasana pembatasan-pembatasan. Yang lebih disyukuri, di masa sulit akibat wabah COVID-19 semua tahap pembelajaran bisa terlaksana secara baik.

Apalagi selain dilakukan secara daring (online), pembelajaran untuk mata pelajaran praktikum harus tetap tatap muka. Itulah tantangan berat pembelajaran untuk sekolah vokasi di tengah wabah ini.

Namun, kendala itu bisa dilalui hingga akhirnya para siswa dinyatakan lulus. Kini mereka sedang menapaki tahap baru dalam hidupnya dengan pilihan-pilihan masing-masing.

Ada yang ingin bekerja, ada pula yang ingin membuka usaha sendiri. Pun demikian tak sedikit yang meneruskan ke jenjang perguruan tinggi.

Baca juga: Kemendikbud minta pemda berperan dalam program SMK Pusat Keunggulan

Beberapa telah diterima di jenjang pendidikan yang dihelat Telkom Bandung dan perguruan tinggi lainnya.

Bintang Tegar Aryana yang menyampaikan kesan dalam bahasa Inggris sebagai siswa di SMK ini, misalnya, telah diterima melalui jalur beasiswa di Kalbis Intitute, Pulomas, Jakarta Timur, sejak awal Desember 2020.

Bagi yang ingin bekerja pun, para lulusan SMK sudah memiliki keterampilan yang memadai sesuai jurusannya. Keterampilan untuk dunia kerja bagi lulusan SMK dibuktikan dengan adanya sertifikat sesuai jurusannya.

Itulah kelebihan pendidikan di SMK, lulusannya selain mendapatkan tanda kelulusan berupa ijazah juga memperoleh sertifikat sesuai jurusannya. Maka peluang pada pilihan selanjutnya pun luas mulai kuliah, bekerja atau membuka usaha sendiri.
Tangkapan layar siswa diwisuda oleh kepala sekolah dan guru SMK Tunas Jakasampurna, Kota Bekasi, Jawa Barat, pada Selasa (22/6/2021). ANTARA/Sri Muryono
Canda-duka
Melalui platform komunikasi yang aktual saat ini, keceriaan masih terdengar di kalangan siswa yang baru saja lulus. Canda dan tawa lepas kerap terdengar di antara mereka, bahkan beberapa hari setelah seremoni kelulusan itu.

Hingga akhirnya, canda dan ceria itu seketika berubah duka yang teramat dalam ketika kepala sekolah mereka, Bela Ayu Sukendari, meninggal dunia pada pertengahan Juli 2021. Virus corona (COVID-19) telah merengut kehidupannya.

Virus corona memang sedang berkecamuk di berbagai belahan dunia. Tak ada satupun negara yang bisa mengklaim wilayah dan penduduknya bebas dari virus tersebut.

Baca juga: Kemendikbud: SMK Pusat Keunggulan antisipasi bonus demografi

Dampaknya tak hanya kesehatan dan ekonomi tetapi semua relung kehidupan. Dunia pendidikan adalah salah satunya.

Sejak diumumkan pertama kali pada 2 Maret 2020 dengan baru dua orang terinfeksi, hingga kini atau 1,5 tahun kemudian sebanyak 3.409.658 orang telah menjadi korban. Jumlah itu setelah pada Sabtu (31/7) ada pertambahan kasus terkonfirmasi secara nasional sebanyak 37.284 kasus.

Dari jumlah itu, pasien sembuh secara nasional sebanyak 2.770.092. Namun 94.119 orang meninggal.

Kini berita atau informasi kematian masih sering terpublikasi di aplikasi percakapan grup. Juga kerap dikumandangkan dari pengeras suara tempat-tempat ibadah.

Suara lengkingan sirine ambulans juga kerap terdengar dari kejauhan baik pagi, siang, sore, bahkan malam. Itu adalah kedukaan atas kehilangan keluarga, kolega, teman, kerabat serta guru.

Maaf
Terpatri benar di kalangan siswa mengenai pembinaan yang dilakukan almarhumah Ibu Bela Ayu Sukendari bersama para guru hingga siswa sekolah ini bisa lulus di tengah wabah virus corona.

Betapa tak mudah menyelenggarakan pembelajaran tatap muka karena mata pelajaran pendidikan vokasi tak cukup hanya disampaikan secara daring.

Ada pelajaran yang harus disampaikan secara tatap muka, terutama yang menyangkut materi praktikum. Karena itu, satu-dua hari dalam sepekan siswa dan guru harus ke sekolah.

Baca juga: Presiden berharap pendidikan tatap muka bisa dilakukan semester II

Tentu ada kesepakatan antara siswa dengan guru maupun guru/pihak sekolah dengan orang tua murid mengenai prosedur pertemuan tatap muka. Selama beberapa bulan, proses itu bisa dijalani secara baik.

Hasil pembelajaran tatap muka di tengah pembatasan interaksi dan penerapan protokol kesehatan (prokes) ketat juga baik yakni seluruh siswa berhasil lulus.

Karena itu, keceriaan dengan prokes ketat mewarnai selebrasi kelulusan. Kumandang "Indonesia Raya" mengawali selebrasi dan sesi foto mengakhiri seluruh prosesi.

Wisudawan dan orang tuanya melalui perwakilan masing-masing selain menyampaikan terima kasih atas upaya yang tidak mudah menyelenggarakan pembelajaran di tengah wabah, juga meminta maaf kepada pihak sekolah.

Mungkin ada siswa angkatan ini yang bandel atau sering membuat kesal.

Kini para alumni yang baru diwisuda telah memasuki jenjang kehidupan barunya mulai dari kuliah ke jenjang perguruan tinggi, bekerja atau membuka usaha. Semua pada pilihan masing-masing.

Terngiang pula di kalangan orang tua murid wejangan almarhumah saat itu agar siswa yang baru lulus terus berjuang mengejar cita-cita, menjaga nama baik sekolah dan orang tua. Juga menjaga Indonesia serta jangan merusak alam.

Ia pun meminta maaf. "Please Forgive Me"
 

Oleh Sri Muryono
Editor: Edy Sujatmiko
COPYRIGHT © ANTARA 2021

PTM digelar, Satgas COVID-19 ingatkan kesehatan peserta didik

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar