Semarang (ANTARA News) - Gelombang eksodus warga dari berbagai kawasan rawan bencana letusan Gunung Merapi di Jawa Tengah menjadikan puluhan desa di lereng gunung itu sunyi, seperti "kampung mati" tak bertuan.

Tak ada suara ternak yang biasanya memecah kesunyian pedesaan, juga tak ada aktivitas penduduk yang sehari-hari bekerja sebagai petani dan peternak. Jalan-jalan di desa-desa itu sunyi, tanpa ada lalu lalang warga. Suara anak-anak juga sudah berpindah ke lokasi pengungsian.

Hingga Sabtu pengungsi terus berdatangan di pos penngungsian dan kantor pemerintah Kabupaten Boyolali, Klaten, dan Kabupaten Magelang yang disulap menjadi lokasi pengungsian.

Merapi, gunung berapi teraktif di Indonesia, sampai Sabtu pukul 11.00 WIB masih mengeluarkan gemuruh, yang suaranya terdengar jelas dari jarak sekitar 20 kilometer dari puncak gunung itu.

Belasan desa yang sepi ditinggal penghuninya itu di Kecamatan Kemalang, Kabupaten Klaten, ada 13 desa yang hampir 80 persen penduduknya mengungsi ke tempat yang lebih aman dari jangkauan letusan Merapi.

Seperti di Desa Balerante, Bawukan, Keputran, dan Panggung situasinya sekarang seperti "desa hantu" karena banyak debu vulkanik berterbangan dan pohon-pohon pada roboh terkena letusan Merapi.

Selain itu, puluhan desa di Kabupaten Magelang dan Boyolali juga sudah ditinggalkan warganya yang mencari lokasi aman dari letusan Merapi.

Ketebalan abu vulkanik dari muntahan Merapi yang mengguyur di daerah tersebut minimal mencapai 10 centimeter.

Kepala Desa Keputran, Kecamatan Kemalang, Kabupaten Klaten, Wuryanto Nugroho, mengatakan jumlah penduduk yang ada didaerahnya tercatat 3.053 jiwa dan sebagian besar juga ikut mengungsi akibat letusan Merapi.

"Warga Keputran yang mengungsi akibat letusan Gunung Merapi baru pertama kali ini, sebelumnya setiap Merapi meletus juga tidak sebesar ini," kata Wuryanto Nugroho.

Sementara jumlah pengungsi akibat meletus Gunung Merapi di daerah perbatasan antara Jawa Tengah (Jateng)-Jogjakarta yang ditampung di lokasi pengungsian Klaten mencapai 40 ribu jiwa.

Kabag Humas Kabupaten Klaten Sugeng Haryanto, Sabtu, mengatakan sebanyak 40 ribu lebih pengungsi itu berasal dari Kabupaten Boyolali, Klaten, Jawa Tengah dan Kabupaten Sleman, D.I. Yogyakarta, tersebar di 100 titik pengungsian. Untuk pengungsi yang ditempatkan di kompleks perkantoran Kabupaten Klaten dan Gedung DPRD Klaten saja mencapai 8.100 orang.

Puluhan ribu lebih pengungsi yang tersebar di 100 titik lokasi pengungsian itu rencananya mulai Sabtu (6/11) akan ditempatkan menjadi satu lokasi, utamanya yang berada di rumah-rumah penduduk.

"Untuk korban jiwa sampai sekarang belum punya data yang pasti, mudah-mudahan tidak ada korban jiwa," katanya.

Dari Magelang dilaporkan sebagian warga lereng barat puncak Gunung Merapi yang mengungsi terutama di beberapa tempat di Muntilan, Kabupaten Magelang, pulang ke rumahnya hanya sebentar untuk kemudian kembali ke penampungan di kota kecamatan itu, Sabtu.

"Hanya pulang untuk mengambil pakaian dan menengok rumah, memberi makan sapi," kata Kisno, warga Dusun Gemer, Desa Ngargomulyo, Kecamatan Dukun yang mengungsi di salah satu penampungan di Muntilan.

Seorang warga Dusun Tangkil, Desa Ngargomulyo, Setiyo, mengatakan, pulang ke rumah bersama isterinya untuk mengambil pakaian dan surat-surat penting untuk selanjutnya kembali ke pengungsian di Muntilan.

"Kemarin tidak sempat membawa pakaian ganti dan surat-surat penting, tetapi hanya sebentar pulang, sekitar satu jam, ini akan kembali ke Muntilan lagi," katanya ketika ditemui di Dusun Windusari, Desa Ngargomulyo.

Berbagai kawasan setempat tertutup abu vulkanik dampak semburan awan panas Merapi selama beberapa hari terakhir. Hingga sekitar pukul 11.00 WIB puncak Merapi terlihat dari cek dam Tangkil Desa Ngargomulyo, sekitar 6,5 kilometer barat puncak gunung yang terletak di perbatasan antara Jawa Tengah dengan Daerah Istimewa Yogyakarta itu.

Merapi terlihat menyemburkan awan panas terus menerus secara vertikal. Sesekali terlihat kilat yang juga disebut oleh warga setempat sebagai "thathit" dari awan panas itu. Suara geluduk di langit juga terdengar sesekali di kawasan setempat.

"Semburan awan panas Merapi sekarang secara vertikal," kata Petugas Pengamatan Gunung Merapi secara bergerak dari kawasan barat, Yulianto.

Begitu juga di Taman Wisata Candi Borobudur ditutup total untuk sementara bagi wisatawan menyusul hujan abu vulkanik hasil semburan awan panas Gunung Merapi akhir-akhir ini yang menutupi kawasan tersebut.

Kepala Unit Taman Wisata Candi Borobudur (TWCB), Pujo Suwarno, di Magelang, Sabtu, mengatakan mulai Jumat (5/10) pukul 10.00 WIB objek wisata Candi Borobudur ditutup sementara.

"Saat ini kawasan candi kembali tertutup abu vulkanik setelah menjalani proses pembersihan sebelumnya menyusul terjadi hujan abu dua hari berturut-turut pada Rabu dan Kamis lalu," katanya.

Ia belum bisa memastikan kapan Candi Borobudur akan dibuka kembali secara normal, karena erupsi Merapi hingga sekarang masih terjadi.

Tolak Zona Aman

Sementara Bupati Boyolali Seno Samudro mengatakan, dirinya menolak zona aman yang ditetapkan Badan Penelitian dan Pengembangan Teknologi Kegunungapian (BPPTK) sejauh 20 kilometer karena dirinya memiliki prosedur tersendiri penanganan pengungsi akibat erupsi Gunung Merapi.

"Kalau suruh mengungsi kami siap tetapi kalau ada pembatasan zona aman tentu saja kami tidak setuju karena justru membuat masyarakat menjadi panik," katanya pada wartawan di Boyolali, Sabtu.

Menurut dia, tidak perlu ada pembatasan delapan kilometer, 15 kilometer, atau 20 kilometer, mengingat kalau sudah merasa keamananannya terancam pasti masyarakat akan mengungsi ke tempat aman.

Ia mengatakan, dirinya sudah memiliki prosedur tetap penanganan pengungsi dan itu yang dilakukan untuk mengatasi pengungsi daerahnya.

"Kami tidak melakukan penjemputan masyarakat yang lereng Gunung Merapi secara paksa karena mengungsi adalah hak mereka. Kalau dipaksa tetapi tidak mau, ya terserah mereka saja," katanya.

Ditanya tentang jumlah pengungsi dari Kabupaten Boyalali, dia mengatakan, sampai Jumat (5/11) malam mencapai 33.400 orang, tetapi sampai Sabtu pagi bertambah dan kini sudah mencapai 40 ribu orang.

"Kami bantu sekuat tenaga untuk meringankan beban pengungsi dan kami tidak membatasi mereka mengungsi sampai kapan, yang terpenting kondisi aman terlebih dulu," katanya.

Dari RSUP dr.Soeradji Tirtonegoro dilaporkan, korban luka akibat letusan Gunung Merapi terus berdatangan dan hingga Sabtu pagi, 117 korban luka bakar mendapat perawatan di rumah sakit ini.

Staf Bagian Bumas RSUP dr. Soeradji Tirtonegoro, Rita Atmi menjelaskan korban luka masih didominasi warga asal Kecamatan Kemalang, Klaten, dan Kecamatan Cangkringan, Sleman, D.I. Yogyakarta.

Beberapa korban yang masuk pada Jumat malam, kata Rita, berasal dari Kecamatan Manisrenggo, Klaten.

Hampir 50 persen dari jumlah korban, urainya, mengalami luka bakar hingga mencapai 60 persen dari bagian tubuh. Mereka menjalani perawatan intensif di ruang perawatan khusus korban Merapi dan beberapa bangsal ruang inap lainnya.

Sedangkan di RSUD Pandanaran Kabupaten Boyolali, Jateng, sebanyak 60 pengungsi dirawat di rumah sakit ini karena terganggu kesehatannya akibat erupsi Gunung Merapi.

Kepala Bagian Umum RSUD Pandanaran Edy Kristawan didampingi Kepala Bagian Hukum, Humas, dan Satuan Informasi Masyarakat Sri Wibowo di Boyolali, Sabtu, mengatakan, jumlah ini meningkat dibanding hari sebelumnya sebanyak 48 orang.

Menurut dia, tidak ada pasien yang mengalami luka bakar akibat awan panas Merapi tetapi sebagian besar menderita gangguan saluran pernapasan, diare, dan demam.

"Kami tidak tahu apakah mereka datang langsung dari rumah atau sudah beberapa hari berada di tempat pengungsian, yang pasti mereka datang ke sini dan minta pengobatan, sudah pasti kami berikan," katanya.

Sementara Tim "Search and Rescue" Kabupaten Klaten, Jawa Tengah, belum dapat mengevakuasi korban erupsi Gunung Merapi di beberapa desa di kawasan rawan bencana karena kondisi gunung tersebut masih tidak pasti.

"Keselamatan tim evakuator menjadi pertimbangan utama untuk melakukan pencarian korban di lereng Merapi," kata Sekretaris Umum SAR Klaten Deni Nur Indragani di Klaten, Sabtu.

Pelaksanaan evakuasi, kata dia, akan diinstruksikan langsung oleh Komando Distrik Militer 0723 Klaten dengan pertimbangan pemantauan aktivitas Merapi oleh Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral .

"Hingga saat ini belum ada instruksi terkait pelaksanaan waktu evakuasi karena aktivitas Merapi masih belum dapat diprediksi dan masih ada kemungkinan terjadi erupsi dalam waktu dekat," katanya.

Bantuan Luar Negeri

Untuk memenuhi kebutuhan puluhan ribu pengungsi akibat letusan Gunung Merapi, bantuan terus berdatangan dari para dermawan baik swasta maupun pemerintah, sehingga bantuan dari luar negeri menurut Ketua Umum Palang Merah Indonesia Jusuf Kalla, belum diperlukan.

"Pemerintah dan PMI masih sanggup memenuhi kebutuhan pengungsi," kata Jusuf Kalla beserta rombongan PMI saat tiba di Bandara Ahmad Yani Semarang, Sabtu.

Ia mengatakan, sampai saat ini pihaknya tidak meminta bantuan dari luar negeri, namun juga tidak menolak kalau ada pihak yang memberikan bantuan.

"Kami akan coba penuhi semua kebutuhan pengungsi seperti bahan makanan dan obat-obatan," ujar mantan Wakil Presiden Respublik Indonesia itu.

Dalam kesempatan tersebut, Jusuf Kalla kembali menegaskan bahwa dirinya telah menginstruksikan jajaran PMI Daerah Istimewa Yogyakarta dan Jawa Tengah untuk memborong semua roti di Kota Yogyakarta, Klaten, Magelang, dan Boyolali.

"Setiap hari ada sekitar 50 ribu roti yang diberikan langsung kepada pengungsi di tempat-tempat pengungsian agar tidak kelaparan," katanya.

Ia mengatakan, PMI juga telah mendirikan lima instalasi air yang dipusatkan di Pakem, Kaliurang Yogyakarta untuk kebutuhan air bersih ribuan pengungsi.

"Selain itu, hari ini kami telah memberikan bantuan berupa empat mobil gunung untuk membantu evakuasi warga yang berada di lokasi yang sulit dijangkau," ujarnya.

Sementara Komisi VIII Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia akan membentuk tim pemantau untuk mengawasi pelaksanaan tanggap darurat bencana Gunung Merapi.

Ketua Komisi VIII DPR RI Abdul Kardir Karding, di Magelang, Sabtu, mengatakan, tim akan bertugas memantau dan memastikan tanggap darurat terlaksana dengan baik.

Saat mengunjungi pengungsian di Darul Arqam Muntilan, Kabupaten Magelang, bersama dua anggota Komisi VIII Nia Amania dan M Oheo Sinapoy, Abdul Kadir mengatakan, tim itu akan bertugas memantau dan memastikan tanggap darurat terlaksana dengan baik.

Menurut dia, tim tersebut baru akan efektif setelah rakor dengan Badan Nasional Penanggulangan Becana (BNPB) dan beberapa Kementerian Senin (8/11).

"Tim dibagi dalam tiga posko, yakni di Sleman, Magelang, dan Klaten, dengan koordinator tim saya di Magelang," katanya.

Dalam kunjungan tersebut, ketiga wakil rakyat tersebut menemukan sebanyak 370 pengungsi dari Desa Banyudono, Dukun, dan Ngadipuro di Kecamatan Dukun selama tiga hari belum mendapatkan logistik dari pemkab setempat.

Untuk keperluan makan dan minum, selama ini pengungsi hanya mengandalkan bantuan dari warga sekitar.

"Kami belum menerima logistik, karena belum terdata. Kami dianggap pengungsi liar. Padahal, kami benar-benar mengungsi," kata seorang pengungsi Widoyo.

Mengetahui hal tersebut, dia mengatakan seharusnya prosedur dan birokrasi, dikesampingkan dulu.

(M028/A030/S026)

Editor: Suryanto
Copyright © ANTARA 2010