Jerman Ribut Gara-gara Alarm Tsunami Mentawai

Jerman Ribut Gara-gara Alarm Tsunami Mentawai

Pelampung peringatan tsunami (der speigel)

Jakarta (ANTARA News) - Pekan kemarin Jerman gaduh oleh kritik tidak berfungsinya sistem peringatan dini tsunami buatan negeri itu yang dipasang di Indonesia, khususnya Mentawai.

"Senin, ratusan orang Indonesia tewas oleh gelombang tsunami karena peringatan dini tidak sampai ke warga," lapor der Spiegel (29/10).

Media Jerman itu melanjutkan, menyusul tsunami tersebut, muncul pertanyaan di Indonesia mengenai keampuhan sistem peringatan dini yang sepenuhnya dirancang para insinyur Jerman.

Ratusan nyawa melayang gara-gara tsunami yang tinggi gelombangnya bisa sampai delapan meter, sedangkan 25 ribu rumah hancur.

"Kini pada para ilmuwan lokal (Indonesia) mempertanyakan sistem alarm tsunami yang dibangun Jerman di kawasan itu," kupas der Spiegel.

Berlin membenamkan dana 62,2 juta dolar AS (Rp553 miliar) untuk membangun sistem peringatan dini tsunami segera setelah gelombang dahsyat tsunami menewaskan 210 ribu orang di Asia Tenggara pada 2004.

Namun Senin pekan lalu, pelampung-pelampung peringatan dini yang memberi isyarat bakal ada gelombang mendekat itu tetap tidak bereaksi, demikian seorang pakar oseanografi Indonesia seperti dikutip BBC.

Alat bernilai 300 ribu euro itu dilaporkan tak berfungsi, sementara warga Mentawai menyebut sirene peringatan tsunami tak berbunyi, dan gelombang tsunami datang amat mengejutkan.

Kritik itu mungkin keliru, setidaknya sejumlah dokumen pihak otoritas Indonesia menunjukkan justru manusialah yang menjadi penyebabnya, lapor Spiegel Online.

Menurut data itu, sistem peringatan dini tsunami berfungsi baik. Pada 9.47 malam, hanya lima menit setelah alat pencatat gempa menyebutkan ada gempa, sistem peringatan dini yang berbasis di Jakarta itu mengirimkan peringatan bahaya tsunami.

Masalahnya, peringatan itu keluar 39 menit setelah gempa, atau hanya beberapa saat setelah gelombang tsunami menghantam Kepulauan Mentawai.

"Gelombang itu hanya setinggi 23 centimeter di dekat kota Padang," kata Jorn Latuerjung dari Pusat Penelitian Geosains Jerman (GFZ) di Postdam, dekat Berlin.

Sensor gempa dan sistem peringatan dini dipasang selama lima tahun terakhir di Indonesia di bawah tanggung jawab ilmuwan Jerman ini.

Sistem peringatan ini tidak begitu efektif karena episentrum gempa terlalu dekat ke pantai. Tsunami menerjang Mentawai hanya beberapa menit setelah menyentuh pelampung peringatan dini.

"Peringatan tidak bisa dikomunikasikan secepat itu," kata Peter Koltermann, staf pada divisi tsunami di kantor UNESCO.

Tapi, mengapa sirene tanda bahaya tersebut tidak berbunyi semalaman itu?

Penduduk setempat yang menggantungkan diri pada peringatan dini itu --biasa disebut "kilometer terakhir" -- menilai alat itu ditempatkan di titik lemah.

Para teknisi Jerman telah berupaya keras memitigasi masalah-masalah kilometer terakhir ini di sepanjang tiga wilayah pantai. Mereka mengeluhkan ada kesenjangan standard pemasangan alat antara teknisi Indonesia dengan teknisi Jerman.

Misalnya, kabel-kabel malah direntangkan diantara pohon-pohon kelapa, bukan ditanam di tanah seperti diinstruksikan buka manualnya.

Harald Spahn dari GTZ, mengungkapkan dibutuhkan waktu tahunan untuk membuat sistem peringatan dini ini berfungsi lagi di seluruh daerah.

Tetap saja para ahli dinilai gagal karena tsunami datang begitu mengejutkan warga, apalagi gempa sudah terlebih dahulu mengguncang pantai di mana mereka tinggal.

"Mungkin pelatihan tsunami lebih maju diperlukan untuk membuat warga tahu sekali bahaya (tsunami)," kata Koltermann.

Warga Mentawai mengaku tidak menyadari ada gempa karena saat itu hujan lebat turun. Namun saat gelombang tsunami pertama tiba, banyak orang yang berhasil mencapai tempat lebih tinggi.

Seorang pakar dari PBB menegaskan bahwa setidaknya ada satu pelampung peringatan dekat situs bencana yang rusak, tapi itu sudah diketahui lama.

Kebanyakan pelampung peringatan tsunami di Samudera Hindia sudah tidak laik pakai. Salah satu pelampung buatan Jerman rusak karena ditumbuhi ganggang laut, sedangkan yang lainnya pecah dilabrak kapal penangkap ikan.

Suatu waktu, lima dari enam pelampung peringatan tsunami ini hilang dicuri perampok. Mereka mempereteli alat ini sebelum kemudian dijual ke pasar.

Sebenarnya pelampung peringatan tsunami ini tidak begitu penting, karena hanya untuk mencek cuaca bawah laut setelah terjadi gempa yang dapat memicu tsunami.

Tapi setelah guncangan gempa dahsyat seperti terjadi Senin pekan lalu, alarm otomatis selalu berbunyi. "Dalam kasus seperti ini, Anda tak perlu data pelampung," kata Koltermann.

Yang menjadi soal, warga perlu tahu bahwa ada gempa kuat di dasar samudera, dan tetap tak bisa dijelaskan mengapa warga Mentawai tak memperoleh data ini Senin itu.

Para pakar gempa memperingatkan bahaya tsunami berikutnya.

Penelitian-penelitian yang ditempuh pakar gempa Kerry Sieh pada Obervatorium Bumi di Singapura menunjukkan bahwa gempa di tepi barat pulau Sumatera itu menciptakan efek domino (reaksi berantai).

Satu gempa akan memicu gempa lainnya. Sieh mengatakan gempa yang lebih kuat dari gempa Senin lalu akan terjadi lagi segera.

Para ilmuwan yakin bahwa wilayah dekat Pulau Siberut, Sumatera, terancam terkena gempa besar berkekuatan 8,8 Skala Richter, yang akan memicu tsunami amat dahsyat. demikian der Spiegel. (*)

disadur Jafar Sidik

Penerjemah:
Editor: Jafar M Sidik
COPYRIGHT © ANTARA 2010

Kilas NusAntara Pagi

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar