Kelurahan Cilandak Barat ubah "styrofoam" jadi media menanam sayur

Kelurahan Cilandak Barat ubah "styrofoam" jadi media menanam sayur

Kondisi tanaman slada di media tanam styrofoam yang digalakkan Kelurahan Cilandak Barat, Jakarta Selatan, Senin (2/8/2021). (ANTARA/Dokumentasi Pribadi)

Jakarta (ANTARA) - Kelurahan Cilandak Barat, Kota Jakarta Selatan meluncurkan inovasi dengan memanfaatkan limbah stryofoam (busa polistirena) menjadi media untuk menanam sayuran dalam program urban farming (pertanian kota) di wilayah itu.

Untuk penggunaan busa polistirena itu, setiap kotak limbah stryofoam yang telah diisi dengan tanah akan ditanami selada, sayur jenis pak cok, dan kangkung yang disesuaikan dengan kapasitas masing-masing.

Baca juga: Balai Penyuluh Pertanian Ujung Menteng panen raya 90 kilogram sayur

Kepala Seksi Ekonomi dan Pembangunan Kelurahan Cilandak Barat R Jajang Mulyana di Jakarta, Senin, mengatakan selain untuk mengurangi limbah plastik, inovasi itu juga bertujuan untuk memberdayakan masyarakat setempat agar tetap produktif di tengah pandemi.

"Urban farming dengan penggunaan styrofoam sudah mulai kita galakkan kembali sekitar tiga minggu lalu, yang bekerja sama dengan PKK dan masyarakat kita, nantinya kelompok tani akan mengolah hasil panen sehingga bernilai jual," kata Jajang.

Jajang menjelaskan kegiatan tersebut sempat "mati suri" karena pandemi COVID-19 yang membatasi aktivitas warga di luar rumah.

Lebih lanjut dia menyampaikan bahwa sebelum pandemi, jumlah styrofoam yang dimanfaatkan dapat mencapai 50. Namun saat ini jumlahnya hanya 15, yang akan terus ditingkatkan lagi.

Menurut dia, penurunan tersebut tak lepas dari penggunaan lahan Ruang Publik Terpadu Ramah Anak (RPTRA) Intan sebagai tempat vaksinasi COVID-19 setiap harinya.

Baca juga: PKK Cilangkap beri pasien isoman sayuran hasil pertanian kota

"Saat ini luas lahan yang kita pakai hanya sekitar 50 meter, ini berkurang karena RPTRA Intan sebagai lokasi urban farming kita digunakan sebagai tempat vaksinasi, jadi otomatis berkurang," ujar Jajang.

Kondisi ini juga berimbas terhadap penurunan tingkat partisipasi warga per hari. Menurut Jajang, dari 30 anggota yang terdaftar, hanya enam orang yang masih aktif mengikuti kegiatan tersebut.

Karena itu dia berharap agar dalam waktu mendatang, kegiatan itu semakin banyak diikuti warganya. Termasuk para kelompok tani binaan Suku Dinas Ketahanan Pangan, Kelautan, dan Pertanian Jakarta Selatan.

"Karena COVID-19 kita manfaatkan petugas dari kelurahan untuk menyiram dan merawat sayuran kita. Sementara dari kelompok, ada 3 orang yang bergiliran seminggu dua kali," tutur Jajang.

Baca juga: Kelompok Tani Fatmawati panen sayuran hasil pertanian perkotaan

Pewarta: Sihol Mulatua Hasugian
Editor: Taufik Ridwan
COPYRIGHT © ANTARA 2021

Mentan bahas konsep pertanian perkotaan bersama Walkot Solo

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar