CIPS: Keterlibatan swasta mampu perluas jangkauan vaksinasi

CIPS: Keterlibatan swasta mampu perluas jangkauan vaksinasi

Pelaksanaan vaksinasi merdeka yang digelar Pemerintah Provinsi NTB dalam rangka menyambut Hari Ulang Tahun ke-76 Republik Indonesia di Gedung Graha Bakti Praja Kantor Gubernur NTB di Mataram, Jumat (13/8/2021). ANTARA/Nur Imansyah/am.

Keterlibatan sektor swasta sangat penting untuk strategi ini karena program vaksinasi nasional butuh sumber daya yang masif yang tentunya akan sangat membebani APBN jika terus menerus ditanggung pemerintah saja
Jakarta (ANTARA) - Peneliti Center for Indonesian Policy Studies (CIPS) Andree Surianta menyampaikan bahwa keterlibatan swasta dalam proses vaksinasi dapat memperluas jangkauan vaksinasi COVID-19, terutama perlu diarahkan untuk membantu mengatasi terbatasnya pasokan vaksin secara global dan sulitnya distribusi domestik.

“Keterlibatan sektor swasta sangat penting untuk strategi ini karena program vaksinasi nasional butuh sumber daya yang masif yang tentunya akan sangat membebani APBN jika terus menerus ditanggung pemerintah saja," kata Andree pada seminar web bertajuk 'Indonesia Policy Dialogue', Jumat.

Andree mengatakan, bergantung kepada satu BUMN saja untuk pengadaan dan pendistribusian semua vaksin juga sangat berisiko.

Sumber daya dari sektor swasta harus dirangkul untuk membantu mengurangi tekanan pada sumber daya pemerintah dan membebaskannya untuk intervensi lain yang juga penting seperti memperbaiki komunikasi publik dan meningkatkan kapasitas pengujian dan pengujian (test and tracing).

Andree mengatakan, besarnya kebutuhan vaksin tanpa diiringi peningkatan jumlah pasokan berisiko memperburuk aksesibilitas dan mempersulit pemerataan. Apalagi ketika semua pasokan tersebut hanya bisa masuk ke Indonesia melalui satu jalur saja.

Seretnya pasokan vaksin global mengharuskan Indonesia untuk mulai memikirkan strategi vaksinasi yang berfokus kepada pertahanan daripada kecepatan.

Secara nasional, herd immunity bukan hanya perlu dicapai secepat mungkin tetapi juga semerata mungkin.

Kekebalan bisa memudar, jadi daerah yang mencapai herd immunity lebih cepat beresiko kembali terancam bila penularan masih marak di daerah tetangga.

Jika keserentakan antar wilayah sulit dipastikan, maka kantong-kantong imunitas wilayah harus dipertahankan sampai herd immunity nasional terbentuk.

"Tentu saja hal ini memerlukan pasokan vaksin yang memadai dan distribusi yang bebas hambatan," ungkap Andree.

Baca juga: Angka vaksinasi Jakarta capai 98,1 persen
Baca juga: Pasien COVID-19 berusia 100 tahun sembuh berkat perlindungan vaksin
Baca juga: Pemerintah tegaskan vaksinasi bukan syarat masuk tempat ibadah

 

Pewarta: Sella Panduarsa Gareta
Editor: Biqwanto Situmorang
COPYRIGHT © ANTARA 2021

Dinkes Kalbar gelar vaksinasi COVID-19 saat malam

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar