Olimpiade

Meski dibayangi cedera, Mawem bersaudara tembus final panjat tebing

Meski dibayangi cedera, Mawem bersaudara tembus final panjat tebing

Mickael Mawem dari Prancis (kiri) dan Ludovico Fossali dari Italia berlomba dalam kualifikasi nomor bouldering panjat tebing Olimpiade Tokyo 2020 di Aomi Urban Sports Park - Tokyo, Jepang, 3 Agustus 2021. ANTARA/REUTERS/Clodagh Kilcoyne.

Jakarta (ANTARA) - Kakak beradik Bassa dan Mickael Mawem dari Prancis mencapai final kompetisi panjat tebing putra, tetapi masih diliputi pertanyaan apakah mereka akan melanjutkan lomba setelah Bassa terlihat cedera di akhir babak kualifikasi dalam debut cabang olahraga pada Olimpiade Tokyo 2020, Selasa.

Mickael yang berusia 31 tahun, memuncaki daftar delapan atlet yang akan berebut medali emas pertama panjat tebing dari tiga nomor sekaligus, yakni speed yang merupakan sprint ke atas; bouldering yang menguji keterampilan dalam memecahkan masalah pada dinding rendah; dan lead yang merupakan gerakan mendaki yang dibatasi waktu.

Dua puluh pemanjat tebing top dunia bersinar dalam penampilan pertama mereka di panggung Olimpiade di tribun kosong di Aomi Urban Sports Park karena tiada penonton akibat pembatasan ketat terkait pandemi.

Lebih dari sepertiga atlet dalam daftar itu mencatatkan rekor terbaik pribadinya dalam nomor pembuka speed di mana Bassa yang berusia 36 tahun dan merupakan peserta paling tua, memimpin setelah melakukan sprint dalam waktu tercepat 5,45 detik yang sedikit di bawah rekor dunia 5,20 detik.

Hasilnya membuat Bassa yang spesialis speed, tetap calon juara sekalipun tampil buruk belakangan ini. Atlet Prancis itu tak dapat menuntaskan bouldering, dan tampaknya mengalami cedera saat nomor lead ketika terjatuh dari dinding dan meninggalkan arena sembari memegangi lengannya.
 
Pemanjat tebing Prancis Bassa Mawem memegang lengannya yang cedera saat kualifikasi nomor kombinasi panjat tebing putra Olimpiade Tokyo 2020 di Aomi Urban Sports Park - Tokyo, Jepang, pada 3 Agustus 2021  (ANTARA/REUTERS/MAXIM SHEMETOV)


Itu adalah hari mengecewakan bagi Mickael, yang berada di urutan ketiga di belakang kakaknya dalam nomor speed, sebelum mendominasi kontes bouldering.

Setelah nomor lead, Mickael mengaku tidak diberitahu kondisi Bassa, tetapi menekankan bahwa kedua bersaudara ini akan tampil bersama dalam final hari ini.

"Pastinya kami (akan) menjalani final, kami pasti main di final dan hanya itu, itu tujuan pertamanya," kata Mickael seperti dikutip Reuters.

Colin Duffy dari Amerika yang baru berusia tujuh belas tahun sehingga menjadi pemanjat termuda, tampil mengesankan dengan menjadi satu-satunya peserta yang finis 10 besar dalam ketiga nomor lomba.
 
Pemanjat tebing Amerika Serikat Colin Duffy saat beraksi di kualifikasi bouldering putra Olimpiade Tokyo 2020 di Aomi Urban Sports Park - Tokyo, Jepang, pada 3 Agustus 2021 (ANTARA/REUTERS/CLODAGH KILCOYNE)


Dia finis ketiga dalam kualifikasi di belakang Tomoa Narasaki dari Jepang.

Rekan senegaranya Duffy Nathaniel Coleman juga lolos dengan tampil bagus pada nomor lead sehingga naik ke urutan kedelapan dari sebelumnya 13 setelah dua putaran pertama.

Adam Ondra dari Republik Ceko yang luas dianggap calon peraih medali teratas, menduduki urutan ke-18 dalam speed yang merupakan kekurangannya, tetapi finis kelima dalam dua nomor lainnya

Format gabungan yang tidak biasa sehingga panjat tebing menjadi seperti triatlon, telah mendorong atlet keluar dari zona nyamannya.

Namun pada Olimpiade Paris 2024 format itu akan dipecah menjadi nomor speed, bouldering dan lead.

Baca juga: Peluang tim panjat tebing Indonesia tampil di Olimpiade 2020 tipis
Baca juga: Aries Susanti siapkan diri ikuti pra-kualifikasi Olimpiade di Prancis
 

Pewarta: Jafar M Sidik
Editor: Junaydi Suswanto
COPYRIGHT © ANTARA 2021

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar