Artikel

Tatkala varian Delta mengguncang China

Oleh M. Irfan Ilmie

Tatkala varian Delta mengguncang China

Kaum lansia berkerumun di arena permainan tradisional di kawasan permukiman warga di Tuanjiehu, Beijing, China, Jumat (6/8/2021). (ANTARA/M. Irfan llmie)

Beijing (ANTARA) - Nanjing sebenarnya bukan kota pertama di China yang terserang COVID-19 varian Delta. Ruili, kota kecil di perbatasan China-Myanmar, ditengarai menjadi tempat masuk varian itu dan kini untuk yang keempat kalinya akses keluar-masuk kota itu ditutup atau lockdown.

Lockdown terakhir diterapkan otoritas kota di Provinsi Yunnan itu, yang kerap kali menjadi "jalur tikus" pelaku perjalanan lintas-batas, pada 5 Juli setelah ditemukan tiga kasus positif sehari sebelumnya.

Beberapa distrik di Kota Guangzhou dan Kota Foshan, Provinsi Guangdong, sudah terlebih dulu menutup akses pada 31 Mei setelah munculnya varian baru COVID-19.

Kedua kota itu menjadi pangkalan utama kedatangan pelaku perjalanan internasional, baik warga negara China maupun warga negara asing yang kembali ke China.

Bandar Udara Internasional Baiyun di Guangzhou yang sepanjang tahun 2020 telah menampung 43,77 juta penumpang, terpaksa membatalkan 519 jadwal penerbangan per hari sejak varian Delta menginfeksi warga provinsi di wilayah selatan daratan Tiongkok itu pada 21 Mei.

Namun dalam kurun waktu kurang dari sebulan, kota-kota di Provinsi Guangdong itu sudah membuka lagi aksesnya.

Demikian pula dengan Ruili, yang tidak membutuhkan waktu lama untuk pulih, terutama setelah sejumlah pejabat publik dipecat karena dianggap tidak becus dalam menegakkan protokol kesehatan anti-epidemi.

Baca juga: Lagi, 15 pejabat China dipecat akibat COVID Delta dan satu ditahan

Kasus Delta di Guangzhou dan Yunnan berbeda dengan di Nanjing, ibu kota Provinsi Jiangsu, di pesisir timur China.

Sejak pertama kali ditemukan tujuh kasus positif pada staf Bandara Internasional Lukou di Nanjing pada 20 Juli, Delta yang tadinya dianggap biasa-biasa saja tiba-tiba menjadi ancaman serius yang menghantui warga China.

Bagaimana tidak, kurang dari sepekan varian itu telah merambah ke 30 kota yang tersebar di 18 dari 31 provinsi di China.

Hingga 5 Agustus saja, kasus varian Delta dari klaster Nanjing telah menjangkiti 600 warga di kota itu.

Wajarlah jika 13 provinsi lain yang hingga kini belum menemukan kasus Delta akhirnya mengeluarkan peringatan dini bahaya varian tersebut.

Berbagai agenda besar akhirnya batal digelar, termasuk ajang tahunan "Beijing International Book Fair" yang sedianya mulai dibuka pada pertengahan bulan ini.

Terpukul

Kenapa penyebaran varian Delta dari Nanjing begitu masif, bahkan dampaknya lebih dahsyat?

Pertanyaan itu tidak terlontar begitu saja tanpa ada fakta pembanding. Kemunculan Delta di Nanjing justru lebih belakangan ketimbang kasus yang terjadi di Ruili dan Guangzhou.

Apalagi Nanjing juga bukan hub utama arus kedatangan penerbangan internasional, seperti Guangzhou, dan bukan pula jalur lintas-batas seperti Ruili.

Klaster Nanjing itu muncul ketika China sudah menyuntikkan lebih dari 1,7 miliar dosis vaksin. Jadi, jangkauan vaksinasi di China lebih besar dibandingkan sebelum munculnya klaster Nanjing.

Baca juga: China laporkan lebih banyak kasus COVID-19

Apalagi jika mencermati pernyataan pakar penyakit menular pernapasan akut Prof. Zhong Nanshan bahwa munculnya kasus di Guangzhou pada Mei lalu disebabkan karena cakupan vaksinasi yang belum maksimal.

Namun, kasus yang berawal dari hasil tes mendadak pada 20 Juli malam di Bandara Lukou. setelah kedatangan maskapai Air China nomor penerbangan CA910 dari Rusia itu, ternyata berdampak luar biasa.

Fakta mengejutkan muncul di Zhangjiajie, kota di Provinsi Hunan yang populer hingga mancanegara karena menjadi latar belakang film "Avatar".

Ketenangan kota wisata perbukitan di wilayah tengah China itu tiba-tiba berubah menjadi kepanikan.

Sebuah pertunjukan seni di gedung teater kota itu, yang memukau 2.000 penonton dari berbagai daerah di China, berubah menjadi ajang menakutkan setelah ratusan orang dinyatakan positif.

Dalam sekejap kota wisata Zhangjiajie menjelma menjadi kota karantina bagi warga setempat dan wisatawan yang terperangkap dalam skema lockdown.

Beijing, yang sejak pandemi melanda China pada awal 2020 sampai sekarang, terus dijaga kesterilannya juga tak luput dari dampak klaster Nanjing.

Sedikitnya enam warga ibu kota China itu terinfeksi COVID-19 varian Delta dan memaksa otoritas setempat memperketat akses keluar-masuk kota.

Dua bandara internasional di Beijing menangguhkan sementara puluhan jadwal penerbangan, terutama relasi Nanjing dan Zhangjiajie. Dari kedua kota itulah warga Beijing tertular.

Baca juga: Dituduh pemicu Delta, perempuan tua asal Nanjing ditangkap polisi

"Warga Beijing tidak boleh melakukan perjalanan ke kota-kota tempat terjadinya epidemi. Hotel dan warga juga tidak boleh menerima tamu orang-orang yang memiliki riwayat perjalanan di kota-kota epidemi," demikian pesan singkat yang diterima ANTARA dari otoritas Pemerintah Kota Beijing, Jumat (6/8).

Pola penyebaran varian Delta dari Nanjing ini hampir sama dengan kasus pertama COVID-19 yang ditemukan di Wuhan, Provinsi Hubei, pada awal 2020.

Kesamaannya terletak pada faktor "timing" dan "magnitude". Jika kasus pertama COVID-19 ditemukan di Wuhan menjelang liburan musim dingin, maka Delta di Nanjing terjadi pada liburan musim panas.

Pada musim liburan sekolah tersebut, mobilitas masyarakat China sangat tinggi.

Virus varian Delta terbang bersama para penumpang pesawat dari Nanjing, demikian hasil pelacakan otoritas setempat tentang adanya sekelompok wisatawan domestik dari Shenyang, Provinsi Liaoning, yang transit di Bandara Lukou sebelum melanjutkan perjalanan ke Zhangjiajie.

Liburan musim panas yang merupakan liburan akhir semester bagi pelajar di China sampai saat ini masih berlangsung.

Baca juga: Kasus di Nanjing akhirnya terkonfirmasi sebagai varian Delta

Harapan didatangi jutaan wisatawan yang sudah di depan mata harus hilang begitu saja.

Pemecatan 35 pejabat publik di Nanjing dan Zhangjiajie serta penangkapan dua warga yang dianggap memicu terjadinya penyebaran wabah baru tidak banyak menolong para pelaku industri pariwisata.

Pulihnya industri pariwisata setelah gagal mengisi pundi-pundi pada libur musim dingin atau Imlek awal tahun ini tinggal harapan belaka.

Sektor ikutan lainnya, seperti transportasi dan akomodasi, ikut terpukul setelah sejumlah pemerintah provinsi mengeluarkan imbauan kepada warga agar tidak meninggalkan kota sampai situasi benar-benar terkendali.

Pembatalan pemesanan tiket pesawat dan hotel melalui aplikasi Qunar.com pada tanggal 29 Juli saja mencapai empat kali lipat lebih tinggi daripada hari-hari biasa.

"Harapan bangkitnya pasar pariwisata pada musim panas ini suram. Pendapatan sektor pariwisata dari berbagai objek di wilayah tengah dan timur anjlok lebih dari 50 persen," kata Manajer Pemasaran CYTS Tours Holding Co, Xu Xiaolei.

Kalau saja tidak ada klaster Nanjing, dia yakin pasar wisata domestik di China akan pulih 90 persen.

Baca juga: Wuhan dapati tujuh kasus pada warga lokal, pertama sejak Juni 2020
Baca juga: Kasus COVID-19 di bandara Nanjing menyebar, diduga varian Delta

 

Oleh M. Irfan Ilmie
Editor: Anton Santoso
COPYRIGHT © ANTARA 2021

Pria Jepang 69 tahun hanyut di laut lepas selama sehari

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar