Artikel

Kisah si raja gulat mengukir sejarah besar di Tokyo 2020

Oleh Jafar M Sidik

Kisah si raja gulat mengukir sejarah besar di Tokyo 2020

Pegulat Kuba Mijain Lopez Nunez berpose dengan medali emas yang merupakan medali emas Olimpiade keempatnya dalam seremoni medali di Makuhari Messe Hall A, Chiba, Jepang, Senin (2/8/021). ANTARA/REUTERS/Piroschka Van De Wouw/am.

Jakarta (ANTARA) - Tak terlalu disorot media, di matras gulat Olimpiade Tokyo 2020 di Makuhari Messe Hall, tercipta sejarah baru lainnya dari Olimpiade yang dimundurkan satu tahun oleh pandemi ini.

Adalah Mijain Lopez Nunez dari Kuba yang membuat tonggak baru Olimpiade itu ketika dia merebut medali emas gulat Greco-Roman atau Yunani Romawi kelas 130kg dari Olimpiade keempat yang dia ikuti.

Pegulat berusia 38 tahun itu tak bisa menyembunyikan kegembiraan manakala berhasil mencapai hal yang sebelumnya tak bisa dilakukan.

Pegulat kelas berat super terhebat di dunia itu memenangkan medali emas keempatnya dari empat kali mengikuti Olimpiade sejak 2008.

Darah, keringat dan air mata selama bertahun-tahun latihan dan bertarung mengucur dalam momen di Makuhari Messe Hall, Chiba, Senin 2 Agustus kemarin. Si Raksasa dari Herradura itu meninjukan tangan ke udara untuk meluapkan kegembiraannya yang tak terkira.

Juara Olimpiade Beijing 2008, London 2012 dan Rio 2016 itu lalu mengangkat pelatihnya Raul Trujillo dan kemudian membentangkan bendera Kuba di arena.

 
Pegulat Kuba Mijain Lopez Nunez mengangkat sang pelatih setelah memastikan meraih medali emas pada kelas 130kg Greco-Roman putra Olimpiade Tokyo 2020 di Makuhari Messe Hall A, Chiba, Jepang, 2 Agustus 2021 (ANTARA/REUTERS/PIROSCHKA VAN DE WOUW)


Sebelumnya, hanya pegulat putri Jepang Kaori Icho yang bisa memenangkan empat medali emas dari empat Olimpiade, yakni Athena 2004, Beijing 2008, London 2012 dan Rio de Janeiro 2016.

Baca juga: Gulat akhirnya akan dipertandingkan di Olimpiade

Dan kini ada lima atlet sepanjang sejarah Olimpiade modern yang memenangkan emas dari empat Olimpiade berbeda. Tiga atlet lainnya adalah perenang Michael Phelps, sprinter sekaligus pelompat jauh Carl Lewis dan pelempar cakram Al Oerter yang ketiganya dari Amerika Serikat.

Sebelum masuk arena Senin itu, hanya ada satu orang yang bisa menghentikan Lopez Nunez merengkuh pencapaian fenomenal itu. Orang itu adalah Iakobi Kajaia yang sebelas tahun lebih muda yang juga juara Eropa dan perempat finalis Rio 2016.

Namun Lopez Nunez tak sudi begitu saja menyerahkan mahkota Olimpiade yang sudah dia kenakan selama 13 tahun terakhir itu.

Dan dia melakukannya dengan meyakinkan karena tak kehilangan satu pun poin, seperti dia lakukan selama turnamen ini. Sungguh gaya bergulat yang paripurna.

Kegembiraan meletup begitu bel tanda berakhirnya pergulatan berbunyi tatkala skor 5-0 untuk Lopez Nunez.

"Saya bahagia dan bangga menjadi yang terbaik di dunia dan menciptakan sejarah," kata dia seperti dikutip laman Olympics.com.

Selanjutnya hasrat besar

Oleh Jafar M Sidik
Editor: Junaydi Suswanto
COPYRIGHT © ANTARA 2021

KONI: PON XX Papua berkaca pada Olimpiade Tokyo 2021

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar