Greta Thunberg buka suara soal "greenwashing" hingga pakaian miliknya

Greta Thunberg buka suara soal "greenwashing" hingga pakaian miliknya

Aktivis iklim asal Swedia Greta Thunberg bicara dengan media sebelum melakukan pertemuan dengan para menteri lingkungan hidup di Brussels, Belgia pada 5 Maret 2020. ANTARA/REUTERS/Johanna Geron/aa.

Jakarta (ANTARA) - Aktivis iklim Greta Thunberg telah menggunakan wawancara dengan majalah gaya dan budaya terkemuka untuk menyebut perusahaan mode cepat atau fast fashion menggunakan strategi "greenwashing" untuk mengambil simpati para konsumen.

Greenwashing sendiri adalah strategi komunikasi atau pemasaran satu perusahaan (dalam hal ini industri fashion) untuk memberikan citra yang ramah lingkungan, baik dari segi produk, nilai, maupun tujuan perusahaan tanpa benar-benar melakukan kegiatan yang berdampak bagi kelestarian lingkungan.

Dalam sebuah unggahan di media sosial Instagram, Thunberg menampilkan foto dirinya untuk sampul edisi pertama Vogue Scandinavia. Dalam keterangan unggahan tersebut Thunberg berbicara tentang kontradiksi antara mode produksi massal dan fesyen keberlanjutan.

“Banyak yang membuat seolah-olah industri fesyen mulai mengambil tanggung jawab, dengan menghabiskan jumlah fantasi pada kampanye di mana mereka menggambarkan diri mereka sebagai 'berkelanjutan', 'etis', 'hijau', 'netral iklim' dan 'adil',” tulis Thunberg.

Baca juga: Generasi muda dunia lakukan protes lawan perubahan iklim

"Tapi mari kita perjelas, hampir tidak pernah sungguh-sungguh ada (ramah lingkungan) selain murni 'greenwashing'. Anda tidak dapat memproduksi fesyen secara massal atau mengkonsumsi produk berkelanjutan karena dunia (fesyen) saat ini dibentuk tidak benar-benar untuk itu. Itulah salah satu dari banyak alasan mengapa kita membutuhkan perubahan sistem.”

Thunberg kemudian menjelaskan bahwa industri fesyen adalah penyumbang besar terjadinya keadaan darurat iklim dan ekologi.

"Belum lagi dampaknya terhadap pekerja dan komunitas yang tak terhitung jumlahnya yang dieksploitasi di seluruh dunia agar beberapa orang dapat menikmati mode cepat, dan mereka hanya memperlakukan mode ini sebagai sekali pakai saja," ujar Thunberg.

Dalam wawancaranya untuk Vogue Scandinavia dia juga menjelaskan bahwa terakhir kali dia membeli produk fesyen adalah tiga tahun yang lalu.

"Dan itu adalah barang bekas. Seringkali saya hanya meminjam sesuatu dari orang yang saya kenal," ujar dia.


Salah paham

Thunberg menambahkan bahwa ada kesalahpahaman seputar sikap para aktivis. Menurut dia banyak orang berpendapat bahwa aktivis iklim memiliki pendapat negatif dan pesimis tentang kondisi iklim dunia.

Citra yang nampak pada aktivis iklim disebut Thunberg sebagai pihak yang paling suka mengeluh masalah iklim dan lingkungan dan bertindak sebagai penyebar ketakutan.

"Tidak begitu, tetapi itu justru sebaliknya kami melakukan ini karena kami berharap, kami berharap bahwa kami akan dapat membuat perubahan yang diperlukan,” ujar Thunberg

Gambar sampul majalah Vogue Skandinavia itu menampilkan Thunberg seolah-olah tengah berada di hutan sambil membelai seekor kuda. Foto bernuansa surealis fantasi itu diambil oleh fotografer Alexandrov Klum. Vogue Scandinavia sendiri dipimpin oleh Rawdah Mohamed, wanita berhijab pertama yang menjadi editor di majalah mode barat, demikian The Guardian.

Baca juga: Greta Thunberg balas cuitan, imbau Trump "santai" soal pilpres

Baca juga: Hindari penyalahgunaan, Greta Gunberg daftarkan nama jadi merek dagang

Baca juga: Priyanka Chopra akan berbicara di Forum Ekonomi Dunia

 

Pewarta: Maria Rosari Dwi Putri
Editor: Alviansyah Pasaribu
COPYRIGHT © ANTARA 2021

Fesyen dari daur ulang limbah tekstil mulai diminati

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar