Kami memang harus kreatif supaya dapat menghidupi 18 ribu karyawan yang tersebar di pelosok
Jakarta (ANTARA) - Direktur Perhutanan Sosial dan Operasional Perum Perhutani Natalas Anis Harjanto menyampaikan sembilan strategi sebagai langkah untuk mengembangkan perusahaan di 2021

"Kami memang harus kreatif supaya dapat menghidupi 18 ribu karyawan yang tersebar di pelosok. Mulai dari Jawa Barat, Banten, sampai dengan Jawa Timur, (dan) Madura,” ujar Natalas dalam diskusi virtual di Jakarta, Selasa.

Ia mengatakan strategi pertama adalah pembentukan e-commerce platform agar kawasan hutan termonitor secara digital, sehingga dapat lebih baik dalam mengelola kawasan hutan.

Baca juga: Perhutani siapkan 70 ribu hektare untuk hutan tanaman energi

Kemudian, pihaknya mencoba co-firing biomassa sebagai upaya memanfaatkan tanaman-tanaman yang berpotensi menjadi biomassa dengan menggandeng Perusahaan Listrik Negara (PLN) dan PT Perkebunan Nusantara (PTPN).

"Ini terkait dengan energi terbarukan di tahun 2023, termasuk di tahun 2045 bahwa kita harus menghilangkan batu bara," katanya.

Selanjutnya, tambah dia, strategi ketiga adalah menghidupkan wisata-wisata alam yang masih berada di kawasan Perhutani guna memperoleh pemasukan lebih besar.

Langkah keempat, ialah menciptakan new Perhutani herbal brand sebagai bentuk partisipasi di tengah pandemi COVID-19 yang cenderung membutuhkan sesuatu yang berkaitan dengan herbal.

Cara kelima, menurut Natalas, adalah membuat Perhutani Digital Forest Live atau semacam ruang kontrol sehingga dapat mengontrol kondisi sumber daya hutan.

Strategi keenam adalah menghadirkan new biomass factory yang nantinya akan dijadikan satu pabrik untuk mengolah berbagai tanaman sehingga dapat dijual ke BUMN atau pihak swasta.

Baca juga: PLN jalin kerja sama industri biomassa co-firing PLTU batu bara

Langkah ketujuh adalah membuat Perhutani Subsidiaries Reorganization atau mereorganisasi anak-anak perusahaan yang berada dibawah Perhutani agar lebih berdaya guna dan memberikan deviden yang baik.

Kedelapan, adalah ketahanan pangan agroforesty tebu. Strategi terakhir, ialah socio foresty partnership yang masih membutuhkan diskusi maupun pertimbangan lebih mendalam.

"Kami juga masih wait and see. Di dalam aturan ini kami masih belum tahu atau belum bisa diperkenankan bekerja sama dengan masyarakat, ini masih belum ada hitam di atas putihnya," kata Natalas.

Baca juga: Gakkum Kementerian LHK tindaklanjuti perusakan hutan di Karawang

Baca juga: PLN gandeng PTPN III-Perhutani cari pasokan biomassa untuk PLTU


Pewarta: M Baqir Idrus Alatas/Satyagraha
Editor: Satyagraha
Copyright © ANTARA 2021